Indeks Dow Terbang Lebih dari 500 Poin, tapi Wall Street Catat Kerugian Mingguan
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Jumat atau Sabtu (22/8/2026) WIB. Wall Street mencoba bangkit setelah aksi jual tajam yang dipicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury yield).
Indeks S&P 500 naik 0,43% menjadi 7.674,37. Nasdaq Composite juga menguat 0,43% ke level 26.180,45.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu Lonjakan Yield Obligasi AS, Dow Anjlok Lebih 700 Poin
Penguatan terbesar terjadi pada Dow Jones Industrial Average yang melonjak 517,80 poin atau 0,98% dan ditutup di 53.277,01. Kenaikan Dow antara lain ditopang saham sektor kesehatan seperti Merck dan Johnson & Johnson.
Sektor keuangan juga memberikan dorongan bagi pasar secara keseluruhan. Saham-saham yang berkaitan dengan aset kripto mencatat kenaikan signifikan seiring harga bitcoin membukukan kenaikan mingguan 22%.
Saham Robinhood melonjak hampir 14%, sedangkan Coinbase menguat 8%. Sektor material juga mencatat kinerja positif dengan kenaikan sekitar 2% pada perdagangan Jumat.
Namun, penguatan tersebut belum mampu menghapus kerugian Wall Street sepanjang pekan.
Tekanan terhadap pasar kembali meningkat setelah Treasury yield melanjutkan kenaikannya, meskipun pemerintah AS sebelumnya berupaya meredam aksi jual di pasar obligasi.
Obligasi, terutama surat utang dengan tenor panjang, berada di bawah tekanan karena investor mengkhawatirkan kenaikan inflasi akibat harga minyak yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, S&P 500 anjlok 1,4% sepanjang pekan, sedangkan Nasdaq turun 2%. Kedua indeks tersebut sekaligus mengakhiri tren kenaikan selama tiga pekan berturut-turut.
Dow juga melemah 0,9% sepanjang pekan dan mencatat kerugian mingguan untuk kedua kalinya secara beruntun.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham AS. MSCI All Country World Index, yang mencerminkan kinerja saham global, turun hampir 1% sepanjang pekan.
Yield Treasury Jadi Perhatian
Kenaikan imbal hasil Treasury kembali menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor.
Pada Jumat, yield Treasury 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin menjadi 4,734%. Sementara yield Treasury 30 tahun juga meningkat lebih dari 3 basis poin menjadi 5,273%.
Leo Kelly, pendiri sekaligus CEO Verdence Capital Advisors, memperkirakan pasar saham masih menghadapi risiko pelemahan lebih lanjut, khususnya jika kenaikan Treasury yield berlanjut dan ketegangan di Timur Tengah tidak mereda.
Menurut Kelly, pasar saat ini telah beradaptasi dengan yield Treasury 10 tahun pada kisaran 4%-5%. Namun, kondisi akan menjadi jauh lebih bermasalah apabila terjadi lonjakan hingga kisaran 6%-7%.
"Jika terjadi suatu peristiwa dan pasar menembus level tersebut hingga mencapai 6%-7% pada Treasury 10 tahun, itu menjadi masalah, dan pasar akan bereaksi buruk," kata Kelly, dikutip CNBC.
Perhatian investor kini beralih ke pekan depan, khususnya pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh dalam Jackson Hole Economic Policy Symposium.
Baca Juga
The Fed Tak Beri Petunjuk Arah Suku Bunga, Pasar Obligasi Bereaksi Negatif
Investor akan mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter AS, suku bunga, kondisi pasar obligasi, serta isu independensi bank sentral.
Dengan inflasi yang masih menjadi perhatian dan harga minyak berada pada level tinggi akibat konflik Iran-AS, arah Treasury yield akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah tekanan terhadap pasar saham akan berlanjut.

