Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 5%, Pasar Tunggu Keputusan The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury 10 tahun sempat menembus level psikologis 5%, sebelum kembali turun. Pergerakan itu terjadi ketika investor bersiap menghadapi keputusan suku bunga Federal Reserve atau The Fed yang akan berlangsung pekan ini.
Yield Treasury 10 tahun terakhir naik lebih dari 1 basis poin menjadi 4,987%, Senin (14/9/2026). Sebelumnya, yield treasury yang menjadi acuan penting bagi suku bunga hipotek, kredit kendaraan hingga kartu kredit, itu sempat mencapai 5,014%, level tertinggi sejak Oktober 2023.
Baca Juga
Inflasi Hantui Pasar Obligasi AS, Yield US Treasury 10-Tahun Melejit Dekati 5%
Sementara itu, yield Treasury 2 tahun yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter The Fed naik lebih dari 1 basis poin menjadi 4,658%. Yield tenor ini sebelumnya telah menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024. Yield Treasury 30 tahun turun kurang dari 1 basis poin menjadi 5,353%.
Pergerakan pasar obligasi terjadi setelah data inflasi konsumen Amerika Serikat untuk Agustus dirilis, yang sesuai dengan perkiraan pasar. Namun, inflasi masih berada jauh di atas target The Fed sebesar 2% dan telah bertahan di atas target tersebut selama sekitar lima tahun.
Data inflasi Agustus juga menjadi indikator inflasi terakhir yang akan diterima The Fed sebelum menggelar rapat kebijakan pada Selasa dan Rabu pekan ini.
Pasar kini hampir sepenuhnya memperkirakan kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 92,3%.
"Menaikkan suku bunga akan menjadi keputusan yang lebih bersih berdasarkan data dan ekspektasi pasar saat ini," kata Jay Woods, chief market strategist di Freedom Capital Markets, dikutip CNBC.
Menurut Woods, pasar kemungkinan telah memperhitungkan kenaikan tersebut. Karena itu, keputusan menaikkan suku bunga justru berpotensi mendorong reli saham. Sebaliknya, jika The Fed mempertahankan suku bunga, pasar dapat bereaksi negatif karena keputusan tersebut bisa dianggap sebagai tanda bahwa bank sentral kembali tertinggal dalam mengendalikan inflasi.
Yield 5% Jadi Perhatian
Level 5% pada Treasury 10 tahun menjadi perhatian besar investor. Jika yield kembali bergerak melewati 5,02%, level tersebut akan menjadi yang tertinggi sejak Juli 2007, sebelum krisis keuangan global 2008-2009.
Namun, kenaikan yield tidak selalu berarti kabar buruk bagi perekonomian maupun pasar saham. Dampaknya sangat bergantung pada penyebab kenaikan tersebut.
Jika yield meningkat karena pertumbuhan ekonomi yang kuat, kondisi itu masih dapat ditoleransi pasar. Sebaliknya, jika kenaikan dipicu oleh inflasi yang kembali menguat, defisit fiskal yang membesar, penerbitan utang yang masif atau tekanan di pasar Treasury, risikonya jauh lebih besar.
Jason Ware, chief investment officer Albion Financial Group, mengatakan kenaikan yield belakangan ini antara lain mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Pemerintah AS dan perusahaan-perusahaan korporasi menerbitkan utang dalam jumlah besar pada saat yang sama sehingga harus bersaing mendapatkan dana investor.
Ware tidak memperkirakan pasar akan runtuh hanya karena yield Treasury 10 tahun melewati 5%. Menurut dia, ekonomi AS masih cukup tangguh dan inflasi inti relatif stabil.
"Yield yang lebih tinggi tidak selalu bearish jika disertai pertumbuhan ekonomi yang sehat," ujarnya.
Menurut Ware, pasar saham justru lebih rentan terhadap pelemahan belanja konsumen atau investasi artificial intelligence (AI) dibandingkan sekadar menembusnya yield Treasury 10 tahun ke atas level 5%.
Namun, level tersebut dapat menjadi masalah jika investor mulai meminta kompensasi lebih tinggi untuk menghadapi risiko inflasi dan fiskal.
Defisit anggaran federal yang besar, penerbitan utang yang tinggi dan inflasi yang sulit turun telah mendorong kenaikan term premium, yakni tambahan imbal hasil yang diminta investor untuk memegang obligasi jangka panjang dibandingkan terus memperpanjang investasi pada surat utang jangka pendek.
Kenaikan harga minyak mentah juga menambah risiko tekanan inflasi.
Upaya Bessent Terbatas
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya berupaya meredam tekanan pada obligasi berjangka panjang melalui perluasan program pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah.
Baca Juga
Yield Treasury Naik, Program ‘Buyback’ Bessent Gagal Redam Gejolak di Pasar Obligasi AS
Namun, langkah tersebut dinilai memiliki kemampuan terbatas untuk menahan kenaikan yield jika faktor fundamental terus mendorong imbal hasil lebih tinggi.
Ahli strategi BMO Capital Markets menilai program buyback yang lebih agresif dapat membantu mengurangi tekanan jual. Namun, kebijakan tersebut tidak menyelesaikan faktor fundamental yang menjadi sumber tekanan kenaikan yield Treasury 10 tahun dan 30 tahun.
Risiko yang lebih serius akan muncul jika lonjakan yield berlangsung secara tidak teratur akibat tekanan dari pasar Treasury itu sendiri.
George Awad, principal di Gibraltar Capital, menyoroti besarnya eksposur hedge fund berleverage dalam pasar Treasury, termasuk strategi perdagangan yang memanfaatkan selisih harga antara obligasi tunai dan kontrak berjangka.
Kenaikan biaya pendanaan, persyaratan margin atau volatilitas yang lebih tinggi dapat memaksa investor berleverage menutup posisi secara bersamaan. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan jual di pasar obligasi.
Untuk saat ini, investor masih terlihat mampu menerima yield yang lebih tinggi. BMO mencatat pelemahan saham masih relatif terbatas, sementara indeks S&P 500 masih menguat lebih dari 11% sepanjang tahun meskipun yield Treasury 10 tahun mengalami lonjakan.
