Data Tenaga Kerja AS Angkat Wall Street, Dow Melonjak 250 Poin, Nasdaq Sentuh Rekor ‘Intraday’
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (3/10/2026) WIB. Data ketenagakerjaan September yang lebih lemah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Indeks Dow Jones Industrial Average naik 250 poin atau 0,5% menjadi 51.176,46. Indeks S&P 500 menguat 0,7% atau bertambah 56,27 poin ke level 7.722,72. Sementara itu, Nasdaq Composite melonjak 1,2% atau 319,27 poin menjadi 27.190,86.
Nasdaq sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan intraday sebelum kehilangan sebagian penguatannya seiring kenaikan kembali imbal hasil US Treasury.
Baca Juga
Meski menguat pada akhir pekan, pergerakan ketiga indeks utama Wall Street sepanjang pekan masih bervariasi. Dow Jones mencatat penurunan sekitar 1,3% dalam sepekan. S&P 500 juga melemah 0,3%, sedangkan Nasdaq justru menguat 0,6% dan mencatat kenaikan selama tiga sesi berturut-turut.
Laporan ketenagakerjaan terbaru menjadi katalis utama penguatan pasar saham. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa perekonomian hanya menambah 29.000 pekerjaan pada September, jauh di bawah ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones sebesar 84.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran juga meningkat menjadi 4,2% dari 4,1% pada bulan sebelumnya.
Data tersebut memicu perubahan ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter AS. Pasar menilai pelemahan perekrutan tenaga kerja dapat mengurangi kebutuhan The Fed untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, kontrak berjangka suku bunga menunjukkan peluang sekitar 77% bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Chief Market Strategist Osaic Phil Blancato menilai laporan tersebut memberikan gambaran yang relatif sesuai dengan kondisi yang diharapkan investor.
"Ini merupakan jenis angka ketenagakerjaan yang tepat seperti yang diinginkan pasar. Tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, tidak terlalu bagus, tetapi juga tidak menunjukkan pelemahan yang berlebihan," beber Blancato, dikutip CNBC.
Respons positif pasar menunjukkan bahwa investor melihat perlambatan perekrutan sebagai faktor yang berpotensi mendukung kebijakan moneter lebih longgar tanpa langsung menandakan kemerosotan ekonomi yang tajam.
Namun, perkembangan yield obligasi tetap menjadi perhatian. Imbal hasil Treasury sempat turun setelah laporan ketenagakerjaan dirilis, tetapi kemudian kembali meningkat sehingga membatasi penguatan indeks saham dari level tertingginya.
Saham Teknologi Memimpin, Nvidia Cetak Rekor
Sektor teknologi menjadi salah satu penggerak utama penguatan Wall Street pada perdagangan Jumat.
Baca Juga
Wall Street Menguat Ditopang Saham Teknologi, Tekanan Yield Obligasi Mereda
Saham Nvidia mencatat rekor tertinggi sepanjang masa untuk pertama kalinya sejak Mei. Namun, saham perusahaan semikonduktor tersebut akhirnya ditutup di bawah rekor harga penutupan sebelumnya.
Selain Nvidia, sejumlah saham teknologi dan keamanan siber juga mencatat rekor tertinggi.
CrowdStrike dan Palo Alto Networks mencapai level tertinggi sepanjang masa. Saham Advanced Micro Devices (AMD) turut menguat hampir 3% dan mencatat rekor harga tertinggi.
Kenaikan saham teknologi memperlihatkan kembali meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah data ketenagakerjaan membuka peluang bahwa suku bunga tidak akan kembali naik dalam waktu dekat.
Pergerakan ini juga menunjukkan bahwa saham-saham perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), komputasi, dan infrastruktur digital masih menjadi perhatian investor.
Meski demikian, penguatan sektor teknologi tetap berlangsung di tengah ketidakpastian mengenai arah suku bunga dan perkembangan ekonomi AS.
Tunggu Musim Laporan Keuangan
Selain kebijakan moneter, perhatian investor mulai beralih ke musim publikasi laporan keuangan perusahaan yang akan berlangsung dalam beberapa pekan mendatang.
Chief Investment Officer Nuveen Saira Malik mengatakan laporan ketenagakerjaan terbaru dapat memberikan dukungan bagi pasar menjelang dimulainya musim laporan keuangan.
Ia memperkirakan musim laporan keuangan kali ini akan menunjukkan kinerja yang sangat kuat.
"Menurut saya, ini bisa menjadi awal dari reli Santa Claus yang selama ini kita harapkan," kata Malik kepada CNBC.
Istilah Santa Claus rally merujuk pada kecenderungan pasar saham yang menguat menjelang akhir tahun, meskipun pola tersebut tidak selalu terjadi setiap tahun.
Ekspektasi terhadap kinerja emiten menjadi salah satu faktor penting karena investor perlu menilai apakah pertumbuhan laba perusahaan mampu menopang valuasi saham di tengah suku bunga yang masih tinggi.
Di sisi lain, harga minyak yang kembali terkoreksi memberikan dukungan tambahan terhadap pasar saham. Penurunan harga energi berpotensi mengurangi tekanan biaya produksi dan inflasi.
Pelemahan harga minyak terjadi setelah muncul laporan bahwa sejumlah negara Eropa mempertimbangkan pelepasan cadangan bahan bakar strategis menyusul tekanan pemerintahan Trump untuk mengatasi kekurangan pasokan diesel.
Sebelumnya, Wall Street memulai Oktober dengan penguatan terbatas pada Kamis. S&P 500 naik 0,19% menjadi 7.666,45, Nasdaq Composite bertambah 0,04% menjadi 26.871,60, dan Dow Jones menguat 0,04% ke 50.926,56.
Namun, tekanan pasar obligasi global sepanjang pekan tetap menjadi perhatian investor. Lonjakan yield Treasury dan obligasi pemerintah negara-negara utama meningkatkan biaya pendanaan serta menambah ketidakpastian terhadap prospek pasar saham.
Dengan demikian, penguatan Wall Street pada Jumat didorong oleh kombinasi data ketenagakerjaan yang lebih lemah, perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan saham teknologi, serta harapan terhadap kinerja emiten.
