Yield Obligasi AS 30-Tahun Tembus 5,33%, Ini Pemicunya
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id — Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor 30 tahun sempat menembus 5,33% pada Selasa (18/8/2026). Kenaikan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal AS, inflasi yang masih tinggi, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Setelah menembus 5,33%, yield Treasury 30 tahun kemudian turun lebih dari 2 basis poin menjadi sekitar 5,285%. Namun, level tersebut tetap berada di sekitar titik tertinggi dalam 19 tahun terakhir.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 30-Tahun Lampaui 5,31%, Tertinggi dalam 19 Tahun
Imbal hasil Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan penting bagi suku bunga hipotek, pinjaman kendaraan dan utang kartu kredit, turun lebih dari 1 basis poin menjadi 4,706%. Sementara yield Treasury 2 tahun bergerak turun kurang dari 1 basis poin menjadi 4,175%.
Tekanan terhadap pasar obligasi meningkat setelah pemerintah AS melaporkan defisit anggaran sebesar US$432,3 miliar pada Juli. Angka tersebut menjadi defisit bulanan terbesar sejak Maret 2021.
Dengan tambahan tersebut, defisit anggaran AS sepanjang tahun berjalan mendekati US$1,8 triliun. Pada saat yang sama, biaya pembayaran bunga untuk membiayai utang nasional AS yang hampir mencapai US$40 triliun telah menelan sekitar US$1,2 triliun sepanjang tahun ini.
Kondisi fiskal tersebut menjadi salah satu perhatian utama investor karena peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah dapat meningkatkan pasokan Treasury di pasar dan pada akhirnya mendorong yield lebih tinggi.
Dari sisi inflasi, sejumlah data terbaru menunjukkan kenaikan harga secara keseluruhan relatif rendah pada Juni dan Juli. Namun, tingkat inflasi tahunan masih berada jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Tekanan inflasi juga kembali mendapatkan perhatian setelah harga minyak meningkat di tengah memburuknya prospek penyelesaian konflik AS-Iran.
Batas waktu 60 hari bagi AS dan Iran untuk mencapai kesepakatan perdamaian berakhir pada Senin tanpa perpanjangan. Iran juga menolak kemungkinan memperpanjang tenggat tersebut. Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan mengambil sikap ofensif apabila diplomasi dengan Washington gagal.
Baca Juga
Minyak Brent Tembus US$ 90, Iran Tolak Perpanjangan Kesepakatan dengan AS
“Pasar mengalami pelemahan dalam 24 jam terakhir, tercermin dari penurunan obligasi dan saham akibat perkembangan geopolitik negatif di Timur Tengah,” tulis Jim Reid dari Deutsche Bank dalam catatan yang dikutip CNBC.
Menurut Reid, tidak ada satu katalis tunggal yang memicu pelemahan pasar. Namun, minimnya tanda-tanda tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran membuat investor memperhitungkan kemungkinan penutupan Selat Hormuz yang lebih lama.
Kekhawatiran mengenai inflasi kembali mendorong biaya pinjaman pemerintah di berbagai negara. Sejumlah obligasi pemerintah dengan tenor panjang bahkan mencatat yield tertinggi dalam beberapa dekade.
Di Jepang, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai level tertinggi dalam 30 tahun. Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2011, sedangkan yield obligasi pemerintah Prancis tenor 30 tahun naik ke level tertinggi sejak 2008. Yield obligasi pemerintah Inggris juga meningkat.
Sementara itu, data ekonomi AS menunjukkan harga impor turun 0,4% pada Juli. Penurunan tersebut berlawanan dengan ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memperkirakan kenaikan 0,1%.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pasar obligasi global kini menghadapi kombinasi tekanan fiskal, inflasi dan geopolitik. Bagi investor, kenaikan yield obligasi jangka panjang menjadi sinyal bahwa biaya pembiayaan pemerintah maupun sektor swasta berpotensi tetap tinggi dalam waktu lebih lama.

