AS-Iran Jajaki Terobosan Diplomatik Baru, Trump Utus 2 Tokoh Kunci ke Pakistan
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Pemerintahan Presiden Donald Trump mengirimkan dua tokoh kunci ke Pakistan untuk membuka jalur komunikasi langsung dengan Iran, menandai potensi terobosan baru dalam konflik yang telah berlangsung cukup panjang.
Utusan khusus AS Steve Witkoff dan penasihat senior Jared Kushner dijadwalkan tiba di Islamabad pada Sabtu guna melakukan “pembicaraan langsung” dengan perwakilan Iran. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut bahwa pihak Iran sendiri yang meminta pertemuan tatap muka tersebut.
“Pihak Iran telah menghubungi kami” dan meminta percakapan tatap muka, seperti yang diminta Presiden Donald Trump, kata Leavitt di Fox News. “Jadi presiden mengirim Steve dan Jared untuk mendengarkan apa yang mereka katakan, dan kami berharap percakapan itu akan produktif dan mudah-mudahan dapat memajukan proses menuju kesepakatan,” bebernya.
Wakil Presiden JD Vance, yang memimpin delegasi AS sebelumnya ke Islamabad untuk putaran negosiasi awal dengan Iran, tidak akan menghadiri pembicaraan akhir pekan ini.
Wakil presiden, kata Leavit, tetap sangat terlibat dalam seluruh proses ini, dan dia akan berada di Amerika Serikat, bersama dengan presiden dan Menteri Luar Negeri, Marco Rubio, dan seluruh tim keamanan nasional untuk mendapatkan informasi terbaru.
“Dan tentu saja, semua orang akan siaga untuk terbang ke Pakistan jika perlu. Tetapi pertama-tama, Steve dan Jared akan pergi ke sana untuk melapor kembali kepada presiden, wakil presiden, dan anggota tim lainnya,” beber Leavit, dikutip dari CNBC, Sabtu (25/4/2026).
Trump mengatakan kepada Reuters dalam panggilan telepon pada Jumat sore bahwa Iran akan “memberikan tawaran,” menambahkan bahwa dia belum tahu apa tawaran itu dan “kita harus melihatnya.”
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sebelumnya pada hari Jumat mengatakan bahwa dia “memulai tur tepat waktu” ke Islamabad, Muscat, dan Moskow untuk “berkoordinasi erat dengan mitra kami dalam masalah bilateral dan berkonsultasi tentang perkembangan regional.”
Pembicaraan di Islamabad akan “dimediasi oleh pihak Pakistan,” kata Leavitt dalam wawancara Fox.
Putaran pertama pembicaraan perdamaian, yang diadakan hampir dua minggu lalu di Islamabad dan dipimpin oleh Vance dari pihak AS, berakhir tanpa kesepakatan.
Baca Juga
Perundingan Berakhir Tanpa Hasil, JD Vance Kembali ke Washington
Sebuah delegasi AS termasuk Vance diharapkan kembali ke Pakistan awal pekan ini untuk negosiasi lebih lanjut, tetapi perjalanan itu ditunda karena pejabat Iran dilaporkan mengatakan mereka tidak akan datang. Sebagian besar ketegangan timbal balik berpusat pada Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak utama yang lalu lintasnya melambat drastis di tengah ancaman Iran dan, sejak pekan lalu, blokade angkatan laut AS sebagai pembalasan.
Dalam wawancara dengan Reuters, Trump mengatakan AS tidak akan mencabut blokade pelabuhan Iran sampai kesepakatan tercapai.
Ketegangan tersebut semakin memperburuk gencatan senjata yang sudah rapuh, yang diumumkan pada 7 April di tengah ancaman Trump bahwa "seluruh peradaban Iran akan mati" kecuali kesepakatan tercapai.
Terlepas dari tekanan yang terus berlanjut di selat tersebut, Trump pada hari Selasa secara sepihak memperpanjang gencatan senjata sesaat sebelum masa berlakunya berakhir.
Baca Juga
Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Sebut Pemerintahan Teheran “Terpecah”
Setelah perang dimulai pada 28 Februari, pemerintahan Trump berulang kali mengatakan bahwa mereka memperkirakan operasi akan singkat dan akan berakhir dalam empat hingga enam minggu.
Sejak melewati tenggat waktu tersebut, pemerintahan telah mengubah kerangka waktunya, sambil menekankan bahwa konflik AS sebelumnya telah berlangsung jauh lebih lama.
“Tidak seperti perang tanpa akhir di masa lalu yang berlarut-larut selama bertahun-tahun dan puluhan tahun tanpa hasil yang berarti, Operasi Epic Fury telah memberikan hasil militer yang menentukan hanya dalam beberapa minggu,” kata Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam konferensi pers Jumat pagi.
"Perang di Korea, Vietnam, Irak, dan Afghanistan semuanya membutuhkan waktu bertahun-tahun, puluhan tahun, dengan “misi yang tidak jelas, situasi yang berubah-ubah dan “sedikit hasil yang bisa ditunjukkan,” urai Hegseth, menggemakan bahasa serupa yang digunakan oleh Trump.
Hegseth menegaskan bahwa operasi Iran “telah difokuskan sejak awal” pada tujuan agar Iran tidak pernah mendapatkan senjata nuklir. Faktanya, pemerintahan awalnya mengajukan narasi yang berubah-ubah tentang tujuan perang, termasuk perubahan rezim dan kekhawatiran tentang keselamatan para demonstran Iran.
Trump mengatakan pada hari Kamis bahwa dia tidak terburu-buru untuk membuat kesepakatan perdamaian, dengan mengatakan bahwa perang tersebut memiliki dampak yang lebih kecil pada harga saham dan minyak daripada yang dia perkirakan.

