Harga Minyak Turun, AS Klaim Ekspor via Selat Hormuz Capai 9 Juta Barel per Hari
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia turun setelah Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengatakan arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah perkiraan independen.
Baca Juga
Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Perang Berlanjut, Ekonomi Iran Kian Tertekan
Dikutip dari CNBC, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,4% dan ditutup pada US$81,25 per barel pada perdagangan Kamis (13/8/2026). Sementara minyak mentah Brent, patokan global, melemah sekitar 2% menjadi US$87,07 per barel.
Meski terkoreksi, harga minyak masih menguat sekitar 4% sepanjang pekan ini karena kesepakatan antara Washington dan Teheran untuk meningkatkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz belum juga terwujud.
Wright mengatakan rata-rata ekspor minyak melalui Selat Hormuz selama tujuh hari terakhir telah mendekati 9 juta barel per hari (bpd). Jika ditambah aliran minyak melalui jaringan pipa, total ekspor dari kawasan Teluk mencapai sekitar 15 juta bpd.
Angka tersebut masih jauh di bawah kondisi sebelum perang, ketika sekitar 20 juta bpd minyak dan produk minyak bumi melewati Selat Hormuz.
Namun, angka yang disampaikan Wright jauh lebih tinggi dibandingkan estimasi sejumlah perusahaan independen.
TD Securities, misalnya, memperkirakan ekspor melalui Hormuz hanya sekitar 5 juta bpd. Angka tersebut dinilai masih jauh dari tingkat yang dibutuhkan pasar.
"Angka tersebut masih jauh dari cukup untuk pasar," kata Ryan McKay, direktur strategi komoditas TD Securities, dalam catatan analisisnya.
Klaim AS
Wright mengatakan Departemen Energi dan militer AS memiliki "data terbaik yang tersedia" mengenai minyak mentah dan produk minyak yang keluar dari kawasan Teluk Arab.
Menurut dia, sejumlah perusahaan swasta kemungkinan meremehkan jumlah kapal yang meninggalkan Selat Hormuz karena sebagian kapal bergerak secara terselubung di jalur tersebut.
Pernyataan itu menjadi penting karena sulitnya memantau lalu lintas kapal secara akurat sejak konflik di kawasan Teluk meningkat. Sejumlah kapal tanker bahkan mematikan transponder atau mengubah pola pelayaran untuk menghindari risiko serangan.
Perbedaan data tersebut membuat pelaku pasar menghadapi ketidakpastian mengenai berapa banyak minyak yang benar-benar berhasil keluar dari kawasan Teluk dan masuk ke pasar global.
Pasokan Global Tertekan
Di tengah ketidakpastian mengenai arus minyak melalui Hormuz, pasar global juga menghadapi penurunan pasokan.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia tahun ini akan turun 1,6 juta bpd. Angka tersebut 510.000 bpd lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.
IEA mengatakan konflik baru di kawasan Teluk telah mengganggu upaya meningkatkan pasokan minyak global.
Produksi global pada Juli tercatat 6,3 juta bpd lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya. Sekitar 8,3 juta bpd produksi minyak dari kawasan Teluk dilaporkan berhenti akibat konflik.
Kondisi tersebut berpotensi menjadi faktor pendukung harga minyak apabila gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
Namun, penurunan permintaan global dapat mengimbangi sebagian tekanan tersebut. Pasar kini harus menimbang dua kekuatan yang berlawanan: pasokan yang terganggu dan konsumsi minyak yang diperkirakan melemah.
Situasi keamanan di Timur Tengah juga belum menunjukkan tanda-tanda stabil.
Baca Juga
Iran Perketat Syarat Pembukaan Hormuz, Harga Minyak Kembali Melonjak
Serangan terhadap kapal dilaporkan terjadi di Teluk Oman dan Laut Merah sepanjang pekan ini. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran juga mengklaim pada Kamis telah menargetkan sebuah kilang minyak di wilayah Jizan, Arab Saudi, menggunakan drone.
Sementara itu, Iran dan AS masih saling bertolak belakang mengenai siapa yang mengendalikan Selat Hormuz.
Teheran menyatakan telah menutup selat tersebut dan baru akan membukanya kembali setelah Washington memenuhi tuntutannya. Presiden AS Donald Trump sebaliknya mengklaim bahwa AS memiliki kendali penuh atas Hormuz.
Pemerintahan Trump sebelumnya mengisyaratkan kemungkinan kesepakatan dengan Iran untuk meningkatkan lalu lintas kapal melalui selat tersebut. Namun, hingga kini kesepakatan itu belum terealisasi.
Amos Hochstein, mantan penasihat energi Presiden AS Joe Biden, mengingatkan investor agar tidak terlalu mengandalkan pernyataan politik dari kedua pihak.
"Satu hal yang kita tahu adalah kita harus mengabaikan pernyataan politik. Pernyataan-pernyataan itu sama sekali tidak relevan dengan apa yang sebenarnya terjadi," kata Hochstein kepada CNBC.
Menurut dia, pernyataan politik mengenai penguasaan Selat Hormuz lebih banyak merupakan bagian dari upaya memengaruhi pasar daripada menggambarkan kondisi aktual di lapangan.
Dengan demikian, arah harga minyak dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh perkembangan nyata lalu lintas kapal di Hormuz, bukan sekadar klaim dari Washington maupun Teheran.

