Minyak Brent Tembus US$ 90, Iran Tolak Perpanjangan Kesepakatan dengan AS
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah melonjak, dengan Brent kembali menembus level US$90 per barel. Iran dan Amerika Serikat menutup kemungkinan memperpanjang nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) yang dirancang untuk meredakan konflik kedua negara.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 2,7% menjadi US$90,87 per barel pada perdagangan Senin (17/8/2026). Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 2,6% ke US$84,50 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran yang ditandatangani pada 17 Juni 2026 dijadwalkan berakhir pada Senin. Kesepakatan tersebut semula dimaksudkan untuk membuka kembali Selat Hormuz sembari kedua negara merundingkan kesepakatan final terkait program nuklir Iran dalam waktu 60 hari.
Namun, Iran menegaskan tidak ada pembicaraan mengenai perpanjangan kesepakatan tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei, menurut kantor berita Tasnim, mengatakan Teheran tidak pernah memulai negosiasi perpanjangan MOU. Iran juga menilai Amerika Serikat telah melanggar kesepahaman tersebut sejak awal.
"Kami sama sekali belum memulai negosiasi, dan AS melanggar kesepahaman tersebut sejak awal; oleh karena itu, persoalan 60 hari tidak relevan," kata Baghaei seperti dikutip Tasnim.
Ketegangan meningkat setelah seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran akan mengubah pendekatannya dari bertahan menjadi ofensif apabila diplomasi dengan Amerika Serikat gagal.
Pejabat tersebut memperingatkan bahwa Iran harus bersiap menghadapi eskalasi ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan yang lebih luas.
"Entitas-entitas Iran harus bersiap untuk meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan kawasan yang lebih luas," kata pejabat itu kepada Reuters, seraya menegaskan Iran siap mengambil keputusan sulit.
Presiden AS Donald Trump juga meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mendesak Iran untuk menyerah dan bahkan mengancam akan menyerang Oman, sekutu AS, jika negara tersebut menghalangi upaya Washington terkait pengelolaan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.
Trump kemudian mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa pemerintahannya tidak akan mencari perpanjangan gencatan senjata dengan Iran.
Ancaman tersebut menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Lalu lintas kapal di selat tersebut hampir terhenti pada Minggu. Data Kpler menunjukkan hanya tiga kapal yang melintasi Hormuz, jauh di bawah rata-rata lima hari yang mencapai 12 kapal per hari.
Sebelum perang pecah pada 28 Februari, sekitar 130 kapal melintasi selat tersebut dalam kondisi normal.
Kondisi tersebut berpotensi kembali memberikan tekanan besar terhadap harga minyak apabila ketegangan meningkat dan gangguan terhadap arus perdagangan energi berlanjut.
Presiden Rapidan Energy Bob McNally memperkirakan harga Brent berpotensi kembali bergerak menuju US$100 per barel, terutama jika China mulai meningkatkan kembali impor minyaknya.
Baca Juga
Hindari Serangan Houthi, Arab Saudi Alihkan Ekspor Minyak Lewat Mediterania
Menurut McNally, China sebelumnya memangkas impor minyak sekitar 4 juta barel per hari menjadi sekitar 5 juta barel per hari. “Penurunan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu menahan kenaikan harga minyak selama perang Iran,” kata McNally kepada CNBC.
Namun, Beijing diperkirakan akan memberikan ruang lebih besar kepada kilang-kilang domestiknya untuk meningkatkan impor karena harga produk olahan minyak yang tinggi dapat memberikan keuntungan.
Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi kombinasi risiko geopolitik, potensi gangguan Selat Hormuz dan kemungkinan peningkatan permintaan dari China. Ketiga faktor tersebut dapat menjadi pemicu baru bagi kenaikan harga minyak global.

