Pasar Obligasi AS Bergejolak, Yield Treasury 10-Tahun Kembali Tembus 5%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali bergerak naik. Investor terus mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Yield Treasury AS 10 tahun, yang menjadi acuan pasar global, kembali menembus level 5% pada Jumat (18/9/2026). Yield obligasi yang menjadi acuan pasar global itu naik lebih dari 5 basis poin menjadi 5,006%.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Merosot di Bawah 5%, Pasar Cerna Kebijakan The Fed
Kenaikan juga terjadi pada tenor pendek dan panjang. Yield Treasury 2 tahun naik 7 basis poin menjadi 4,76%, sedangkan yield obligasi Treasury 30 tahun bertambah lebih dari 3 basis poin menjadi 5,331%.
Pergerakan tersebut terjadi setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed berakhir pada Rabu dengan keputusan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam tiga tahun.
Kenaikan sebesar 25 basis poin tersebut sekaligus disertai sinyal bahwa bank sentral AS masih membuka ruang untuk pengetatan moneter lebih lanjut.
Investor kini berusaha membaca seberapa jauh siklus kenaikan suku bunga The Fed akan berlanjut. Perhatian terutama tertuju pada proyeksi para pejabat bank sentral mengenai suku bunga ke depan.
Ketua The Fed Kevin Warsh mengatakan dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan pada level tersebut terlalu lama.
Data dot plot The Fed juga menunjukkan mayoritas pejabat memperkirakan masih akan terjadi setidaknya satu kenaikan suku bunga lagi.
Menariknya, yield Treasury sempat turun di berbagai tenor setelah pengumuman kenaikan suku bunga pada Rabu. Penurunan tersebut mencerminkan respons awal pasar terhadap pesan bahwa The Fed tetap kredibel dalam memerangi inflasi.
Menurut Angelo Kourkafas, senior global strategist investment strategy di Edward Jones, penurunan yield obligasi jangka panjang setelah kenaikan suku bunga menunjukkan pasar menilai keputusan tersebut memperkuat kredibilitas dan independensi The Fed dalam mengendalikan inflasi.
"Kenaikan suku bunga memperkuat kredibilitas The Fed dalam memerangi inflasi dan independensinya," ujar Kourkafas, dilansir CNBC.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat ekspektasi inflasi jangka panjang berbasis pasar ikut mereda dan masih sejalan dengan kemungkinan The Fed mencapai target inflasinya dalam jangka panjang.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Namun, kenaikan kembali yield pada Jumat menunjukkan pasar belum sepenuhnya terbebas dari tekanan suku bunga.
Yield Treasury menjadi salah satu indikator utama biaya pendanaan global. Kenaikan yield, terutama ketika terjadi bersamaan dengan kenaikan harga minyak, dapat meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan mempersempit ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Dengan The Fed baru memulai kembali siklus kenaikan suku bunga setelah jeda tiga tahun, investor kini menghadapi prospek suku bunga yang lebih tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan pergerakan pasar obligasi, saham, dolar AS, dan aset berisiko dalam beberapa bulan mendatang.
