Kesepakatan Damai AS–Iran Kian Dekat, Tapi Belum Akan Teken di Akhir Pekan Ini
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran semakin menguat setelah kedua negara memberi sinyal bahwa kesepakatan kerangka (memorandum of understanding/MoU) untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak Februari 2026 hampir tercapai. Namun, Teheran menegaskan bahwa penandatanganan kesepakatan tidak akan dilakukan pada Minggu (14/06/2026), meski peluang tercapainya perjanjian dalam beberapa hari ke depan tetap terbuka.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator utama dalam perundingan Washington–Teheran, pada Sabtu (13/06/2026) menyatakan kedua pihak kini “lebih dekat ke perdamaian dibanding sebelumnya.” Dalam unggahan di media sosial X, Sharif bahkan menyebut finalisasi dokumen kemungkinan dapat dilakukan dalam 24 jam dan Pakistan tengah mempersiapkan penandatanganan elektronik sebelum pembahasan teknis lanjutan pekan depan.
Optimisme serupa sebelumnya juga disampaikan Presiden AS Donald Trump pada Kamis (11/06/2026) waktu Washington. Trump mengatakan AS baru saja mencapai “penyelesaian besar” terkait perang dengan Iran, meski masih menunggu finalisasi dokumen. Pernyataan tersebut kemudian diperkuat oleh pejabat senior pemerintahan AS yang menyebut peluang tercapainya kesepakatan kini berada pada kisaran 80%-85%, meski belum mencapai kepastian penuh.
Baca Juga
Trump Bantah Bocoran Damai Iran, Tapi Sebut Kesepakatan Kian Dekat
Namun, optimisme Washington dan Islamabad langsung direspons hati-hati oleh Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan penandatanganan MoU tidak akan dilakukan pada Minggu. Menurutnya, mayoritas isu memang telah menemukan titik temu, tetapi masih terdapat sejumlah hal yang perlu diselesaikan sehingga waktu penandatanganan belum dapat dipastikan. Iran juga menilai masih terdapat keraguan dari pihak lain yang membuat proses harus dijalankan secara hati-hati.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sehari sebelumnya menyatakan kesepakatan dengan AS “belum pernah sedekat ini.” Namun, ia juga membantah berbagai laporan media yang mengklaim telah mengetahui seluruh isi perjanjian. Trump bahkan secara terbuka menyebut sejumlah bocoran mengenai isi kesepakatan tidak sesuai dengan dokumen yang sebenarnya disepakati kedua pihak.
Berdasarkan berbagai laporan media internasional, rancangan MoU tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pelonggaran sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran, pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri, serta dimulainya negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Teheran. Sebagai imbalannya, Iran diharapkan menghentikan aktivitas yang dianggap mengancam keamanan kawasan dan menerima mekanisme inspeksi internasional yang lebih ketat.
Sumber pemerintah AS juga menyebut perjanjian tersebut bertujuan menciptakan perdamaian jangka panjang di Timur Tengah, termasuk mengakhiri pendanaan kelompok-kelompok bersenjata yang selama ini menjadi sumber ketegangan regional. Namun, manfaat ekonomi yang dijanjikan baru akan diberikan apabila Iran benar-benar memenuhi komitmennya.
Baca Juga
Meski diplomasi menunjukkan kemajuan signifikan, situasi keamanan di kawasan masih rapuh. Militer AS pada Jumat (12/6/2026) melaporkan berhasil menembak jatuh sejumlah drone Iran di sekitar Selat Hormuz. Pada saat yang sama, serangan Israel di Lebanon selatan masih terus berlangsung dan menewaskan sejumlah orang, menunjukkan bahwa konflik proksi di kawasan belum sepenuhnya mereda.
Qatar, yang bersama Pakistan aktif memfasilitasi dialog, juga menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya mediasi tersebut. Perdana Menteri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, dalam percakapan telepon dengan Sharif menyatakan puas terhadap kemajuan negosiasi dan berharap kesepakatan dapat segera ditandatangani untuk menciptakan perdamaian berkelanjutan di kawasan.
Bagi pasar global, perkembangan ini menjadi kabar positif. Harga minyak dunia yang sebelumnya melonjak akibat perang dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz mulai terkoreksi seiring meningkatnya harapan bahwa jalur energi terpenting dunia tersebut akan kembali beroperasi normal. Investor kini menunggu apakah optimisme diplomatik yang berkembang sejak pekan ini benar-benar bermuara pada penandatanganan kesepakatan bersejarah antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari mendatang. (CNBC/CNN/Reuters/AP/Al Jazeera)
