Wall Street Merah Terseret Gejolak Yield Treasury AS, Dow Anjlok Hampir 350 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham AS memerah pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (6/10/2026) WIB. Dow Jones Industrial Average anjlok 341,41 poin atau 0,66% menjadi 51.179,87. S&P 500 melemah 0,22% ke 7.801,77, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,22% menjadi 27.538,69.
Tekanan terhadap saham meningkat setelah yield Treasury 10 tahun mencapai 5,365% pada Rabu, level tertinggi sejak April 2002. Yield Treasury 30 tahun juga sempat menyentuh 5,732%, level tertinggi sejak Mei 2002.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Bergejolak, Yield Treasury 10-Y Sempat Tembus 5,35%
Namun, tekanan tersebut mereda setelah Departemen Keuangan AS berhasil menjual US$39 miliar surat utang Treasury 10 tahun dengan permintaan yang relatif kuat.
Penurunan yield setelah lelang membantu saham memangkas sebagian kerugiannya.
Bill Merz, kepala riset pasar modal di U.S. Bank Asset Management, mengatakan rasio bid-to-cover dan partisipasi investor tidak langsung dalam lelang tersebut tergolong kuat.
Menurut dia, terdapat minat investor terhadap obligasi dengan tingkat yield yang kini jauh lebih tinggi dibandingkan yang terbiasa mereka lihat dalam 15 hingga 20 tahun terakhir.
Namun, Merz mengingatkan bahwa investor tetap perlu mempertimbangkan berbagai faktor lain yang memengaruhi pasar.
Risalah The Fed turut menjadi perhatian investor. Risalah rapat September menunjukkan para pejabat bank sentral AS memperkirakan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun, meskipun belum memberikan sinyal kapan kenaikan tersebut akan dilakukan.
Baca Juga
Para pejabat menegaskan bahwa keputusan berikutnya akan bergantung pada data ekonomi yang masuk serta implikasinya terhadap prospek dan keseimbangan risiko.
Kenaikan yield menekan sejumlah sektor saham. Saham perbankan melemah karena investor khawatir suku bunga yang lebih tinggi dapat menghambat aktivitas kredit.
Saham Goldman Sachs dan Bank of America masing-masing turun sekitar 1%. Wells Fargo, Citigroup dan JPMorgan juga berakhir di zona merah.
Sektor teknologi turut terkena tekanan karena biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat membatasi investasi dalam pengembangan kecerdasan buatan atau AI.
Saham CrowdStrike turun hampir 5%, sementara Palo Alto Networks dan Meta Platforms masing-masing merosot lebih dari 3% dan 2%.
Margin Menyempit
Mike Dickson, kepala riset dan strategi kuantitatif di Horizon Investments, mengatakan kenaikan yield membuat ruang bagi perusahaan untuk menghasilkan kinerja laba yang kuat menjadi semakin sempit.
“Dengan tingkat suku bunga seperti sekarang dan kenaikan yang telah terjadi, saya pikir cukup tepat mengatakan bahwa margin error terkait laba telah menyempit,” beber Dickson, seperti dikutip CNBC.
Meski demikian, menurut Dickson, kinerja laba perusahaan masih berpotensi mendorong pasar saham lebih tinggi.
Ia juga menilai level yield saat ini memiliki dasar yang kuat, tetapi bukan berarti pergerakannya dapat diabaikan oleh investor.
Ekspektasi inflasi sejauh ini masih relatif terkendali. Namun, Dickson memperingatkan bahwa kenaikan yield akan menjadi lebih mengkhawatirkan apabila didorong oleh ekspektasi inflasi yang mulai tidak terkendali.
Di pasar komoditas, harga minyak AS ditutup turun 1,3% menjadi US$88,28 per barel. Brent, patokan minyak global, berakhir di US$100,20 per barel, turun 0,4%.
S&P 500 sebelumnya berhasil ditutup di atas level 7.800 untuk pertama kalinya pada Selasa, didorong kenaikan saham-saham pembuat chip.
Koreksi pada Rabu menunjukkan bahwa meskipun optimisme terhadap AI dan laba perusahaan masih menopang saham, lonjakan yield Treasury kini menjadi salah satu risiko utama yang harus diperhitungkan investor.
