Yield Obligasi AS Melonjak Imbas Eskalasi Konflik AS-Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dipicu eskalasi konflik AS-Iran. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran semakin terancam akibat saling serang yang kembali terjadi sepanjang akhir pekan.
Ketegangan makin meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan pemberlakuan kembali blokade terhadap kapal-kapal Iran yang melintasi Selat Hormuz.
Baca Juga
AS Kembali Blokade Kapal Iran dan Memungut Tarif 20% di Selat Hormuz
Dikutip dari CNBC, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun, yang menjadi acuan utama biaya pinjaman pemerintah, naik lebih dari 4 basis poin menjadi 4,614% pada Senin (13/7/2026).
Sementara itu, yield Treasury tenor dua tahun, yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve, meningkat lebih dari 6 basis poin menjadi 4,269%. Yield obligasi tenor 30 tahun juga naik sekitar 3 basis poin menjadi 5,101%.
Kenaikan imbal hasil terjadi setelah Trump melalui platform Truth Social mengumumkan bahwa Amerika Serikat kembali memberlakukan "Blokade Iran" di Selat Hormuz.
Trump juga menyatakan AS akan dikenal sebagai "Penjaga Selat Hormuz" dan meminta seluruh kapal yang melintasi jalur tersebut membayar kompensasi sebesar 20% dari nilai muatan sebagai pengganti biaya pengamanan.
Langkah tersebut diambil setelah serangan Iran terhadap sebuah kapal dagang pada akhir pekan memicu gelombang baru serangan udara Amerika Serikat. Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, sehingga memperdalam konflik di jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Baca Juga
Eskalasi Baru Konflik AS-Iran, Perebutan Kendali Selat Hormuz Kian Memanas
Perkembangan terbaru itu semakin menimbulkan keraguan terhadap kelangsungan perjanjian damai sementara yang ditandatangani kedua negara bulan lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya diharapkan menjadi jalan menuju pembukaan permanen Selat Hormuz dan mengakhiri perang setelah 60 hari perundingan.
Menurut media pemerintah Iran, serangan balasan Teheran menyasar pangkalan militer AS di Kuwait, Bahrain, Yordania, Oman, dan Qatar.
Di pasar energi, harga minyak melonjak tajam. Minyak Brent ditutup naik 9,59% menjadi US$83,30 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 9,42% menjadi US$78,14 per barel.
Lonjakan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi akan meningkat.
Gubernur Federal Reserve Christopher Waller mengatakan terdapat kemungkinan yang sama besarnya bahwa inflasi akan tetap tinggi atau bahkan meningkat lebih lanjut, sehingga memerlukan kebijakan moneter yang lebih ketat dalam waktu dekat.
Pekan ini juga menjadi periode penting bagi pasar obligasi karena dipenuhi berbagai data ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah suku bunga.
Data inflasi inti akan dirilis Selasa, disusul penampilan perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres pada hari yang sama. Sementara itu, data sentimen konsumen untuk Juli akan diumumkan pada Jumat.
Chief Investment Officer Resonate Wealth Partners, Alex Guiliano, mengatakan perhatian utama investor kini tertuju pada apakah berbagai data tersebut mampu mengonfirmasi kuatnya belanja konsumen atau justru menunjukkan bahwa risiko geopolitik dan tingginya suku bunga mulai menekan daya beli rumah tangga dalam beberapa bulan terakhir.
