Harga Minyak Bergolak Dipicu Eskalasi Konflik AS-Iran, Brent Menuju US$ 120?
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak terus bergolak dipicu eskalasi konflik AS-Iran. Minyak mentah Amerika Serikat kembali menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan global dan lalu lintas kapal tanker di Timur Tengah.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) melonjak 6,7% dan ditutup pada US$102,48 per barel pada Kamis (10/9/2026), level penutupan tertinggi sejak 19 Mei. Brent, patokan minyak dunia, naik 6,3% menjadi US$107,63 per barel.
Baca Juga
Timur Tengah Membara, Hormuz Makin Sepi, Minyak Brent Tembus US$101
Reuters melaporkan lonjakan tersebut merupakan kenaikan harian terbesar dalam hampir dua bulan. Pasar semakin khawatir bahwa gangguan pengiriman minyak melalui kawasan Timur Tengah bukan lagi sekadar gangguan sementara.
Sepanjang September, harga minyak telah melonjak lebih dari 18%, mencerminkan meningkatnya kekhawatiran bahwa perang AS-Iran akan berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Perhatian terbesar investor tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang pada kondisi normal mengalirkan sekitar seperlima minyak dunia. Eskalasi serangan terhadap kapal tanker meningkatkan risiko semakin banyak kapal menghindari kawasan tersebut, sehingga mempersempit pasokan yang tersedia di pasar global.
Goldman Sachs memperingatkan harga minyak dapat melonjak hingga US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal-kapal di Timur Tengah semakin meluas dan intensif. “Perkembangan beberapa hari terakhir menunjukkan risiko gangguan pelayaran yang meluas telah meningkat secara signifikan,” kata Daan Struyven, co-head of global commodities research Goldman Sachs, dalam acara CNBC, Kamis (10/9/2026).
Reuters juga melaporkan Goldman melihat risiko gangguan pasokan yang signifikan jika serangan terhadap pelayaran terus meningkat. Sebaliknya, jika ekspor minyak kawasan kembali normal, harga dapat turun menuju sekitar US$80 per barel.
Situasi di lapangan semakin kompleks. Serangan dan aksi balasan antara Washington dan Teheran telah meluas ke jalur pelayaran. Pasukan AS menyerang kapal tanker Iran, sementara Iran merespons dengan meningkatkan tekanan terhadap kapal-kapal di kawasan.
Di saat yang sama, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman kembali meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi dan sasaran lain di Arab Saudi. Perkembangan tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik mulai melebar dari perang bilateral AS-Iran menjadi krisis energi regional.
Tekanan terhadap Inflasi
Dampaknya mulai terasa di luar pasar minyak. Harga bensin Amerika Serikat telah mendekati US$4,28 per galon, naik sekitar 34% dibandingkan setahun sebelumnya. Associated Press melaporkan lonjakan harga energi juga meningkatkan tekanan inflasi dan ikut menekan pasar saham AS.
Kenaikan harga minyak juga memperumit kebijakan Federal Reserve. Inflasi energi yang lebih tinggi dapat menghambat proses disinflasi dan meningkatkan kemungkinan bank sentral AS mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga lebih tinggi.
Pasar obligasi juga mulai merefleksikan risiko tersebut. Associated Press melaporkan imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun mencapai 4,95%, level tertinggi sejak 2023, di tengah meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10-Tahun Sentuh 4,85%, Buyback US$ 6 Miliar Tak Mampu Redam Gejolak Pasar
Di pasar saham, tekanan juga mulai terlihat. Pada Kamis, 10 September, S&P 500 turun 0,6%, Dow Jones Industrial Average melemah 0,6%, dan Nasdaq Composite turun 0,7%. Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi menjadi salah satu faktor utama yang membebani Wall Street.
Ancaman terbesar bagi pasar bukan semata-mata harga minyak yang tinggi, melainkan durasi gangguan pasokan.
Jika konflik segera mereda dan pelayaran melalui Selat Hormuz kembali normal, premi risiko geopolitik dapat menghilang dengan cepat. Namun, jika serangan terhadap kapal tanker terus berlangsung, perusahaan pelayaran dapat semakin menghindari kawasan tersebut dan memperbesar gangguan pasokan fisik.
Goldman Sachs bahkan memperkirakan gangguan pelayaran dapat bertahan hingga 2027 dalam skenario dasarnya. Dalam skenario yang lebih buruk, ketika ekspor minyak regional tetap terbatas, harga minyak dapat rata-rata mencapai sekitar US$120 per barel pada 2027.
Dengan harga Brent yang sudah menembus US$107, risiko baru bagi ekonomi global mulai terbentuk. Minyak mahal dapat mengerek biaya transportasi, listrik, manufaktur dan pangan sekaligus mempersempit ruang gerak bank-bank sentral untuk memangkas suku bunga.
Bagi pasar global, pertanyaan terbesar kini bukan lagi apakah minyak bisa menembus US$100 karena level itu sudah terlewati. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa lama minyak akan bertahan di atas US$100 dan apakah eskalasi di Selat Hormuz akan mendorong Brent menuju US$120.
