Perang AS-Iran Tekan Sentimen Pasar, Saham Berjangka AS Melemah
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat bergerak melemah setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan udara. Sementara itu, investor juga bersiap menghadapi pekan yang dipenuhi rilis laporan keuangan perusahaan serta data inflasi terbaru.
Baca Juga
AS Bombardir Kota Pelabuhan Iran, Ketegangan di Selat Hormuz Kembali Memuncak
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average turun 135 poin atau sekitar 0,3% pada perdagangan Minggu (12/7/2026) malam. Futures S&P 500 juga melemah 0,3%, sedangkan Nasdaq-100 Futures terkoreksi 0,5%.
Sentimen pasar tertekan setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas. Iran dan Amerika Serikat kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone pada akhir pekan. Teheran juga mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal, meski klaim tersebut dibantah Presiden AS Donald Trump.
Trump menegaskan jalur pelayaran strategis tersebut tetap terbuka untuk kapal-kapal komersial. Sebelumnya, Presiden AS memerintahkan serangan udara baru terhadap Iran setelah Garda Revolusi Iran menyerang sebuah kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Ketegangan tersebut mendorong harga minyak dunia menguat. Minyak mentah Brent naik sekitar 3,7% menjadi US$78,86 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3% menjadi US$74,05 per barel.
Baca Juga
Harga Minyak Melonjak di Tengah Meningkatnya Eskalasi Konflik AS-Iran
Di kawasan Asia, pergerakan futures bursa juga bervariasi. Futures indeks Nikkei 225 Jepang turun sekitar 0,5%, meski masih berada di atas posisi penutupan sebelumnya. Futures indeks Hang Seng Hong Kong bergerak menguat tipis dibandingkan penutupan terakhir, sedangkan futures indeks S&P/ASX 200 Australia diperdagangkan sedikit lebih tinggi.
Pendiri Fed Watch Advisors, Ben Emons, mengatakan isu penutupan Selat Hormuz masih akan membayangi sentimen pasar dan mendorong investor menghindari aset berisiko.
Menurutnya, selama belum ada indikasi nyata bahwa Selat Hormuz benar-benar akan ditutup dalam beberapa bulan ke depan sehingga mengganggu pasokan energi global secara signifikan, perhatian investor pekan ini juga akan tertuju pada data inflasi, perkembangan kebijakan Federal Reserve, serta musim laporan keuangan perusahaan.
Musim Laporan Keuangan Dimulai
Sebanyak 28 perusahaan anggota indeks S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja keuangan pekan ini. Perhatian terbesar akan tertuju pada sejumlah bank raksasa Amerika Serikat seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Morgan Stanley, Bank of America, Citigroup, dan Wells Fargo.
Selain sektor perbankan, investor juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan besar lainnya, termasuk Netflix, Johnson & Johnson, dan UnitedHealth.
Berdasarkan data FactSet, analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 pada kuartal II 2026 tumbuh rata-rata lebih dari 23% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Proyeksi tersebut mencerminkan ekspektasi pasar yang masih tinggi terhadap kinerja korporasi Amerika.
Sektor Teknologi dan AI
Chief Investment Officer Raymond James, Larry Adam, menilai sektor teknologi akan menjadi salah satu fokus utama investor, terutama terkait keberlanjutan investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Meski muncul kekhawatiran perusahaan-perusahaan teknologi besar mulai memperlambat belanja modal untuk AI, Adam memperkirakan investasi tersebut justru akan terus meningkat hingga 2028.
Ia menilai semakin banyak perusahaan yang memperoleh manfaat nyata dari implementasi AI dalam operasional bisnis. Hal itu tercermin dari meningkatnya pembahasan mengenai AI di seluruh sektor industri, yang menurutnya naik hampir dua kali lipat dibandingkan tahun lalu dan mencapai rekor tertinggi.
Selain laporan keuangan, pelaku pasar juga menantikan data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat untuk Juni yang akan dirilis pada Selasa (14/7/2026) pagi waktu AS. Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu penentu arah ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve pada pertemuan berikutnya.
