Penurunan Harga Minyak Tertahan Setelah Iran Kembali Blokade Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Iran kembali memperketat akses Selat Hormuz pada Sabtu (18/04/2026), hanya beberapa jam setelah sebelumnya menyatakan jalur energi paling vital dunia itu dibuka. Langkah ini diambil sebagai respons atas berlanjutnya blokade laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran, yang oleh Teheran disebut sebagai “pelanggaran kepercayaan” dalam kerangka gencatan senjata. Akibatnya, penurunan harga minyak mentah tertahan.
Perkembangan ini dilaporkan CNN, Sabtu (18/04//2026), serta dikonfirmasi oleh The New York Times dalam pembaruan pada hari yang sama, yang menyebut Selat Hormuz kini kembali berada di bawah “kendali ketat” militer Iran. Sebelumnya, pada Jumat (17/04/2026), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan selat tersebut “sepenuhnya terbuka”, memicu optimisme pasar global bahwa konflik mulai mereda.
Namun dinamika berubah cepat. Dalam waktu kurang dari 24 jam, Iran membalikkan keputusan tersebut setelah Amerika Serikat menegaskan blokade laut tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan final untuk mengakhiri perang. Media The Guardian pada 18 April 2026 juga melaporkan bahwa Iran menyebut tindakan AS sebagai bentuk “piracy” dan memperingatkan akan kembali menutup selat jika tekanan militer tidak dihentikan.
Ketidakpastian ini langsung tercermin di pasar energi global. Ketika Selat Hormuz sempat dinyatakan dibuka pada 17 April 2026, harga minyak dunia mengalami penurunan tajam. Berdasarkan laporan Reuters (17 April 2026), harga minymentah Brent ditutup turun sekitar 9% ke US$90,38 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) jatuh lebih dalam sekitar 11% ke US$83,85 per barel. Penurunan ini menjadi salah satu yang terbesar sejak awal konflik, mencerminkan ekspektasi pasar bahwa pasokan energi global akan segera pulih.
Laporan Investopedia dan Barron’s juga mencatat Brent sempat bergerak di kisaran US$90–92 per barel, sementara WTI berada di rentang US$83–86 per barel. Bahkan, menurut The Times, Brent sempat menyentuh titik terendah intraday di sekitar US$87,94 per barel sebelum kembali stabil mendekati US$90.
Baca Juga
Iran Perketat Kembali Selat Hormuz, AS Dituduh Langgar Gencatan Senjata
Namun setelah Iran kembali memperketat akses pada 18 April 2026, harga minyak tidak melanjutkan tren penurunan. Data perdagangan menunjukkan Brent cenderung bertahan di kisaran US$90–91 per barel, sementara WTI bergerak stabil di sekitar US$83–85 per barel. Hal ini menunjukkan bahwa aksi jual besar telah terjadi sehari sebelumnya, sementara pasar kini memasuki fase wait and see di tengah ketidakpastian arah konflik.
Penurunan harga sebelumnya mencerminkan sensitivitas pasar terhadap status Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketika selat dibuka, pasar langsung merespons dengan ekspektasi peningkatan suplai. Sebaliknya, ketika Iran kembali memperketat akses, risiko gangguan pasokan kembali meningkat, sehingga harga tertahan dan tidak turun lebih dalam.
Meski demikian, pembatasan Iran tidak sepenuhnya meniadakan efektivitas blokade AS. Secara operasional, blokade Washington tetap mampu menahan kapal-kapal yang terkait dengan Iran. Namun, kontrol geografis Iran atas Selat Hormuz membuat AS tidak dapat menjamin kelancaran penuh arus pelayaran global. Kondisi ini menciptakan situasi di mana kapal non-Iran secara prinsip masih dapat melintas, tetapi dalam praktik menghadapi risiko tinggi, ketidakpastian aturan, serta potensi gangguan keamanan.
Laporan Reuters pada 18 April 2026 menunjukkan bahwa meskipun sempat terjadi pergerakan konvoi tanker melalui selat tersebut, banyak operator kapal tetap bersikap hati-hati, bahkan sebagian memilih menunda perjalanan karena ketidakjelasan situasi di lapangan.
Dengan demikian, episode pembukaan singkat Selat Hormuz tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar. Harga minyak memang sempat turun tajam saat ada harapan normalisasi suplai, tetapi tidak berlanjut setelah ketegangan kembali meningkat. Volatilitas tetap tinggi karena konflik belum benar-benar mereda, menjadikan Selat Hormuz kembali sebagai titik krusial yang menentukan arah pasar energi global—di mana setiap perubahan status, bahkan dalam hitungan jam, langsung mengguncang harga minyak dunia.

