Mengapa AS Begitu Bernafsu Menguasai Greenland?
Poin Penting
| ● | Greenland adalah kunci geopolitik dan keamanan abad ke-21 bagi AS: |
| ● | Sumber daya mineral langka Greenland menjadi faktor penentu dominasi militer dan industri AS |
| ● | Retorika keras Trump tidak berarti invasi militer - strateginya adalah tekanan dan negosiasi |
Jakarta, investortrust.id – Pada tahun 2019, di masa jabatan kepresidenannya yang pertama, Presiden AS waktu itu, Donald Trump melontarkan pernyataan yang cukup mengejutkan dunia. Ia ingin AS membeli Greenland dari Denmark. Seperti dikutip dari Reuters, pertengahan Agustus 2019, Trump meminta para penasihatnya untuk mencari kemungkinan membeli Greenland karena menurut Trump, salah satu pulau terbesar di dunia itu memiliki nilai strategis yang sangat penting bagi Amerika Serikat.
Ucapan itu langsung menuai reaksi penolakan yang langsung dan tegas dari pemerintah Denmark dan otoritas Greenland seperti diberitakan oleh kantor berita Deutsche Welle. Kedua pihak tersebut langsung merespon dengan cepat bahwa Greenland tidak dijual!
Itulah kali pertama seorang Presiden AS yang sedang aktif menjabat melontarkan gagasan di masa kini untuk membeli wilayah di luar AS dengan serius. Sebelumnya, banyak laporan yang mengatakan bahwa ide tersebut dianggap sebagai usulan yang aneh dan tidak populer.
Kini, Trump yang kembali berkuasa setelah sempat disela oleh Pemerintahan Joe Biden mengulang gagasannya tersebut. Tercatat tiga kali Trump mengeluarkan pernyataan untuk mengambil alih Greenland sejak ia terpilih sebagai Presiden AS untuk kedua kalinya pada tahun 2024.
Pada pidatonya di sidang gabungan Kongres, Trump dengan sedikit lebih lunak mengatakan bahwa dia memiliki pesan untuk rakyat Greenland. 'Kami sangat mendukung hak Anda (rakyat Greenland) untuk menentukan masa depan Anda sendiri,' katanya.
"Jika Anda memilih, kami (akan) menyambut Anda (bergabung) ke Amerika Serikat."
Mengacu pada tujuannya agar AS mengambil alih Greenland, Trump mengatakan: "Saya pikir kita akan mendapatkannya – dengan satu atau lain cara, kita akan mendapatkannya... Kami akan menjaga Anda tetap aman. Kami akan membuat Anda kaya dan bersama-sama kita akan membawa Greenland ke ketinggian yang belum pernah Anda bayangkan sebelumnya."
Mengapa Trump begitu bernafsu menguasai Greenland? Keinginan AS untuk menguasai Greenland bukan sekedar manuver eksentrik ala Donald Trump. Di balik Greenland yang tidak sepenuhnya 'hijau' itu terdapat kunci kemenangan geopolitik abad 21. Setidaknya demikian menurut Trump.
Apa saja faktor yang diincar Trump dengan menguasai Greenland? Di pulau yang hanya dihuni sekitar 55 ribu jiwa ini tersimpan peran yang sangat penting; yaitu kontrol atas jalur Arktik dan dominasi militer di kawasan dan juga secara global. Selain itu Greenland menyimpan berbagai jenis mineral dan logam tanah jarang (Rare Earth Elements/REE).
Geografi Militer dan Keamanan Nasional AS
Lokasi Greenland sangat strategis dan menjadikannya sebagai posisi kunci untuk pertahanan dan pengawasan. Terletak di antara Amerika Utara dan Eropa, Greenland bisa berfungsi sebagai titik pusat pantauan Arktik dan Atlantik Utara. Walaupun kini AS mengoperasikan Pangkalan Luar Angkasa Pituffik (sebelumnya Pangkalan Angkatan Udara Thule) di barat laut Greenland berdasarkan perjanjian pertahanan dengan Denmark, Trump ingin lebih.
Pangkalan Militer AS di Greenland saat ini mempunyai kapabilitas untuk mendukung sistem peringatan rudal, pelacakan ruang angkasa dan satelit serta pemantauan kawasan Arktik. Fungsi-fungsi ini sangat penting bagi AS untuk peringatan dini terhadap ancaman rudal dari arah timur dan pemantauan pergerakan militer global.
Posisi Greenland memberikan akses untuk memantau celah GIUK (Greenland–Islandia–UK/Inggris). Greenland menjadi titik penting bagi armada angkatan laut NATO untuk melacak kapal selam dan angkatan laut Rusia. Fitur-fitur ini menjadikan Greenland bagian dari arsitektur pertahanan utara NATO, bukan sekadar perebutan sumber daya. Namun kali ini AS ingin kendali sepenuhnya atas Greenland dan tidak bergantung kepada NATO yang berada di Eropa.
Di dekat Greenland terjadi persaingan kekuatan besar. Arktik adalah area di mana Rusia dan Tiongkok terus berusaha meningkatkan kehadiran mereka. Rusia saat ini sedang memperluas infrastruktur militer mereka di kawasan Arktik secara masif dan intensif.
Sedangkan China terus mempromosikan dirinya sebagai "negara dekat Arktik" dan membangun pengaruh melalui proyek-proyek seperti Jalur Sutra Kutub. Seperti dikutip dari kantor Berita AP.
Trump berpendapat bahwa akuisisi Greenland berarti mencegah dua negara tersebut mendapatkan pijakan strategis di dekat Amerika Utara. Ambisi Donald Trump terkait Greenland tidak berasal dari satu motif tunggal atau obsesi pribadi yang tiba-tiba. Ambisi itu didorong oleh perpaduan pemikiran strategis, pola pikir bisnis, dan persaingan kekuatan besar, yang disaring melalui gaya kepemimpinan Trump yang tidak konvensional.
Perspektif Pengusaha Properti
Donald Trump adalah seorang pengusaha. Sialnya, ia seorang pengusaha properti yang ulung. Menurut Trump, wilayah adalah kekuasaan. Trump memandang dunia bukan seperti diplomat tradisional, melainkan lebih seperti negosiator properti dan kekuasaan.
Dari perspektifnya, tanah adalah pengaruh. Dan lokasi memberikan keunggulan strategis. Dengan kepemilikan atau kontrol maka hal ini menjamin keamanan jangka panjang AS dan juga menjamin semua kepentingan nasional AS. Ingat, Trump pernah berkata kepentingan AS di atas kepentingan internasional. Lebih gawat lagi, Trump juga tidak peduli dengan hukum internasional.
Greenland adalah salah satu pulau terbesar di dunia, populasinya sangat rendah, memiliki lokasi strategis, kaya akan sumber daya yang belum dimanfaatkan. Bagi Trump, Greenland seperti hadiah lotere yang hanya muncul sekali dalam seabad.
Amerika Serikat punya sejarah akuisisi berbagai wilayah. AS pernah melakukan pembelian wilayah seperti negara bagian Florida dari Spanyol, Kepulauan Virgin dari Denmark, Louisiana dari Prancis, Arizona dan New Mexico dari Mexico dan Alaska dari Rusia. Yang terakhir ini dulu menuai ejekan, namun kemudian terbukti tak ternilai harganya.
Jadi dalam logika Trump, “Jika Greenland berharga dan strategis, mengapa Amerika tidak menginginkannya?” Maka Trump mengajukan ide untuk mengelola Greenland sebagai aset bagi strategi militer AS. Ini adalah alasan sebenarnya. Celakanya, ini adalah alasan yang paling serius dan kini diterima secara luas.
Trump terus mengkampanyekan kekhawatiran akan peningkatan kekuatan militer Rusia di kawasan Arktik dan Tiongkok yang mencoba membangun berbagai proyek infrastruktur di area yang sama.
Trump membutuhkan Greenland sebagai perisai dan kawasan penyangga sekaligus batu pijakan untuk (bila diperlukan) melancarkan pre-emptive strike. Ia percaya dengan menguasai dan mengelola Greenland maka AS tidak lagi bergantung pada Denmark dan Eropa. Sekaligus mengunci dominasi keamanan di kawasan itu.
Seperti diberitakan oleh Radio Free Europe, Jenderal Purnawirawan AS Terrence J. O'Shaughnessy, yang menjabat sebagai komandan Komando Utara AS, mengatakan dalam sidang Senat bahwa jika Rusia menyerang Amerika Serikat, kemungkinan besar akan melakukannya melalui Arktik.
"Arktik bukan lagi tembok benteng, dan lautan kita bukan lagi parit pelindung; kini keduanya bagaikan 'bulevar' bagi musuh untuk mendekati kita." katanya dalam sidang tersebut.
Terrence menambahkan bahaw Rusia memiliki kehadiran militer yang jauh lebih besar di Arktik dibanding kekuatan AS di sana. Rusia juga terus berinvestasi besar-besaran di Arktik dalam kemampuan militer di Greenland meskipun mereka tengah berperang dengan Ukraina.
Timbunan Sumber Daya Alam
Selain mengajukan 'hantu' ancaman Rusia dan China, Trump memandang bahwa menguasai Greenland adalah strategi investasi jangka panjang. Di sana terdapat timbunan harta karun berupa logam tanah jarang (Rare Earth Elements - REE) dan sejumlah besar (diduga) uranium, grafit, seng dan besi, minyak dan mineral lainnya.
Khusus untuk logam tanah jarang (REE), saat ini Tiongkok mendominasi sebagai penghasil REE terbesar di dunia. Bila benar di Greenland terdapat REE dengan jumlah yang signifikan, maka AS dapat memenuhi kebutuhan mereka untuk REE. REE bagi negara-negara maju memiliki nilai strategis. Mineral ini sangat dibutuhkan untuk pengembangan rudal, jet tempur tingkat lanjut, satelit, kontrol logistik, kendaraan listrik, senjata laser, sistem komunikasi dan elektronik yang canggih.
Semua hal tersebut menjamin keberlangsungan militer yang unggul dan kuat. Trump ingin mematahkan dominasi Tiongkok dalam rantai pasokan REE dunia dan menurunkan kerentanan industri militer AS karena ketergantungan pada mineral asing.
Logam tanah jarang apa saja yang diduga terkandung di Greenland? Situs Lembaga Survei Geologi Denmark dan Greenland (GEUS), – lembaga penelitian dan konsultasi independen yang berorientasi internasional di bawah Kementerian Iklim, Energi, dan Utilitas Denmark, menyebutkan bahwa Greenland mengandung Rare Earth Element (REE) seperti Neodymium (Nd), Dysprosium (Dy), Terbium (Tb), Yttrium (Y), dan Erbium & Ytterbium (Er, Yb). Lalu juga ada sejumlah Uranium, Zinc, niobium, tantalum (untuk elektronik & senjata), Fluorspar (untuk misil, aluminum dan pemrosesan nuklir).
Untuk apa saja elemen tersebut? Neodymium sangat penting untuk aktuator pesawat tempur, sistem pemandu misil, radar hingga motor penggerak kendaraan listrik atau turbin angin dan air. Aktuator adalah komponen yang mengubah energi (listrik, hidrolik, atau pneumatik) menjadi gerakan atau gaya fisik, memungkinkan otomatisasi dan pergerakan yang presisi. Komponen ini menerjemahkan sinyal kontrol menjadi aksi mekanis, menghasilkan gerakan linier (garis lurus) atau rotasi (melingkar).
Sementara Dysprosium diperlukan untuk mencegah kegagalan magnet pada temperatur tinggi seperti misalnya pada mesin jet, motor penggerak untuk keperluan militer atau Angkatan Laut (Naval propulsion systems). Tanpa dysprosium, magnet berpotensi ngadat saat bermanuver dengan kecepatan tinggi dalam pertempuran.
Terbium sangat penting bagi lompatan teknologi jet tempur siluman generasi ke-6. Ia menyerap radar dengan sangat baik sehingga berpeluang memperkecil radar-cross-section (RCS) dan membuat jet tempur yang dikembangkan dengan terbium menjadi 'tidak terlihat'.
Rekor dunia untuk RCS terkecil saat ini masih dipegang F-22 Raptor. Hampir sebesar burung di layar radar lawan. F-35 lima kali lebih besar dari F-22. Tapi AS belum puas. Mereka sedang mengembangkan The Next Generation Air Dominance (NGAD), atau F-47. Sebuah jet tempur generasi ke-6 yang digadang akan lebih siluman dibanding F-22 Raptor. Terbium sangat penting untuk pengembangan teknologi siluman dan ISR (intelligence, surveillance, and reconnaissance/intelijen, pengawasan, dan pengintaian).
Lalu ada lagi Yttrium yang penting untuk senjata laser dengan intensitas tenaga tinggi, pelapis penghalang panas untuk mesin jet, dan pengembangan keramik tingkat lanjut yang sangat rumit. Jika menguasai teknologi keramik dengan Yttrium, maka AS akan mampu menciptakan lapisan anti panas dan anti peluru yang sangat ringan. Yttrium merupakan komponen inti dari senjata laser dan pelapis kendaraan hipersonik.
Yang terakhir adalah Erbium & Ytterbium yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan komunikasi dengan fiber optik tingkat lanjut, keamanan data satelit dan juga senjata laser. Semua elemen tanah jarang tersebut memungkinkan AS mengontrol sistem persenjataan yang terintegrasi, pembagian data antar unit sistem senjata yang anti jamming, komunikasi tingkat lanjut dan canggih serta pengendalian energi untuk keperluan pertahanan, – atau invasi. Greenland memiliki jumlah signifikan untuk semua REE tersebut.
Disamping timbunan REE tersebut, Greenland juga memiliki uranium, zinc, niobium, dan tantalum yang sangat berharga untuk senjata, senjata elektronik dan elektronik tingkat lanjut untuk keperluan sipil. Ada juga fluorspar yang dibutuhkan untuk pengembangan misil, aluminum dan pemrosesan nuklir.
Perkembangan Tiongkok Membuat Cemas AS
Logam Tanah Jarang menjadi kunci untuk meningkatkan kapabilitas jet tempur siluman Amerika seperti F-22 dan F-35. Elemen tanah jarang itu menyempurnakan fitur stealth, sensor, mesin, dan sistem pembuangan jet tempur andalan AU AS. Dengan logam tanah jarang, AS semakin pede mengembangkan senjata laser dan rail gun – sebuah senjata yang menggunakan energi elektromagnetik sebagai peluncur dan memiliki daya hancur yang luar biasa dibanding meriam konvensional.
Dari semua itu, sistem senjata F-22, F-35 dan program NGAD lah yang sangat bergantung pada REE. Diikuti oleh pengembangan untuk drone, misil dan laser. Dengan REE, militer AS akan mendapatkan sebuah material yang lebih efektif, lebih tahan panas dalam kondisi ekstrem, lebih kuat dan jauh lebih ringan. Dengan demikian menghemat penggunaan energi.
Inilah mengapa AS peduli dengan rantai pasokan magnet tanah jarang, bahkan untuk sistem seperti railgun. AS diketahui sedang mengembangkan beberapa program jet tempur dan bomber karena melihat perkembangan Angkatan Udara Tiongkok yang sangat pesat. Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLAAF) diketahui memiliki sejumlah jet tempur generasi kelima atau stealth seperti J-20, J-31 dan J-35.
Dari ketiga itu, J-20 telah operasional penuh dan J-31 belum sepenuhnya siap untuk melakukan pertempuran udara. Di dunia hanya ada tiga negara yang telah benar-benar memiliki jet tempur generasi kelima dan mengusung fitur siluman, yakni Tiongkok, Rusia dan paling kuat dan telah battle proven dari ketiga jenis jet tempur tadi adalah F-22 dan F-35 milik AU AS.
Rusia dengan Sukhoi Su-57 dan Tiongkok dengan J-20 dan J-35 masih memiliki radar cross section (RCS) yang lebih besar dibanding jet tempur siluman milik AS. Sistem pembuangan di bagian belakang jet Rusia dan China juga belum mengadopsi fitur siluman. Pun demikian dengan mesin. Jet tempur siluman menuntut mesin dan 'kulit' yang juga siluman.
Tambah pula, jet tempur siluman milik Rusia dan Tiongkok belum 'battle proven', meski dalam pertempuran terakhir, jet tempur buatan Tiongkok J-10C Dragon yang dioperasikan Pakistan mencatatkan kemenangan atas jet tempur Rafale buatan Prancis yang diterbangkan oleh pilot AU India. Namun kedua jenis jet yang terlibat saat itu bukanlah jet tempur siluman.
Tak hanya itu, Tiongkok juga memiliki dan terus mengembangkan sistem rudal balistik dan drone. Pada akhir tahun 2025, pada sebuah kesempatan, Vice President of the Center for China and Globalization, Victor Gao menyebutkan bahwa bila China diserang, mereka bisa merespon dengan misil balistik Dong Feng 61. Angka 61 berarti Dong Feng 61 (DF-61) dilengkapi dengan 60 hulu ledak nuklir dan satu hulu ledak hidrogen. Daya rusak yang sangat luar biasa besar. DF-61 diduga memiliki kecepatan mach 20 hingga 25. Yang artinya 20 hingga 25 kali kecepatan suara. Sangat sulit disergap.
"Kebijakan China sangat jelas. China tidak akan melepaskan tembakan pertama. Tetapi China tidak akan membiarkan Anda melepaskan tembakan kedua. Jika Anda belum menonton parade Hari Kemenangan di Beijing pada tanggal 3 September (2025), salah satu senjata yang kami demonstrasikan adalah rudal (DF-61) dengan (hulu ledaknya), kami menyebutnya 61." Kata Gao.
"Karena dapat memuat enam puluh hulu ledak nuklir ditambah satu bom hidrogen. Sekarang di dunia saat ini, izinkan (saya bertanya), negara mana yang (sat ini) memiliki bom hidrogen? China adalah satu-satunya negara yang memiliki bom hidrogen. Dan ICBM (DF-61) itu dapat menjangkau setiap sudut dunia dalam waktu kurang dari 20 menit. Dan menghancurkan target apa pun di sudut mana pun di dunia tanpa kemungkinan dicegat. Saya harap Washington dapat mengambil hikmah dari pelajaran ini." Demikian Victor Gao menegaskan.
Video: Courtesy of The World Youtube Chanel
Pertahanan yang paling baik adalah menyerang lebih dulu. Doktrin ini yang dianut oleh AS. Karena itu kekuatan udara dan laut harus unggul. AS sangat berambisi untuk mempertahankan keunggulan militer mereka dan tidak mau tergantung kepada Tiongkok dalam urusan suplai logam tanah jarang.
Nafsu AS untuk menguasai Greenland, selain faktor geopolitik, juga didorong oleh sumber daya mineral yang belum dijamah. Dengan kata lain, SDA yang dikandung Greenland menjamin produksi jangka panjang, memastikan dominasi udara dan laut AS tetap tak tertandingi. Dalam bahasa militer: superioritas absolut.
Dengan menguasai Greenland, AS akan mendapat manfaat besar lainnya. Industri pertahanan Amerika akan semakin berkembang karena pasokan di masa depan telah diamankan. Roda ekonomi dari industri pertahanan bergerak lebih cepat. AS akan lepas dari cekikan Tiongkok untuk pasokan REE. Ini bukan sekedar penambangan, tetapi tentang posisi strategis untuk beberapa dekade ke depan.
Greenland menyediakan keunggulan geopolitik jangka panjang bagi AS. Di sana bisa menjadi pangkalan rudal dan radar yang kuat, sekaligus titik pengawasan lintas benua. Dan bukan sekedar pulau, Greenland adalah ster (ratu) baru bagi AS di papan catur global.
Pemanasan Global Mengubah Peta Permainan
Dengan trend pemanasan global yang terus berlangsung, pencairan kawasan Arktik akan mengubah permainan. Halaman bermain tidak lagi hanya di Atlantik atau Pasifik. Perubahan iklim membuat pulau beku ini lebih penting dari sebelumnya. Laut yang dipenuhi es kini menjadi laut yang terbuka.
Rute pelayaran baru muncul. Kapal dagang dengan nilai ratusan miliar dolar, kapal perang, kapal mata-mata, kapal selam dari berbagai negara hilir mudik di kawasan Arktik. AS tidak ingin ada gerombolan lebah di belakang tengkuk mereka.
Mineral yang sebelumnya diselimuti es, kini semakin mudah digali. Pepatah klasik bilang, di mana ada gula di situ ada semut. Maka di mana ada harta karun, di situlah kehadiran militer meningkat.
Tapi Trump tidak membingkai ini sebagai perubahan iklim. Tidak, Trump tidak sebijak itu – AS bahkan keluar dari organisasi dunia untuk perubahan iklim. Namun para penasihatnya memahami bahwa Arktik menjadi papan catur global berikutnya dan Greenland adalah kotak tengahnya.
Gaya negosiasi Trump membuat ide ini terdengar ekstrem. Di sinilah tensi meningkat. Trump sering kali memulai dengan tuntutan maksimal dan sedikit kasar. Straight forward. Tanpa basi basi. Seringkali ia mengulang frasa, "Whether they like it or not." Trump tidak peduli apa reaksi orang. Meskipun belakangan terdengar sedikit lebih lunak.
Ketertarikan AS pada Greenland sudah ada sejak tahun 1946 meski pemerintahan sebelumnya membahasnya secara tertutup. Namun Trump mengatakan hal yang seharusnya dirahasiakan secara terang-terangan. Blak-blakan, tanpa tedeng aling-aling. Ia meremehkan norma politik Eropa yang cukup konservatif.
Greenland bukan sekadar pulau beku besar di ujung utara Bumi. Bagi para ilmuwan iklim global, Greenland adalah laboratorium raksasa. Pulau ini menjadi tempat riset krusial untuk memahami perubahan iklim dan prediksi masa depan bumi. Lebih dari 80% permukaan Greenland ditutupi lembaran es raksasa. Lapisan es ini tidak hanya menyimpan air beku dalam jumlah besar, tetapi juga memberi data penting tentang sejarah iklim dan proses yang memengaruhi kenaikan permukaan laut global.
Jika seluruh es itu mencair, permukaan laut bisa naik sekitar 7 meter, yang akan mengubah garis pantai seluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia yang bisa kehilangan wilayah pesisir yang menjadi lumbung padi hingga kini.
Proyek-proyek penelitian di Greenland membuat ilmuwan dengan mudah memahami hubungan antara kadar karbon dioksida di atmosfer dan temperatur global dalam jangka panjang. Greenland menyimpan inti es (ice core) yang menyimpan gelembung udara purba, yang oleh para peneliti ditarik dan dianalisa. Inti es itu menunjukkan rekaman atmosfer Bumi dari masa lalu.
The Conversation memberitakan ucapan dari Direktur Artemis Center for Sustainable Enterprise di Chatham House, Gail Whiteman, yang mengatakan, "Masa depan ilmu iklim dan transisi menuju masa depan yang aman dan sejahtera di seluruh dunia bergantung pada kelanjutan akses ke Greenland sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh masyarakat yang tinggal di sana."
Pernyataan Gail Whiteman menunjukkan bahwa Greenland bukan lokasi riset biasa. Greenland adalah pusat pengetahuan penting yang memberi tanda awal perubahan iklim. Selain itu, Greenland juga menjadi lokasi strategis untuk mengukur dampak perubahan iklim terhadap sistem lautan dan atmosfer global. Data yang terkumpul membantu memprediksi naiknya permukaan laut, perubahan pola cuaca, dan bagaimana laut di belahan Bumi utara merespons penambahan air tawar dari es yang mencair.
Yang menjadi kekhawatiran para peneliti adalah bila akses ilmiah ke Greenland berubah tanpa kesepakatan internasional. Para peneliti berpegang teguh bahwa bahwa riset iklim global harus tetap bersifat kolaboratif dan terbuka demi kepentingan sains dan masa depan seluruh umat manusia.
Namun kekhawatiran para peneliti perubahan iklim seperti gigitan jentik nyamuk di kulit Trump. Trump sangat sadar bahwa perubahan iklim justru mengubah peran Greenland. Laut semakin terbuka, akses untuk militer dan sumber daya alam semakin mudah. AS tidak mengkhawatirkan ketersediaan, tetapi mengkhawatirkan kontrol dan pemrosesan.
Epitome Drama Trump
Lalu apakah Trump benar-benar akan menggunakan kekuatan militer untuk menguasai Greenland? Apakah akan terjadi perang terbuka di Greenland? Sepertinya tidak. Persaingan strategis? Ya, sudah, dan sedang berlangsung.
Kemungkinan terjadinya perang terbuka antara Denmark dan AS sangatlah kecil, meskipun jika Denmark didukung oleh Eropa. Eropa adalah sekutu dekat AS dalam menghadapi ancaman Rusia dan Tiongkok. Lagipula perbandingan militer AS sangat jauh bila disandingkan dengan kekuatan Denmark.
Dikutip dari situs Nation Master, AS adalah kekuatan militer nomor satu di dunia. Tentara AS berjumlah 1.37 juta personil. Denmark 'hanya' punya 22 ribu personil aktif. Tulang punggung Angkatan Udara Denmark adalah jet tempur F-16 dan F-35 Lightning. Jumlahnya 72 unit F-16 dan 15 unit F-35. AS akan dengan mudah mengontrol atau mengembargo suku cadang jet tempur Denmark bila memang harus berperang secara terbuka. Atau mengunci perangkat lunak kedua jenis jet tempur itu.
Kekuatan militer mereka jelas tidak berimbang. Baik dari segi teknologi maupun jumlah personil dan peralatan militer. AS, Denmark dan Eropa, terutama negara-negara Eropa anggota NATO akan lebih menyukai opsi diplomasi dan kesepakatan.
Diketahui saat ini konsorsium jet tempur Eropa belum melahirkan satu pun prototipe jet tempur siluman. Andalan kekuatan AU utama Eropa seperti Jerman, Spanyol, Italia, Inggris dan Austria adalah Eurofighter Typhoon. Prancis punya Rafale dan Swedia mengandalkan JAS-39 Grippen. Semua jet tempur Eropa itu bahkan tidak masuk kategori jet tempur generasi ke-5.
Menurut studi yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS), skenario yang mungkin adalah terjadinya tekanan ekonomi oleh AS dan persaingan investasi; perebutan pengaruh atas infrastruktur seperti pelabuhan, pembangkit energi dan lapangan terbang; sengketa akses sumber daya; negosiasi pangkalan militer.
Setiap tindakan AS di Greenland akan dilakukan bersama Denmark di dalam kerangka NATO dan di bawah ambang batas konflik bersenjata. Demikian keempat pakar CSIS berpendapat. Mereka adalah peneliti senior di Fridtjof Nansen Institute dan Nord University, Andreas Østhagen, peneliti senior di CSIS Europe Program dan professor di Royal Danish Defence College’s Center for Arctic Security Studies, Jon Rahbek-Clemmensen, Direktur Institute of International Affairs di University of Iceland Margrét Cela dan Project Manager untuk pusat studi Arktik di institusi yang sama dengan Cela, Pia Hansson.
Trump adalah negosiator ulung. Trump tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland. Meskipun retorikanya cukup dramatis. Tidak ada rencana invasi. Tidak ada skenario konflik NATO. Tidak ada jalur hukum untuk akuisisi paksa. Strategi pemerintahan Trump adalah taktik tekanan, bukan rencana perang. Inilah kesimpulan akhir dari studi oleh CSIS tersebut.
Dikutip dari Reuters, pada pembicaraan tingkat tinggi dengan pejabat Denmark dan Greenland di Gedung Putih, Washington D.C., Rabu, (14/1/2026), perwakilan AS — termasuk Wakil Presiden J.D. Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio bertemu dengan Menteri Luar Negeri Denmark Lars Loekke Rasmussen dan Menteri Luar Negeri Greenland Vivian Motzfeldt — menyelenggarakan diskusi yang dibingkai sebagai diplomatik dan multilateral.
Meskipun Trump terus membuat retorika yang kuat di depan umum, pertemuan-pertemuan ini sendiri disusun berdasarkan dialog resmi dengan Denmark dan Greenland, bukan rencana unilateral apa pun. Pejabat Denmark menggambarkan "ketidaksepakatan mendasar" mengenai gagasan kendali AS, menekankan pentingnya kedaulatan dan norma hukum. Ini memperkuat fakta bahwa pejabat AS yang berpartisipasi dalam negosiasi ini bekerja dalam kerangka kerjasama damai dan diplomatik — bukan penaklukan militer.
Greenland memiliki nilai strategis yang penting untuk pertahanan nasional dan keseimbangan kekuatan global, serta memiliki sumber daya mineral yang signifikan. Namun, konflik terbuka atas wilayah tersebut—terutama antara AS dan sekutu Eropa— dianggap jauh panggang dari api. Tidak akan terjadi. Kerangka kerja diplomatik dan kerja sama masih berlaku dan masih lebih masuk akal dalam geopolitik di kawasan Arktik.

