AS–Iran Kembali Saling Gempur, Harga Minyak Melonjak Hingga 7%
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Perang Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase berbahaya setelah Teheran meluncurkan rudal balistik ke arah pasukan AS di Timur Tengah dan Washington menyiapkan serangan balasan berskala besar. Pertempuran juga mulai meluas ke Irak, Yordania, Arab Saudi, Selat Hormuz, hingga Laut Merah, meningkatkan risiko pecahnya perang regional yang lebih luas.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (29/07/2026) mengancam akan menghantam Iran dengan keras sebagai balasan atas serangan rudal terhadap pasukan AS. Trump mengatakan Washington akan memberikan “pukulan berat” kepada Iran setelah serangan tersebut mematahkan jeda pertempuran yang hanya berlangsung beberapa hari.
Pernyataan Trump diberitakan CNBC pada 28 Juli 2026 waktu Amerika Serikat dan diperbarui satu jam kemudian. CBS News, dalam laporan yang diperbarui pada 29 Juli 2026 pukul 11.23 waktu Amerika Serikat, juga mengutip Trump yang menyatakan AS akan melancarkan serangan keras terhadap Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat atau US Central Command—Centcom—menyatakan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menembakkan beberapa rudal balistik dari wilayah Iran dalam suatu serangan mendadak terhadap pasukan AS di Timur Tengah. Menurut Centcom, seluruh rudal tersebut berhasil dicegat. Axios, dengan mengutip sejumlah pejabat AS, melaporkan sasaran serangan Iran adalah pangkalan militer Amerika di Yordania. Militer Yordania juga menyatakan telah mencegat rentetan rudal Iran yang melintasi wilayahnya. (Reuters)
Trump mengatakan pasukan AS hanya memiliki waktu beberapa menit untuk mendeteksi dan menembak jatuh rudal-rudal yang datang. Tidak ada laporan mengenai korban pasukan Amerika dalam serangan tersebut. Namun, keberhasilan pencegatan tidak menghentikan eskalasi. Washington dan Riyadh kemudian melancarkan serangan udara bersama terhadap kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak.
Centcom menyatakan pasukan AS dan Arab Saudi menyerang sejumlah lokasi logistik dan penyimpanan senjata di Irak timur. Serangan tersebut disebut sebagai balasan terhadap lebih dari 30 serangan pesawat nirawak yang dilakukan kelompok pro-Iran dalam tiga hari sebelumnya.
Kelompok Popular Mobilization Forces atau PMF di Irak menyatakan sedikitnya 20 anggotanya tewas dan 32 lainnya terluka. Media yang memiliki hubungan dengan milisi Syiah Irak juga melaporkan sejumlah penasihat militer Iran termasuk di antara korban tewas, meskipun jumlah dan identitas mereka belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan itu menjadi operasi pertama yang secara terbuka mengonfirmasi keterlibatan Arab Saudi bersama AS dalam menghantam kelompok pendukung Iran di Irak. Keterlibatan Riyadh meningkatkan risiko perang berubah dari konflik langsung AS–Iran menjadi konfrontasi regional yang menyeret negara-negara Teluk dan kelompok proksi Iran. (Reuters)
Pemerintah Irak mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya dan menyerukan penghentian eskalasi. Namun, Arab Saudi menyatakan operasi dilakukan setelah kelompok pro-Iran mencoba menyerang fasilitas minyak Saudi dengan pesawat nirawak yang diluncurkan dari Irak.
Iran Memilih Perang Asimetris
Secara kekuatan militer konvensional, Amerika Serikat jauh lebih unggul dibandingkan Iran. AS memiliki angkatan udara modern, pesawat pengebom jarak jauh, pesawat siluman, kapal induk, kapal selam nuklir, rudal jelajah, sistem satelit, kemampuan intelijen, serta jaringan pangkalan militer dan sekutu di kawasan.
Iran tidak memiliki kemampuan udara dan laut konvensional yang sebanding. Sebagian armada pesawat tempur Iran sudah berusia tua dan kemampuan proyeksi kekuatannya jauh lebih terbatas.
Karena itu, Iran tidak berusaha menghadapi Amerika dalam pertempuran terbuka dan simetris. Strategi Teheran bertumpu pada rudal balistik, rudal jelajah, pesawat nirawak, ranjau laut, kapal cepat, rudal antikapal, perang elektronik, serta jaringan kelompok bersenjata di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman.
Badan Intelijen Pertahanan Amerika Serikat sebelumnya menilai persenjataan rudal balistik Iran dirancang untuk mengancam dan berupaya membanjiri sistem pertahanan pasukan AS dan sekutunya. Armada kapal cepat, ranjau laut, kapal selam kecil, dan rudal antikapal Iran juga dapat mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. (Defense Intelligence Agency)
Dengan demikian, AS unggul secara mutlak dalam daya hancur, teknologi, kemampuan udara, laut, intelijen, dan logistik. Akan tetapi, Iran memiliki keunggulan geografis dan kemampuan menciptakan biaya perang yang tinggi bagi lawannya.
Iran berada dekat dengan pangkalan-pangkalan AS, instalasi minyak negara-negara Teluk, Selat Hormuz, dan jalur pelayaran internasional. Teheran tidak perlu mengalahkan Amerika secara militer untuk memperoleh pengaruh strategis. Iran hanya perlu mempertahankan kemampuan menyerang, mengganggu pelayaran, dan menaikkan biaya ekonomi serta politik perang.
Inilah paradoks utama konflik tersebut. Amerika dapat menghancurkan banyak instalasi militer Iran, tetapi belum tentu mampu menghilangkan seluruh rudal, drone, fasilitas bawah tanah, jaringan proksi, dan kemampuan Iran mengganggu Selat Hormuz.
AS Menyiapkan Serangan Lebih Besar
Ancaman Trump menunjukkan Washington tengah mempertimbangkan babak serangan baru. Target yang mungkin dipilih meliputi lokasi peluncuran rudal, fasilitas drone, pusat komando IRGC, gudang senjata, instalasi pertahanan udara, pangkalan angkatan laut, serta infrastruktur yang dianggap mendukung operasi Iran di Selat Hormuz.
Sebelumnya, Trump sempat menunda perluasan serangan setelah AS menjalankan kampanye pengeboman selama sekitar dua pekan. Reuters pada 27 Juli 2026 melaporkan Trump menyebut pembicaraan dengan Iran berjalan baik, tetapi memperingatkan serangan akan kembali dilakukan apabila diplomasi gagal. (Reuters)
Penghentian sementara itu bukan hanya dilandasi pertimbangan diplomasi. Perang berbulan-bulan mulai membebani persediaan rudal pencegat Amerika, terutama Patriot dan Terminal High Altitude Area Defense atau THAAD.
Baca Juga
Harga Emas Menguat Seusai Harga Minyak Anjlok, Pasar Tunggu Suku Bunga The Fed
Associated Press pada 29 Juli 2026, mengutip analisis Center for Strategic and International Studies, melaporkan konflik telah menguras sebagian persediaan rudal pencegat AS. Kondisi tersebut dapat memaksa Washington lebih selektif dalam menentukan rudal atau drone mana yang harus ditembak jatuh. Pentagon tetap menegaskan militernya mempunyai kemampuan memadai, tetapi perang berkepanjangan dapat mengganggu kesiapan menghadapi ancaman lain. (AP News)
Reuters pada 22 Juli 2026 melaporkan perang telah menelan biaya sekitar US$37,5 miliar bagi Amerika Serikat. Sedikitnya 18 personel AS dilaporkan tewas dan lebih dari 430 lainnya terluka sejak konflik dimulai. (Reuters)
Keterbatasan amunisi bukan berarti AS kehilangan keunggulan. Washington tetap mampu melancarkan serangan udara dan rudal dengan daya hancur jauh lebih besar. Namun, semakin lama perang berlangsung, semakin tinggi biaya militer, fiskal, dan politik yang harus ditanggung.
Iran Bisa Menang Secara Strategis?
Dalam perang konvensional, Iran hampir tidak mungkin mengalahkan Amerika Serikat. Namun, kemenangan dalam konflik modern tidak hanya diukur dari jumlah pesawat, kapal perang, atau sasaran yang berhasil dihancurkan.
Iran dapat mengklaim kemenangan strategis apabila rezim tetap bertahan, kemampuan rudal tidak sepenuhnya dihancurkan, Selat Hormuz tetap dapat diganggu, dan biaya perang memaksa Amerika menerima kompromi.
Sebaliknya, Amerika baru dapat disebut mencapai kemenangan strategis jika mampu menghentikan serangan Iran, membuka jalur pelayaran secara permanen, menekan program rudal dan nuklir Teheran, serta mencapai semua itu tanpa terseret ke dalam perang regional berkepanjangan.
Karena itu, posisi militer kedua pihak tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan kemampuan mencapai tujuan politik. AS dapat memenangkan hampir setiap pertempuran terbuka, tetapi belum tentu memenangkan perang secara politik. Iran dapat menderita kerusakan besar, tetapi tetap mampu menghambat tujuan Amerika melalui perang asimetris.
Selat Hormuz Menjadi Pusat Konflik
Pertempuran paling menentukan justru berlangsung di sekitar Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Iran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan regional bersama Selat Hormuz. Oman mengusulkan pembagian pengelolaan jalur pelayaran serta pungutan sukarela dari kapal untuk membiayai navigasi dan perlindungan lingkungan.
Teheran menolak model pembagian 50:50. Iran menuntut kendali penuh atas jalur masuk dan sebagian kendali atas jalur keluar berdasarkan klaim wilayahnya. Penolakan ini memperkecil harapan tercapainya penyelesaian cepat atas gangguan pelayaran. (Reuters)
Selat Hormuz merupakan jalur energi paling penting di dunia. Data US Energy Information Administration atau EIA menunjukkan arus melalui Hormuz mencakup lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia yang diangkut melalui laut. Sebagian besar minyak tersebut dikirim menuju pasar Asia, terutama China, India, Jepang, dan Korea Selatan. (U.S. Energy Information Administration)
Iran menyadari bahwa gangguan terbatas sekalipun dapat menaikkan biaya angkut, premi asuransi, dan harga minyak. Karena itu, Selat Hormuz menjadi instrumen tekanan ekonomi sekaligus posisi tawar diplomatik Teheran.
Amerika menuntut kebebasan pelayaran dan menolak hak Iran mengendalikan lalu lintas komersial secara sepihak. Perbedaan inilah yang membuat persoalan Hormuz jauh lebih sulit diselesaikan dibandingkan penghentian serangan udara sementara.
Perang Meluas ke Laut Merah
Risiko terhadap pasokan minyak tidak hanya berasal dari Selat Hormuz. Kelompok Houthi di Yaman, yang didukung Iran, juga meningkatkan ancaman terhadap kapal dan fasilitas minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Houthi sebelumnya mengklaim menyerang dua tanker minyak Saudi. Trump kemudian mengancam akan memberikan hukuman militer besar kepada Iran dan Houthi. Brent sempat menembus US$100 per barel setelah serangan terhadap jalur pelayaran Laut Merah tersebut. (Reuters)
Jalur Bab el-Mandeb di Laut Merah merupakan pintu masuk menuju Terusan Suez. Jalur ini menjadi alternatif penting bagi sebagian ekspor minyak Saudi yang dialihkan dari kawasan Hormuz.
Apabila Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb terganggu secara bersamaan, produsen Teluk akan kehilangan dua jalur utama untuk mengirim minyak ke pasar global. Skenario tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini.
Minyak Melonjak Hampir 7%
Dimulainya kembali serangan AS–Iran langsung memicu kenaikan harga minyak. Reuters pada 29 Juli 2026 melaporkan harga minyak Brent melonjak US$5,70 atau hampir 7% menjadi US$89,79 per barel.
Harga minyak West Texas Intermediate atau WTI naik US$4,94 menjadi US$84,20 per barel. Kenaikan terjadi setelah laporan mengenai serangan AS dan Saudi di Irak, serangan Iran terhadap pasukan Amerika, ancaman balasan Trump, serta kegagalan usulan Oman mengenai Selat Hormuz. (Reuters)
Dalam laporan CNBC yang diterbitkan 28 Juli 2026 waktu Amerika Serikat, kontrak minyak mentah AS tercatat naik sekitar 7,07%, sedangkan Brent menguat 7,62%.
Kenaikan harga juga diperkuat penurunan persediaan minyak mentah Amerika Serikat sekitar 3,3 juta barel dan kemungkinan pembekuan produksi OPEC+ mulai Oktober.
Pasar kini memasukkan premi risiko perang ke dalam harga minyak. Besarnya premi tersebut akan bergantung pada tiga faktor: intensitas serangan, kondisi pelayaran di Hormuz dan Laut Merah, serta peluang tercapainya gencatan senjata.
Apabila konflik tetap terbatas dan kapal tanker kembali berlayar normal, Brent berpeluang turun kembali. Namun, jika AS menghantam infrastruktur penting Iran dan Teheran membalas dengan menutup atau menambang Hormuz, harga Brent dapat kembali menembus US$100 per barel.
Sejumlah analis memperkirakan Brent dapat bergerak sangat volatil dalam rentang US$80–US$100 per barel. Reuters sebelumnya melaporkan perang telah mengubah proyeksi pasar minyak 2026 dari surplus menjadi defisit sekitar 1,5 juta barel per hari. (Reuters)
Dalam skenario ekstrem berupa gangguan panjang di Hormuz dan Bab el-Mandeb, harga dapat naik jauh di atas US$100. Namun, lonjakan yang terlalu tinggi juga akan menekan konsumsi, memperlambat ekonomi dunia, dan mendorong produsen di luar Timur Tengah meningkatkan produksi.
Sanksi Minyak Diperketat
Selain tekanan militer, pemerintahan Trump menambah sanksi terhadap jaringan perdagangan minyak Iran.
Departemen Keuangan AS pada 29 Juli 2026 menjatuhkan sanksi terhadap 10 entitas dan delapan kapal tanker yang dituduh membantu Iran menjual minyak dan memperoleh pendapatan dari aktivitas maritim.
Enam entitas yang menjadi sasaran disebut berlokasi di China. Pemerintah AS juga menyasar perusahaan asuransi dan lembaga jasa maritim yang dituduh membantu Iran menjalankan skema pengiriman minyak melalui armada bayangan atau shadow fleet. (Reuters)
Langkah tersebut menunjukkan strategi Washington tidak hanya mengandalkan serangan militer. AS berusaha menekan sumber pendapatan utama Iran, menaikkan biaya pengiriman minyak, membatasi akses asuransi, dan menghalangi pembeli Asia melakukan transaksi dengan jaringan Iran.
Namun, sanksi baru juga dapat mengurangi pasokan minyak yang tersedia di pasar internasional. Apabila ekspor Iran turun sementara pasokan Teluk terganggu, tekanan terhadap harga minyak akan semakin kuat.
Peluang Damai Masih Terbuka
Meskipun perang kembali meningkat, kemungkinan damai belum sepenuhnya tertutup. Kedua pihak sebelumnya menunjukkan kesediaan menghentikan serangan untuk sementara dan berkomunikasi melalui mediator.
Iran sempat mengindikasikan akan menghentikan serangan selama Amerika tidak kembali menyerang. Trump pada 27 Juli juga mengatakan pembicaraan berjalan baik. Namun, Iran membantah adanya negosiasi langsung dan menegaskan komunikasi dilakukan melalui perantara. (Reuters)
Oman tetap menjadi mediator terpenting karena memiliki hubungan baik dengan Washington maupun Teheran. Negara-negara Teluk juga mempunyai kepentingan besar untuk menghentikan konflik karena fasilitas energi, kota-kota besar, pelabuhan, dan pusat bisnis mereka berada dalam jangkauan rudal serta drone Iran.
Arab Saudi, meskipun ikut menyerang kelompok pro-Iran di Irak, menyatakan tidak menginginkan eskalasi. Riyadh menghadapi dilema: kerajaan ingin menghentikan serangan terhadap wilayah dan fasilitas minyaknya, tetapi perang terbuka dengan Iran dapat menimbulkan kerusakan ekonomi jauh lebih besar.
Iran juga mempunyai alasan untuk berunding. Ekonominya semakin tertekan oleh perang, sanksi, kerusakan infrastruktur, dan menurunnya pendapatan minyak. Perang yang berkepanjangan dapat mengikis kemampuan fiskal dan dukungan domestik terhadap pemerintah.
Sementara itu, Trump menghadapi tekanan akibat biaya perang, korban pasukan AS, kenaikan harga bahan bakar, dan rendahnya dukungan publik terhadap keterlibatan militer yang berkepanjangan. Faktor tersebut dapat mendorong Washington kembali ke jalur diplomasi setelah menunjukkan kekuatan militer.
Namun, kesepakatan damai sulit dicapai tanpa kompromi mengenai empat isu utama: kebebasan pelayaran di Selat Hormuz, program nuklir Iran, kemampuan rudal Teheran, serta aktivitas kelompok proksi Iran di kawasan.
Tiga Skenario Perang
Skenario pertama adalah eskalasi terbatas. Amerika menyerang pangkalan rudal dan fasilitas IRGC, sementara Iran membalas secara terukur tanpa menutup penuh Selat Hormuz. Dalam kondisi ini, harga minyak tetap tinggi tetapi masih dapat bertahan di kisaran US$80–US$100 per barel.
Skenario kedua adalah perang regional. Iran menyerang pangkalan AS dan fasilitas minyak negara-negara Teluk, sedangkan Houthi mengganggu Bab el-Mandeb. Amerika, Israel, dan Arab Saudi kemudian memperluas operasi militer. Dalam skenario ini, Brent dapat kembali menembus US$100 dan berpotensi naik lebih tinggi.
Skenario ketiga adalah gencatan senjata yang dimediasi Oman. Kedua pihak menghentikan serangan, membuka kembali jalur pelayaran, dan menegosiasikan tata kelola Hormuz serta persoalan nuklir. Dalam skenario ini, premi risiko perang akan turun dan harga minyak berpotensi terkoreksi tajam, seperti yang terjadi ketika kabar penghentian serangan sebelumnya membuat minyak jatuh lebih dari 8%. (Reuters)
Untuk saat ini, peluang terbesar adalah berlanjutnya siklus serang-balas yang diselingi jeda diplomasi. Tidak ada pihak yang tampaknya menginginkan perang total, tetapi setiap serangan menciptakan risiko salah perhitungan yang dapat menyeret kawasan ke konflik jauh lebih besar.
Amerika Serikat unggul dalam hampir seluruh ukuran kekuatan militer, tetapi Iran memegang kartu strategis berupa rudal, jaringan proksi, dan Selat Hormuz. Washington dapat memenangkan pertempuran, tetapi belum tentu mampu menutup perang dengan cepat. Selama Hormuz tetap menjadi medan tekanan dan diplomasi belum menghasilkan kompromi, harga minyak akan terus bergerak mengikuti suara rudal, bukan semata-mata keseimbangan permintaan dan pasokan.
