Bagikan

Diplomasi Kandas, Trump Ancam Bombardir Iran

Poin Penting

Trump ancam bom Iran jika kesepakatan gagal sebelum Rabu malam.
AS sita kapal minyak Iran di Samudra Hindia, tensi makin panas.
Harga minyak Brent dekati US$95 per barel akibat risiko perang.

JAKARTA, Investortrust.id — Ancaman eskalasi perang kembali membayangi konflik Amerika Serikat–Iran menjelang berakhirnya tenggat gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa ia “mengharapkan akan melakukan pengeboman” jika tidak tercapai kesepakatan baru dengan Teheran sebelum batas waktu Rabu malam waktu AS (EDT), atau Kamis pagi WIB. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara telepon dengan program Squawk Box CNBC yang dilaporkan Selasa (21/04/2026) pukul 09.50 EDT, sekaligus menegaskan bahwa militer AS “siap bertindak” apabila diplomasi gagal.

Mengutip laporan CNBC yang diperbarui Selasa (21/04/2026), Trump juga menegaskan tidak berminat memperpanjang gencatan senjata dua minggu yang telah berjalan. Ia menekan Iran untuk segera kembali ke meja perundingan, sembari mengkritik keras pemerintah Teheran dan menyebut bahwa tekanan publik di dalam negeri AS justru dapat mengganggu proses negosiasi. Dalam wawancara tersebut, Trump juga menyinggung adanya kapal yang dicegat AS yang disebut membawa “hadiah dari China”, meski detailnya belum dikonfirmasi Gedung Putih.

Sementara itu, dinamika diplomasi tetap bergerak di tengah ketidakpastian. Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan akan bertolak ke Pakistan bersama pejabat tinggi AS untuk membuka peluang putaran kedua perundingan damai. Namun, partisipasi Iran masih belum pasti. Teheran secara konsisten menolak bernegosiasi di bawah tekanan militer maupun sanksi, sehingga peluang tercapainya kesepakatan sebelum tenggat waktu dinilai semakin tipis.

Laporan Al Jazeera yang dipublikasikan pada 21 April 2026 menyebutkan bahwa upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih terhambat, dengan Iran menolak negosiasi “di bawah bayang-bayang ancaman”. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa gencatan senjata dua minggu akan berakhir pada Rabu (21/04/2026 waktu AS), sementara posisi kedua pihak masih saling bertolak belakang: Washington ingin Iran menghentikan program nuklir dan menyerahkan uranium yang diperkaya, sedangkan Teheran menuntut pencabutan blokade dan pembebasan aset yang dibekukan.

Baca Juga

Dunia Waspada Krisis Energi Besar Jika Perang AS vs Iran Dilanjutkan

Ketegangan juga meningkat di lapangan. Departemen Pertahanan AS mengonfirmasi telah menaiki (boarding) sebuah kapal di Samudra Hindia yang diduga terkait pengangkutan minyak Iran yang terkena sanksi. Langkah ini menyusul penyitaan kapal kargo Iran oleh Angkatan Laut AS sebelumnya, yang memicu ancaman balasan dari Teheran. Informasi ini diperkuat oleh laporan berbagai media internasional, termasuk kantor berita AFP dan Reuters yang juga mencatat meningkatnya aktivitas militer dan tekanan ekonomi di sekitar jalur pelayaran strategis.

Dari sisi geopolitik global, sejumlah negara besar mulai menyerukan deeskalasi. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut blokade yang dilakukan baik oleh AS maupun Iran di Selat Hormuz sebagai “kesalahan di kedua pihak”. Rusia mendorong perpanjangan gencatan senjata, sementara China—sebagai pembeli utama minyak Iran—menyatakan keprihatinan atas penyitaan kapal Iran dan mendesak semua pihak kembali ke meja perundingan.

Di tengah eskalasi ini, tekanan terhadap ekonomi global kembali meningkat. Harga minyak dunia sempat naik seiring gangguan di Selat Hormuz, meski pada perdagangan Selasa (21/04/2026) mulai terkoreksi. Berdasarkan data OilPrice.com dan laporan pasar yang dikutip media internasional, harga Brent berada di kisaran US$94,8–US$95 per barel, sementara WTI di kisaran US$86,4–US$86,6 per barel, setelah sebelumnya melonjak akibat ketegangan geopolitik.

Dengan tenggat waktu yang semakin dekat dan posisi kedua pihak yang masih keras, risiko kembalinya konflik terbuka kini menjadi perhatian utama pasar global. Jika perundingan gagal, ancaman militer dari Washington berpotensi memicu babak baru eskalasi yang tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dunia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024