Tawaran Damai Iran Kemungkinan Besar Ditolak AS
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran kembali menawarkan kompromi strategis di tengah kebuntuan perang dengan Amerika Serikat, dengan bersedia membuka kembali Selat Hormuz jika Washington mencabut blokade dan mengakhiri konflik. Namun, tawaran tersebut berpotensi ditolak karena tidak menyentuh isu utama yang menjadi pemicu perang: program nuklir Teheran.
Laporan Associated Press yang diperbarui Selasa (28/04/2026) pukul 11.42 WIB menyebutkan, proposal itu disampaikan Iran melalui Pakistan dalam pembicaraan tertutup pada akhir pekan, berdasarkan keterangan dua pejabat kawasan yang mengetahui proses negosiasi tersebut.
Dalam proposal itu, Iran menawarkan untuk mengakhiri “cekikan” terhadap Selat Hormuz jalur sempit di Teluk Persia yang menjadi pintu keluar sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia dengan syarat AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran dan mengakhiri perang yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Nuklir Jadi Batu Sandungan
Namun, tawaran tersebut tidak mencakup pembahasan program nuklir Iran, yang justru menjadi tuntutan utama Washington. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sejak awal menegaskan bahwa tujuan utama perang adalah mencegah Iran memiliki senjata nuklir.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan secara tegas menolak kemungkinan kesepakatan tanpa klausul nuklir.
“Kami harus memastikan setiap kesepakatan benar-benar mencegah mereka menuju senjata nuklir,” ujar Rubio dalam wawancara dengan Fox News pada Senin (27/04/2026).
Baca Juga
Tekanan Internasional Meningkat, Trump Kaji Proposal Damai Iran
Meski gencatan senjata rapuh masih berlaku, kedua negara tetap terkunci dalam kebuntuan di Selat Hormuz. Iran membatasi lalu lintas kapal sebagai tekanan geopolitik, sementara AS memberlakukan blokade untuk menghentikan ekspor minyak Iran sumber pendapatan utama negara tersebut.
Kondisi ini menciptakan tekanan besar bagi pasar energi global. Sejak perang dimulai, harga minyak terus merangkak naik, dengan harga Brent pada Senin (27/04/2026) ditutup di atas US$ 108 per barel sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan awal konflik.
Sejumlah laporan lain dari Reuters dan BBC pada 27–28 April 2026 juga menegaskan bahwa gangguan di Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga energi, memperparah inflasi global, serta mengganggu rantai pasok pangan dan industri.
Tekanan Global Menguat
Tekanan internasional untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin besar. Puluhan negara, dipimpin Bahrain, menyerukan pembukaan jalur tersebut dalam pernyataan bersama pada Senin (28/04/2026).
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan dampak kemanusiaan yang kian meluas. “Tekanan ini berujung pada tangki bahan bakar kosong, rak toko kosong, dan piring yang kosong,” ujarnya di Dewan Keamanan PBB.
Kritik juga datang dari Eropa. Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai AS memasuki perang tanpa strategi keluar yang jelas, sementara Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot mengecam semua pihak, baik atas serangan awal maupun penutupan jalur pelayaran internasional.
Baca Juga
Leverage Iran, Dilema AS
Kemampuan Iran mengendalikan Selat Hormuz terbukti menjadi salah satu senjata strategis paling kuat dalam konflik ini. Dengan membatasi akses jalur energi global, Teheran mampu menekan ekonomi dunia sekaligus meningkatkan posisi tawarnya.
Di sisi lain, blokade AS menciptakan tekanan balik terhadap Iran dengan memotong sumber pendapatan utama dari ekspor minyak.
Dengan kedua pihak sama-sama mempertahankan posisi, konflik ini berubah menjadi pertarungan daya tahan siapa yang mampu menanggung beban ekonomi dan politik lebih lama.
Selat Hormuz pun kini bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan titik kunci perebutan pengaruh global yang menentukan arah harga energi, stabilitas ekonomi, dan bahkan ketahanan pangan dunia.

