AS Serang Iran Lagi di Tengah Negosiasi Damai, Selat Hormuz Masih Membara
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer terbatas ke wilayah Iran selatan di tengah proses negosiasi damai yang masih berlangsung alot. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut sebagai “serangan pertahanan diri” untuk melindungi pasukan Amerika dari ancaman rudal dan ranjau laut Iran di sekitar Selat Hormuz.
Baca Juga
Trump Klaim Kesepakatan AS-Iran Hampir Rampung, Selat Hormuz Segera Dibuka?
Sebagaimana dilaporkan Reuters, Selasa (26/5/2026), juru bicara CENTCOM Tim Hawkins mengatakan target serangan mencakup lokasi peluncuran rudal dan kapal Iran yang diduga berusaha memasang ranjau laut. Washington menegaskan operasi dilakukan secara terbatas sambil tetap mempertahankan gencatan senjata yang rapuh dengan Teheran.
Namun Iran langsung menuduh AS melanggar kesepakatan gencatan senjata. Pemerintah Iran menilai aksi militer terbaru itu membuktikan Washington masih menggunakan tekanan bersenjata di tengah diplomasi yang belum selesai.
Di sisi lain, seperti dilaporkan CNBC, Presiden AS Donald Trump tetap optimistis. Trump menyebut pembicaraan dengan Iran “berjalan baik” dan mengeklaim nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik “sebagian besar telah dinegosiasikan.” Meski demikian, dalam laporan Al Jazeera, ia memperingatkan bahwa jika kesepakatan gagal tercapai, maka konflik bisa kembali pecah dengan kekuatan yang “lebih besar dan lebih kuat dari sebelumnya.”
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Selat Hormuz harus kembali dibuka “dengan satu cara atau lainnya.” Dalam kunjungannya ke India, Rubio mengatakan negosiasi masih membutuhkan beberapa hari lagi dan Washington tetap memberi ruang bagi jalur diplomasi sebelum mengambil opsi lain.
Di pihak Iran, sinyal yang muncul tetap ambigu. Pemerintah Teheran menyatakan siap menuju perdamaian, tetapi pada saat bersamaan menegaskan kesiapan penuh menghadapi perang jika tekanan militer terus berlanjut. Iran mengirim “sinyal ganda”, dengan tetap membuka ruang dialog sambil mempertahankan kesiagaan militer di kawasan Teluk Persia.
Peran mediator kini semakin meluas. Selain Pakistan yang sejak awal menjadi kanal komunikasi utama Washington-Teheran, Qatar juga aktif turun tangan dalam pembicaraan terbaru. Delegasi Qatar dilaporkan melakukan komunikasi intensif dengan pejabat Iran guna mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz dan penyusunan kerangka perdamaian baru.
Menurut laporan Reuters dan Al Jazeera, fokus utama negosiasi tahap awal bukan lagi langsung pada isu nuklir Iran, melainkan penghentian konflik dan pemulihan jalur perdagangan energi global melalui Selat Hormuz. Jalur laut strategis itu mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia sehingga blokade berkepanjangan langsung mengguncang harga energi global.
Meski Trump mengkelaim kesepakatan hampir selesai, sejumlah pejabat Iran menegaskan bahwa belum ada perjanjian final dalam waktu dekat. Teheran masih mengkaji proposal terbaru AS, termasuk soal pencairan aset Iran yang dibekukan serta pengaturan pengawasan uranium yang diperkaya.
Baca Juga
Harga Minyak Anjlok Dipicu Harapan Damai AS-Iran, Brent Turun di Bawah US$ 100
Pasar minyak pun bergerak 'volatile'. Minyak WTI sempat turun tajam karena harapan pembukaan Hormuz, tetapi Brent kembali menguat akibat kekhawatiran konflik bisa pecah lagi sewaktu-waktu.
Situasi di Timur Tengah kini memasuki fase paling sensitif: diplomasi berjalan, tetapi senjata tetap menyala. Selama Selat Hormuz belum benar-benar dibuka dan kesepakatan final belum diteken, risiko gejolak energi dan konflik regional masih membayangi pasar global.

