Bagikan

Perang Iran Picu Inflasi Inggris Hingga 3,3%

Poin Penting

Inflasi tahunan Inggris naik menjadi 3,3% pada Maret 2026 akibat lonjakan harga bahan bakar dan biaya bahan baku pabrik.
Harga minyak global yang menembus US$100 per barel memicu kenaikan biaya hidup di Prancis dan menaikkan inflasi zona euro ke angka 2,5%.
Ketidakpastian di Selat Hormuz menciptakan risiko stagflasi dan membuat Bank of England kemungkinan besar menahan suku bunga sepanjang tahun.

JAKARTA, Investortrust.id — Dampak perang Iran mulai menjalar nyata ke ekonomi Eropa. Inggris mencatat lonjakan inflasi tahunan menjadi 3,3% pada Maret 2026. Sementara Prancis mulai mengalami tekanan harga yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Data inflasi Inggris dilaporkan CNBC pada Rabu (22/04/2026) pukul 02.07 EDT (13.07 WIB), mengutip rilis resmi Office for National Statistics (ONS). Sementara perkembangan di Prancis dan kawasan Eropa dirangkum dari berbagai laporan ekonomi, termasuk Reuters, Le Monde, dan analisis lembaga riset ekonomi Eropa hingga April 2026.

Di Inggris, inflasi meningkat dari 3% pada Februari menjadi 3,3% pada Maret 2026—sesuai ekspektasi ekonom yang disurvei Reuters. Kenaikan ini menjadi bukti awal bahwa perang Iran telah mulai mendorong kenaikan harga konsumen secara langsung.

Kepala Ekonom ONS, Grant Fitzner, menegaskan bahwa lonjakan tersebut terutama dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar yang mencatat peningkatan terbesar dalam lebih dari tiga tahun terakhir. “Tarif penerbangan dan harga makanan juga ikut mendorong inflasi bulan ini,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa biaya bahan baku dan harga barang dari pabrik meningkat signifikan, terutama akibat lonjakan harga minyak mentah dan bensin.

Baca Juga

Iran Siap Runding Jika AS Cabut Blokade Hormuz

Peta Timur Tengah yang mengggambaran posisi negara Iran yang tengah berperang dengan Israel. Foto: Britannica

Tekanan serupa mulai terlihat di Prancis, meskipun skalanya masih lebih moderat. Inflasi Prancis tercatat berada di kisaran sekitar 1,7% pada Maret 2026, meningkat dari sekitar 0,9% pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh lonjakan harga energi yang merambat ke sektor transportasi dan konsumsi rumah tangga.

Secara kawasan, inflasi zona euro juga menunjukkan tren naik, mendekati 2,5% pada Maret 2026, dengan kontribusi utama berasal dari kenaikan harga energi. Pemerintah Prancis mengakui dampak ekonomi dari konflik tersebut. Perdana Menteri Prancis memperkirakan krisis Timur Tengah dapat menambah beban anggaran hingga €6 miliar pada 2026, seiring kenaikan biaya energi dan tekanan fiskal.

Lonjakan inflasi di Eropa tidak terlepas dari dinamika Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut sejak pecahnya konflik pada akhir Februari 2026 telah mendorong harga minyak global melonjak tajam.

Harga minyak Brent bahkan sempat menembus di atas US$100 per barel, sementara harga gas alam cair (LNG) dilaporkan melonjak hingga sekitar 50%. Sejumlah laporan Al Jazeera dan Reuters sebelumnya juga menegaskan bahwa volatilitas harga energi global sangat dipengaruhi oleh situasi di Selat Hormuz.

Sebagai negara net importir energi, Inggris dan Prancis sangat rentan terhadap guncangan tersebut. Kenaikan harga minyak dan gas langsung diteruskan ke biaya transportasi, produksi, hingga harga barang konsumsi.

Ekonom Deutsche Bank, Sanjay Raja, dalam komentarnya yang dikutip CNBC (22/4/2026), memperingatkan bahwa dampak konflik Iran terhadap harga energi di Inggris masih akan berlanjut. “Harga bahan bakar di pompa dan minyak pemanas berpotensi meningkat tajam hingga akhir kuartal ini,” ujarnya.

Senada, Kepala Ekonom ICAEW, Suren Thiru, memproyeksikan inflasi Inggris dapat melampaui 4% pada musim gugur jika tekanan harga energi dan pangan terus berlanjut.

Ilustrasi perang AS-Israel melawan Iran. Foto: themedialine.org

Baca Juga

Selat Hormuz Membara di Tengah Tersumbatnya Jalan Damai AS–Iran

Di Prancis, lembaga riset seperti Capital Economics juga mencatat peningkatan ekspektasi inflasi, mencerminkan kekhawatiran bahwa tekanan harga akibat konflik Iran akan berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Kondisi ini menempatkan bank sentral di Eropa dalam dilema kebijakan. Sebelum perang pecah pada 28 Februari 2026, Bank of England diperkirakan akan mulai menurunkan suku bunga seiring meredanya inflasi. Namun, lonjakan harga energi kini membuka kemungkinan perubahan arah kebijakan.

Meski demikian, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan Bank of England akan tetap menahan suku bunga sepanjang tahun ini, dengan pertimbangan bahwa lonjakan inflasi bersifat eksternal.

Di sisi lain, risiko stagflasi mulai membayangi—kombinasi pertumbuhan ekonomi yang melambat, inflasi tinggi, dan meningkatnya pengangguran—jika tekanan harga energi berlangsung lebih lama.

Perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor penentu. Ketidakpastian seputar gencatan senjata AS–Iran, blokade di Selat Hormuz, dan tertundanya perundingan damai membuat pasar global terus waspada.

Dengan demikian, lonjakan inflasi di Inggris dan tekanan harga di Prancis menjadi sinyal kuat bahwa perang Iran telah menjalar ke ekonomi global. Ketika energi menjadi pemicu utama, setiap eskalasi di Timur Tengah tidak lagi berhenti di kawasan konflik, tetapi langsung diterjemahkan menjadi tekanan biaya hidup di Eropa dan dunia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024