Arif Sampaikan Pesan TP Rachmat: “All Out” Bangun Indonesia
JAKARTA, investortrust.id – Meski Indonesia sudah mencatat kemajuan, masih banyak saudara sebangsa yang masih hidup di bawah garis kemiskinan, bahkan kemiskinan ekstrem. Oleh karena itu, semua pelaku usaha, terutama yang sudah sukses, harus all out ikut membangun Indonesia, ikut berpartisipasi aktif menyukseskan program pemerintah.
“Pesan ayah saya, Pak Teddy (Theodore Permadi Rachmat —Red), pelaku usaha yang sudah sukses harus giving back the country, to the nation. Dukung program pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% tahun 2029 dan mengenolkan kemiskinan ekstrem tahun depan,” kata Arif Patrick Rachmat, komisaris Triputra Group pada acara buka puasa bersama manajemen Triputra Group dengan para pemimpin redaksi dan jurnalis senior di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Rabu (04/03/2026).
Ini adalah tahun kedua Teddy Rachmat, 83 tahun, hadir pada buka puasa bersama para pemimpin media dan jurnalis senior, namun tidak memberikan kata sambutan. Peran untuk menyampaikan kata sambutan dipercayakan kepada putranya, Arif. “Ayah saya tidak lagi menghadiri acara pernikahan dan undang penting lainnya. Tapi, untuk buka puasa dengan para pemred dan wartawan senior, Pak Teddy berusaha hadir, jelas Arif.
Baca Juga
Triputra Agro (TAPG) Optimalkan Limbah POME Jadi Listrik Mandiri
Potensi Indonesia untuk bertumbuh sangat besar. Jika semua komponen bangsa bersatu, Indonesia akan maju lebih cepat. “Pesan Pak Teddy, mari kita kesampingkan perbedaan, satukan tujuan. Jika tidak bisa menjadi bagian dari solusi, janganmenjadi bagian dari problem,” ungkap Arif.
Triputra Group, kata Arif, terus memperkuat komitmennya dalam tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) melalui berbagai program yang berfokus pada pengembangan UMKM, pemberdayaan petani, pendidikan, kesehatan, serta pelestarian lingkungan di wilayah operasionalnya. Program-program tersebut dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memastikan praktik bisnis perusahaan berjalan secara berkelanjutan.
Di bidang lingkungan dan keberlanjutan, demikian Arif, Triputra Group melalui anak usahanya, PT Triputra Agro Persada (TAP), menjalankan konservasi keanekaragaman hayati melalui program Taman Kehati, termasuk pengelolaan kawasan Hutan Mayong Merapun dan Hutan Sungai Letta di Kalimantan Timur. Selain itu, Triputra juga mengembangkan program Desa Makmur Peduli Api yang bertujuan mendorong pencegahan kebakaran hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Berbagai inisiatif tersebut mendapatkan pengakuan nasional, antara lain Gold Champion untuk program Kehati pada ajang Bisnis Indonesia Corporate Social Responsibility Awards (BISRA) 2025 serta Special Award Transformative Economic Award untuk program Desa Makmur Peduli Api. Selain itu, Triputra Group juga aktif memberikan bantuan kemanusiaan, seperti bantuan bencana banjir dan longsor di Sumatra serta kegiatan sosial lainnya, sebagai bagian dari komitmen perusahaan untuk “Give Back to the Nation” dan menciptakan dampak sosial jangka panjang bagi masyarakat.
Sebagai orang yang berwawasan luas, Pak Teddy tahu persis salah satu syarat penting menjadi negara maju dan mengapa ada negara gagal. Semua negara maju berhasil mencapai level itu karena elitenya bersatu dan semua pelaku usaha bekerja sama mendukung pemerintahnya. Negara seperti Afghanistan dan Sudan jauh dari sejahtera, bahkan menuju negara gagal, karena elitenya tidak bersatu.
Restrukturisasi
Triputra Group, lanjut Arif, baru saja melakukan restrukturisasi organisasi.Teddy Rachmat menjadi chairman emeritus. Posisi chairman atau komisaris utama diserahkan kepada putra pertamanya, Christian Ariano Rachmat. Hadi Kasim yang sebelumnya menjabat CEO Grup Triputra kini dipercaya menjadi wakil komisaris utama. Chandra Karya Hermanto, yang sebelumnya CEO PT Triputra Agro Persada Tbk dipercayakan sebagai CEO Triputra Group.
“Saya menjadi komisaris, sedang kakak saya, Ario (Christian Ariono Rachmat —Red) menjadi chairman Triputra Group. Mohon maaf, Pak Aryo ada dinas ke luar negeri,” jelas Arif. Regenerasi ini dilakukan agar perusahaan tetap relevan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan konsumen.
Triputra juga menata ulang lini bisnis dengan memfokuskan kegiatan pada tiga lini bisnis, yakni bisnis padat karya, industri manufaktur, dan services.Industri perkebunan kelapa sawit di Indonesia tergolong sebagai sektor padat karya karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di berbagai tahapan produksi. Kegiatan mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan dan pengangkutan tandan buah segar (TBS) masih sangat bergantung pada tenaga manusia, sehingga membutuhkan ribuan pekerja di setiap wilayah perkebunan.
Selain menciptakan lapangan kerja langsung di kebun, industri sawit juga memiliki multiplier effect yang luas terhadap perekonomian perdesaan. Aktivitas perkebunan menggerakkan berbagai sektor pendukung seperti transportasi, perdagangan, serta jasa pengolahan hasil sawit. Secara keseluruhan, industri ini diperkirakan melibatkan belasan juta tenaga kerja di Indonesia, menjadikannya salah satu penopang utama kesempatan kerja dan pertumbuhan ekonomi di wilayah perdesaan.
Kedua, demikian Arif, Triputra memperkuat industri manufaktur. Melalui PT Apparel One Indonesia (AOI) yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah, Triputra Group terlibat dalam rantai pasok global industri apparel dengan memproduksi pakaian jadi, termasuk produk olahraga Adidas. Kolaborasi ini mencerminkan peran Indonesia sebagai basis manufaktur penting bagi merek internasional, sekaligus menunjukkan kapasitas industri garmen nasional dalam memenuhi standar produksi dan kualitas global.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, investor global lebih tertarik investasi di Vietnam. “Pertanyaannya sederhana: mengapa investor harus menanamkan modal di Vietnam? Mengapa tidak di Indonesia? Ini yang ingin terus menjadi perhatian kita,” ujarnya.
Pada acara Indonesia Economic Summit (IES), acara tahunan yang diselenggarakan oleh Indonesian Business Council (IBC), 304 Februari 2026, para pemimpin bisnis global, pembuat kebijakan, pemikir, serta pelaku industri bertemu di Jakarta membahas membahas berbagai isu strategis, mulai dari industrialisasi, kebijakan fiskal dan moneter, investasi, ketahanan pangan, transisi energi, reformasi badan usaha milik negara, hingga diversifikasi pasar internasional, green protectionism, dan pengembangan talenta manusia.
“Pada forum itu ada pihak yang menyarankan dibuatkan white paper tentang roadmap industri Indonesia dengan dibangunnya economic zone agar ada panduan yang jelas bagi investor,” kata Arif. Economic zone merujuk pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), wilayah tertentu yang ditetapkan pemerintah dengan aturan ekonomi khusus untuk mendorong investasi, perdagangan, atau industri. Kawasan ini sering mendapat fasilitas seperti insentif pajak, kemudahan perizinan, dan infrastruktur khusus.
Jika KEK ditata lebih baik, terpadu dengan berbagai infrastruktur dan fasilitas fiskal, investor akan tertarik. “Penting sekali kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, dan mitra internasional untuk meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia,” jelas Arif.
Ketiga adalah sektor jasa. Salah satu sektor jasa yang quick yielding adalah pengiriman pekerja migran ke luar negeri. Banyak negara yang membutuhkan pekerjadari Indonesia, terutama caregiver, perawat rumah sakit, dan pekerja tambang. Sektor ini cepat menghasilkan devisa. Arief memberikan contoh Filipina. Sekitar 12% populasi negeri itu bekerja sebagai tenaga kerja terampil di luar negeri dan menghasilkan remitansi hingga US$ 43 miliar per tahun.
“Bayangkan jika Indonesia bisa mempersiapkan tenaga kerja terampil secara sistematis. Potensi remitansinya bisa mencapai US$ 100 miliar, bahkan bisa melampaui kontribusi industri sawit,” katanya.
Jakarta Food Security Summit
Triputra berpartisipasi penuh pada rencana Kadin Indonesia menggelar Jakarta Food Security Summit (JFSS) 2026,tanggal 20–21 Mei 2026. “Kita berharap, acara ini bisa dihadiri Presiden,” katanya.
Sektor pertanian Indonesia sangat luas dan produknya sangat beragam. Triputa Group bersama Kadin dan sejumlah mitra internasionalmengembangkan program pemberdayaan petani melalui Indonesia Food Security Initiative. Program tersebut menargetkan peningkatan produktivitas pertanian, pengurangan kemiskinan, serta penurunan emisi karbon melalui penerapan teknologi pertanian modern.
Melalui program tersebut, jaringan yang telah dibangun menjangkau sekitar 2,7 juta petani di lebih dari 17.000 desa di Indonesia. “Targetnya adalah meningkatkan produktivitas hingga 20%, menurunkan tingkat kemiskinan di pedesaan sekitar 2%, serta mengurangi emisi karbon sektor pertanian hingga 20%.
Selain itu, perusahaan juga mendorong inovasi di sektor kelautan, khususnya budidaya rumput laut. Indonesia saat ini merupakan produsen terbesar rumput laut tropis di dunia. Triputra Group mendukung sejumlah startup yang menyediakan bibit unggul dan akses pembiayaan bagi petani rumput laut, termasuk melalui kerja sama dengan sektor perbankan.
Salah satu inovasi yang tengah dikembangkan adalah pemanfaatan rumput laut sebagai bahan biostimulan untuk meningkatkan kualitas tanah pertanian. Teknologi ini diharapkan dapat membantu memperbaiki kesuburan tanah sekaligus meningkatkan produktivitas lahan.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Triputra Group berharap dapat berkontribusi lebih besar dalam pembangunan ekonomi nasional, khususnya melalui peningkatan investasi, pengembangan sumber daya manusia, dan pemberdayaan sektor pertanian.
“Kami percaya dunia usaha harus menjadi bagian dari solusi bagi pembangunan bangsa. Karena itu kami selalu terbuka terhadap masukan dan kritik, termasuk dari rekan-rekan media,” ujarnya.
Manajemen berharap dialog dengan media dapat terus terjalin secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi Indonesia yang lebih kuat dan inklusif.
Jalin Hubungan
Menyetir pesan ayahnya, Arif mengatakan, Triputra akan terus menjalin hubungan baik dengan media massa arus utama di Indonesia. Diakui, perkembangan Triputra hingga level saat ini adalah juga berkat dukungan media.
Triputra dan sejumlah perusahaan yang dibangun oleh mantan pemilik dan eksekutif PT Astra International Tbk memiliki hubungan baik dengan media massa. “Ini sudah menjadi corporate culture. Tahun depan, Pak Teddy berpesan agar caranya lebih bagus lagi,” jelas Arif.
Hubungan baik perusahaan dengan media sudah terjalin bagus sejak Aminuddin Nurdin menjadiCorporate Secretary & Corporate Communication Astra. Tradisi itu terus berlanjut hingga saat ini, baik di Astra maupun di Triputra. Aminuddin kini masih bersama Triputra.(Pd)

