Wall Street Tertekan Setelah Trump Ancam Serang Iran, Dow Ambles Hampir 600 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat tertekan pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (9/7/2026) WIB dipicu pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 576,76 poin atau 1,09% ke level 52.348,39. Indeks S&P 500 turun 0,28% menjadi 7.482,71. Namun, berbeda dengan dua indeks utama lainnya, Nasdaq Composite justru naik 0,2% dan ditutup di 25.870,65, ditopang penguatan saham-saham teknologi.
Baca Juga
Trump Ancam Bombardir Iran, Harga Minyak Brent Melonjak Dekati US$ 80
Presiden Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan mengancam akan kembali melancarkan serangan militer. Hal ini memicu lonjakan harga minyak dunia.
Di pasar energi, harga minyak Brent naik sekitar 5,4% menjadi US$78,19 per barel, sedangkan minyak mentah WTI menguat 4,37% ke US$73,52 per barel.
"Saya pikir semuanya sudah berakhir. Saya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Mereka itu sampah," kata Trump saat berbicara mengenai Iran.
Presiden AS kemudian kembali mengancam akan melancarkan serangan militer baru dengan mengatakan bahwa Amerika Serikat akan "menghantam mereka keras malam ini."
Pernyataan tersebut muncul setelah Washington melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mendukung langkah Amerika Serikat. Menurutnya, respons militer Washington diperlukan karena Iran dinilai melanggar gencatan senjata melalui serangan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.
Lonjakan harga minyak mendorong kenaikan saham-saham sektor energi. Saham ConocoPhillips naik sekitar 2%, Chevron menguat 1%, sedangkan Marathon Petroleum melonjak sekitar 5%.
Sebaliknya, saham-saham sektor konsumen yang berpotensi terdampak kenaikan biaya energi mengalami tekanan. Saham Home Depot turun sekitar 2%, McDonald's melemah lebih dari 1%, sementara Booking Holdings terkoreksi sekitar 4%.
Di sektor teknologi, saham semikonduktor mulai pulih setelah mengalami tekanan sehari sebelumnya. ETF VanEck Semiconductor (SMH) naik sekitar 2%, meski masih berada hampir 12% di bawah puncak terbarunya.
Analis pasar senior di Capital.com, Daniela Hathorn, menyebut ketegangan baru di Timur Tengah memaksa investor kembali memperhitungkan risiko geopolitik setelah beberapa pekan pasar berasumsi konflik akan mereda.
Baca Juga
Iran Kembali Serang Kapal Tanker, Ancaman di Selat Hormuz Meningkat
“Ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah telah mengganggu narasi pasar, mendorong investor untuk menilai kembali risiko geopolitik setelah beberapa minggu memperkirakan jalan yang mulus menuju de-eskalasi,” beber Hathorn, dalam sebuah catatan yang dikutip CNBC.
Menurutnya, serangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata masih secara formal berlaku, peluang tercapainya kesepakatan damai yang berkelanjutan antara Amerika Serikat dan Iran masih jauh dari pasti.
Di sisi lain, pasar juga mencermati risalah rapat Federal Reserve bulan Juni yang menunjukkan para pejabat bank sentral masih berbeda pandangan mengenai arah suku bunga.
Sebagian anggota FOMC menilai suku bunga pada akhir tahun dapat berada di kisaran saat ini atau sedikit lebih rendah apabila inflasi mereda. Namun, kelompok lain berpendapat suku bunga justru perlu dinaikkan jika tekanan inflasi tetap tinggi.
Meski demikian, publikasi risalah tersebut hanya memberikan dampak terbatas terhadap pergerakan pasar dibandingkan besarnya pengaruh ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
