Mengorek Cuan-Mengerek Pertumbuhan dari Dompet Para Pelancong
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Sadarkah Anda, ketika seseorang mendengar nama sebuah negara, ingatan mereka kerap langsung tertuju pada kawasan wisatanya. Fenomena ini terjadi karena destinasi wisata berfungsi sebagai jangkar memori (memory anchor) yang kuat, tempat di mana pengalaman visual, emosional, dan simbolik bertemu.
Selain itu, kawasan wisata sering menjadi ruang pengalaman personal yang meninggalkan kesan emosional. Liburan identik dengan momen bahagia, kebebasan, dan penemuan diri, sehingga otak manusia secara alami mengaitkan negara tersebut dengan perasaan positif yang pernah dialami atau dibayangkan di tempat wisata yang mereka kunjungi.
Tak heran, dari sudut pandang ekonomi dan budaya, banyak negara secara sadar menempatkan destinasi wisata sebagai wajah nasional melalui strategi nation branding. Akibatnya, kawasan wisata tidak hanya menjadi tujuan perjalanan, tetapi juga menjadi narasi utama yang membentuk cara dunia mengingat dan mengenali sebuah negara, dus sebuah strategi mengerek pertumbuhan ekonomi.
Sebagai bagian dari sebuah industri, pariwisata jelas diakui berkontribusi pada pendapatan domestik bruto (PDB) sebuah negara. Julia Simpson, CEO dan Presiden WTTC (World Travel & Tourism Council), lembaga nirlaba global yang mewakili sektor swasta industri Perjalanan & Pariwisata lewat hasil riset Economic Impact Research (EIR) 2025, menyebut bahwa sektor perjalanan dan pariwisata diperkirakan akan memberikan kontribusi tertinggi sepanjang sejarah sebesar US$11,7 triliun pada perekonomian global. Angka tersebut setara dengan 10,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia.
Baca Juga
Menpar: WFA Dorong Mobilitas Wisatawan dan Konsumsi di Libur Nataru
Masih dari hasil riset yang sama, belanja wisatawan internasional diproyeksikan mencapai rekor tertinggi sebesar US$ 2,1 triliun pada 2025, melampaui capaian tertinggi sebelumnya sebesar US$1,9 triliun pada 2019 atau lebih tinggi sekitar US$164 miliar.
Sementara dari sisi ketenagakerjaan, sektor ini diproyeksikan mendukung 371 juta lapangan kerja di seluruh dunia pada 2025, bertambah sekitar 14 juta pekerjaan dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah tersebut bahkan melampaui total populasi Amerika Serikat.
“Masyarakat terus memprioritaskan perjalanan. Hal ini merupakan bentuk kepercayaan yang sangat kuat terhadap sektor kami serta menjadi bukti daya tahan dan kekuatan industri pariwisata dalam jangka panjang,” kata Julia Simpson dalam pernyataannya medio Juli 2025 lalu.
Baca Juga
Industri Pariwisata Ditarget Sumbang Devisa US$ 18,5 Miliar hingga Akhir 2025
Industri pariwisata pendongkrak devisa
Tak terkecuali Indonesia, negara yang pamornya kalah kuat dibanding Bali dalam benak masyarakat dunia ini juga menjadikan industri pariwisata sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi.
Tengok data Badan Pusat Statistik (BPS) pada kuartal III-2025, di tengah pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04%, sektor pariwisata menyumbang 3,96% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana pun menegaskan, sektor pariwisata terus menjadi motor penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional. “Empat sektor yang berhubungan langsung dengan pariwisata masuk dalam daftar dengan pertumbuhan tertinggi. Ini menegaskan bahwa pariwisata adalah penggerak nyata ekonomi Indonesia,” kata Menpar Widiyanti dalam keterangannya, Jumat (7/11/2025).
Secara rinci, empat sektor tersebut adalah jasa perusahaan tumbuh 9,94%, hiburan dan rekreasi yang tumbuh 9,92%, transportasi dan pergudangan naik 8,62%, serta akomodasi, makanan, dan minuman yang naik 8,41%.
Selain kontribusi terhadap ekonomi, daya saing pariwisata Indonesia juga terus menguat di tingkat global.
Termutakhir, dalam Jumpa Pers Akhir Tahun Kementerian Pariwisata di Jakarta, Selasa (16/12/2025), Widiyanti mematok industri pariwisata nasional bisa menyumbang devisa sebesar US$ 18,5 miliar hingga akhir tahun ini. Target ini dinilai masuk akal seiring berlanjutnya momentum pertumbuhan sektor tersebut.
Sekadar catatan, hingga triwulan III 2025, devisa pariwisata tercatat mencapai US$ 13,82 miliar atau tumbuh 9,42% secara tahunan. Pada periode yang sama, jumlah wisatawan mancanegara sepanjang Januari–Oktober 2025 mencapai 12,76 juta kunjungan, meningkat 10,32% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Hingga akhir 2025, jumlah wisman diproyeksikan menembus 15,31 juta kunjungan.
Baca Juga
Menpar Widiyanti Ungkap Capaian dan Target 'Cuan' Pariwisata 2026
Sebelumnya Widiyanti pernah menyebut harapannya bahwa wisatawan asing bisa mencatatkan kunjungan hingga 14,6,hingga 16 juta hingga akhir tahun ini. Sementara wisatawan lokal diharapkan bisa mencatatkan kunjungan hingga 1,08 miliar. Dari sisi pergerakan wisatawan nusantara juga menunjukkan tren positif. Selama Januari–Oktober 2025, tercatat 997,91 juta perjalanan atau tumbuh 18,89% secara tahunan. Aktivitas ini niscaya turut menggerakkan ekonomi daerah dan memperkuat pasar domestik pariwisata.
Widiyanti menyebut angka statistik di atas kembali menegaskan pamor industri pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan penggerak ekonomi nasional. “Indonesia tetap menjadi destinasi wisata yang menarik dan kompetitif dengan rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara sebesar US$ 1.259 per kunjungan,” ujar Widiyanti.
Nataru, sebuah momentum
Nah, memasuki periode libur Natal 2025 dan Tahun baru 2026, secara historis kerap menjadi periode dengan lonjakan jumlah wisatawan, baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus). Libur Nataru selama ini menjadi periode libur paling panjang dan seragam secara nasional, dan sering dikombinasikan dengan cuti bersama. Bagi wisnus, periode ini tentu menjadi periode ideal untuk bepergian tanpa mengganggu aktivitas kerja atau sekolah. Sementara bagi wisman, periode akhir tahun merupakan musim liburan global, terutama dari Eropa, Amerika, dan Australia.
Di periode libur Nataru tahun ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memproyeksikan pergerakan 1,45 juta wisatawan mancanegara dan sekitar 128 juta perjalanan wisatawan nusantara. Dari jumlah tersebut, moda transportasi udara diperkirakan melayani sekitar 3,4 juta penumpang.
Mencuplik data InJourney Airports, sepanjang 15–21 Desember 2025, Bandara Soekarno-Hatta telah melayani 1.182.490 penumpang dengan total 7.811 pergerakan pesawat. Sebuah tren peningkatan menjelang puncak libur Nataru.
Menurut Widiyanti saat meninjau Posko Utama Integrasi Data Nataru di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (23/12/2025), Bali masih menjadi destinasi favorit wisatawan, disusul Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. “Bali masih menjadi favorit, dan untuk Bali sendiri tercatat adanya peningkatan kunjungan,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat memanfaatkan stimulus perjalanan, termasuk diskon tiket pesawat domestik kelas ekonomi sebesar 13–14 persen untuk periode terbang 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026. “Manfaatkan diskon tiket pesawat ini, termasuk juga berbagai insentif perjalanan lainnya,” tuturnya.
Baca Juga
Arus Penumpang Nataru 2025/2026 H-1 Capai 962 Ribu, Pelindo Pastikan Layanan Pelabuhan Tetap Optimal
Dari sisi perjalanan lewat laut, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) melaporkan arus penumpang di 63 terminal penumpang yang dikelola Perseroan selama periode Angkutan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 mencapai 962.777 orang.
Terminal penumpang dengan arus penumpang terbanyak yaitu Tanjung Pinang yang mencapai 98,8 ribu orang, diikuti wilayah Tanjung Balai Karimun 74,6 ribu orang, Tanjung Perak 70,4 ribu orang, Ambon 55,2 ribu orang, dan Makassar sebanyak 43,7 ribu orang.
Menurut Group Head Sekretariat Perusahaan Pelindo, Ali Sodikin puncak arus penumpang Nataru 2025/2026 terjadi pada tanggal 21 Desember 2025 (H-4) dengan jumlah penumpang mencapai 76.692 orang dan puncak arus kendaraan tercatat pada tanggal 20 Desember 2025 (H-5) dengan total 7.557 unit kendaraan.
Sementara itu secara umum, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkapkan pergerakan masyarakat saat libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 diproyeksikan mencapai 119,5 juta orang atau naik tipis dari sebelumnya 110,67 juta orang pada Nataru 2024/2025.
Angka ini diperoleh lewat hasil survei yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kemenhub, bekerja sama dengan BPS, Kementerian Komunikasi dan Digital, serta para akademisi.
Dari survey tersebut terungkap adanya tren peningkatan potensi pergerakan masyarakat secara nasional pada masa Angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sebesar 2,71% menjadi 42,01% dibandingkan angka 39,30% yang tercatat pada tahun lalu.
Paket stimulus ekonomi ikut dorong industri pariwisata
Bukannya tanpa dasar jika pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata pasang target tinggi pada kuantitas pelancong yang pelesiran di akhir tahun ini dan awal tahun 2026. Pasalnya pemerintah telah mengeluarkan instrumen stimulus yang diharapkan mampu meningkatkan belanja para pelancong, baik lokal maupun asing yang datang ke Indonesia.
Sekadar informasi, pemerintah telah mengucurkan program stimulus khusus Natal dan Tahun Baru untuk mendukung mobilitas masyarakat. Program stimulus ini merupakan bagian dari Paket Kebijakan Ekonomi 2025 yang diterbitkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada awal Oktober 2025 lalu.
Program ini merupakan bagian dari paket kebijakan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan aksesibilitas perjalanan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di penghujung tahun. Libur Nataru 2025-2026 adalah momentumnya.
Dalam keterangannya beberapa waktu lalu, Menko Airlangga menyebut program stimulus tersebut mencakup diskon tarif angkutan kereta api sebesar 30% dari harga tiket bagi 1,5 juta penumpang pada periode 22 Desember 2025 - 10 Januari 2026, diskon 20% dari tarif dasar untuk angkutan laut Pelni kepada 405 ribu penumpang pada periode 17 Desember 2025 - 10 Januari 2026, serta pemberian potongan biaya jasa pelabuhan pada angkutan penyeberangan ASDP bagi 227 ribu penumpang dan 491 ribu kendaraan pada periode 22 Desember 2025 - 10 Januari 2026.
Untuk transportasi udara, Pemerintah juga akan memberikan diskon tiket pesawat melalui skema PPN Ditanggung Pemerintah (DTP), diskon fuel surcharge, hingga penurunan harga avtur sehingga masyarakat dapat menikmati penurunan harga tiket sebesar 12–14%. Pemberlakuan kebijakan tersebut akan dilakukan untuk periode pembelian 22 Oktober 2025 - 10 Januari 2026, serta periode penerbangan 22 Desember 2025 - 10 Januari 2026.
“Kemudian juga ada dukungan event wisata dan juga paket yang di-bundling terkait dengan wisata kuliner dan UMKM,” kata Menko Airlangga saat itu.
Dengan momentum libur Nataru, Pemerintah memang punya harapan agar pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun tetap kuat meskipun di tengah ketidakpastian global. Dengan lebih banyak masyarakat bepergian dan berbelanja selama Nataru, permintaan barang dan jasa di berbagai sektor ekonomi akan meningkat sehingga ikut mendukung pertumbuhan PDB.
Dalam satu kesempatan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat mengemukakan harapannya agar ekonomi domestik bisa terdongkrak ke level 5,6% hingga 5,7% di kuartal akhir tahun ini. Ia memandang makin meningkatnya kegiatan ekonomi publik baik di level UMKM di pinggiran jalan hingga di pusat belanja, termasuk kawasan wisata di akhir tahun ini akan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi.
Diskon tarif angkutan tidak hanya berdampak pada mobilitas konsumen, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi di daerah tujuan wisata dan jalur transportasi. Ini mencakup pelayaran laut, ferry, transportasi kereta api, dan transportasi udara. Kebijakan ini setidaknya diproyeksi mampumembantu sektor-sektor yang selama ini terdampak oleh perlambatan ekonomi.
Program Kemenpar demi dongkrak jumlah pelancong
Pemerintah dalam hal ini Kemenpar memang tak cuma menunggu ‘menepuk lalat’, sambil mendamba datangnya para pelancong. Sejumlah program telah diumbar Kemenpar sejak awal tahun ini, diharapkan mampu meningkatkan minat publik untuk pelesir.
Salah satunya Kemenpar mengampanyekan gerakan "Saatnya Liburan di #IndonesiaAja" sejak Oktober lalu untuk menyambut Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru). Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini menyebut kampanye "Saatnya Liburan #DiIndonesiaAja" merupakan salah satu langkah strategis untuk mencapai target 1,08 miliar perjalanan wisatawan nusantara pada 2025. "Kampanye ini juga menjadi bagian dari gerakan #DiIndonesiaAja dan program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) yang bertujuan meningkatkan minat wisatawan untuk berwisata di dalam negeri, khususnya pada masa libur Nataru," kata Ni Made.
Berikutnya Kemenpar mendorong mitra industri, yakni para biro perjalanan wisata untuk menyiapkan paket-paket wisata yang mampu berjalan beriringan dengan program stimulus biaya transportasi yang ditetapkan pemerintah. Setidaknya 65 paket perjalanan wisata telah disampaikan para mitra industri ke pemerintah, di luar paket mandiri yang mereka siapkan untuk menjaring wisatawan.
Tak sekadar memberikan instruksi, Kemenpar menurut Widiyanti juga ikut menggelar sejumlah kegiatan promosional atau aktivasi pemasaran berupa pameran, forum pariwisata, hingga kerja sama dengan platform online travel agent (OTA), hingga promosi daerah.
Program berikutnya yang digelar pemerintah adalah program “BINA (Belanja di Indonesia Saja) Indonesia Great Sale 2025: Wisata Belanja di Indonesia” yang dilansir pada 18 Desember 2025. Program ini menawarkan beragam diskon menarik untuk meningkatkan minat wisata belanja masyarakat.
Berlangsung pada 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 ini melibatkan 80 ribu gerai, 800 merek, dan lebih dari 400 pusat perbelanjaan di 24 provinsi dengan penawaran diskon 20–80%. Khusus bagi wisatawan mancanegara, disediakan pula fasilitas pengembalian pajak (tax refund) sebesar 11 persen. Tak tanggung-tanggung, pemerintah punya target program ini akan bisa dikonversi menjadi transaksi sebesar Rp110 triliun. “Sampai akhir tahun kita targetkan sekitar Rp110 triliun dapat dibelanjakan,” kata Menko Perekonomian Airlangga Hartarto soal dampak dari program BINA Indonesia Great Sale.
Nah belum lama ini pemerintah lewat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) resmi menerapkan kebijakan kerja fleksibel bagi aparatur sipil negara (ASN) pada 29-31 Desember 2025. Kebijakan ini bertujuan menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), tetapi tidak berlaku penuh untuk seluruh sektor, terutama layanan publik esensial.
Kebijakan yang oleh publik lekat dengan sebutan work from anywhere (WFA) ini, belakangan oleh Kemenko Bidang Perekonomian dikembangkan dan dikampanyekan sebagai Work From Mall (WFM). Gerakan ini dipastikan akan ikut menunjang pergerakan wisatawan, khususnya wisatawan nusantara, pada momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, dan membantu tercapainya target nilai belanja di Nataru hingga Rp 110 triliun.

