Mengorek Cara Kadin Indonesia dan KKP Kerek Pertumbuhan Ekonomi 8% lewat Sektor Perikanan
JAKARTA, Investortrust.id – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sepakat untuk ikut memperkuat peran sektor perikanan dan kelautan untuk ikut menopang pertumbuhan ekonomi 8% yang ditargetkan oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai bagian dari Asta Cita yang dicanangkan pemerintah.
Kesepakatan ini dijalin saat jajaran pengurus Kadin Indonesia yang diketuai oleh Anindya Bakrie beraudiensi dengan Menteri Perikanan dan Kelautan Sakti Wahyu Trenggono di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Selasa (18/2/2025).
“Kami hadir untuk menjajaki potensi kolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, untuk ikut membantu memperkuat peran sektor perikanan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi 8%,” kata Ketum Kadin Indonesia Anindya Bakrie usai pertemuan dengan Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono.
Anindya mengungkapkan, Kadin Indonesia akan segera membuat pilot project sektor perikanan yang akan dilaksanakan sebelum 17 Agustus 2025, agar para anggota Kadin se-Indonesia bisa segera memanfaatkan peluang bisnis perikanan dan bekerja sama lebih erat dengan KKP. Peluang bisnis ini menurut Anin tidak hanya terbatas pada bisnis penangkapan ikan di laut, tapi juga perikanan budidaya seperti udang, tilapia, lobster, rumput laut, dan kepiting. Kerja sama antara Kadin Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan juga akan dilakukan dalam bentuk konservasi laut untuk carbon credit.
Sementara itu ditemui usai audiensi, Menteri Trenggono mengungkapkan pihaknya membahas mengenai potensi di sektor kelautan dan perikanan yang dapat digarap dengan bekerja sama dengan Kadin Indonesia.
"Intinya tadi sudah kita jelaskan potensi di sektor kelautan perikanan ini sangat luas, yang juga belum disentuh secara serius," ucap Trenggono di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Selasa (18/2/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Trenggono juga menyampaikan bahwa sektor kelautan dan perikanan akan mampu berperan mendukung program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan modal sebagai negara maritim, maka sejatinya Indonesia mampu memenuhi kebutuhan protein hewani yang dibutuhkan masyarakat dari hasil ikan tangkap hingga hasil budi daya perikanan.
Peran Sektor Kelautan bagi Program MBG
Berikutnya untuk ikut merealisasikan sokongan pada program MBG, Kementerian Kelautan dan Perikanan akan membangun kawasan budidaya yang di kawasan Pantura. Di sini lah pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendorong keterlibatan Kadin Indonesia untuk mendukung program-program pemerintah di sektor kelautan dan perikanan.
“Soal makan bergizi gratis, kita sudah sampaikan juga dari seluruh item-item protein, itu kan ada protein hewani, telur, dan sebagainya, ikan, maka ikan itu punya ingredient protein yang cukup baik. Dan itu salah satunya kita karena negara maritim, dan kita juga akan membangun kawasan budidaya di Pantura,” terang Trenggono. Ia pun menyebut pentingnya pertemuan rutin antara anggota Kadin Indonesia yang hendak mengembangkan bisnis perikanan dengan jajaran Kementerian KKP.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Umum (WKU) Bidang Kelautan dan Perikanan Kadin Indonesia Yugi Prayanto menyampaikan bahwa program makan bergizi gratis yang dicanangkan oleh Prabowo Subianto bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia, terutama anak-anak dan kelompok rentan, melalui penyediaan makanan bergizi secara gratis.
“Program ini menjadi salah satu upaya strategis untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan produktif, sekaligus mendorong penguatan sektor perikanan dan pangan nasional. Sektor perikanan akan mampu mendukung program ini lewat ketersediaan Suplai Kebutuhan Ikan untuk Program Makan Siang Bergizi dengan target implementasi di 5.000 dapur di tahun 2025,” kata Yugi.
Manfaat dan dampak yang nantinya bisa dirasakan oleh masyarakat di Tanah Air berupa penurunan angka stunting yang masih menjadi masalah utama di Indonesia. Berikutnya akan tercipta pula peningkatan konsumsi ikan sebagai sumber protein utama. Di sisi lain, kata Yugi, akan terbentuk pola pemberdayaan nelayan dan komunitas lokal.
Diakui Yugi, masih terdapat tantangan dari sisi logistik dan pendanaan dalam upaya mengelola suplai makanan dalam skala besar dan tersebar, yang memerlukan sistem distribusi yang andal. Solusinya, perlu penggunaan teknologi digital untuk pemantauan rantai pasok dan logistik.
Sementara soal pendanaan, Yugi optimistis dengan optimalisasi anggaran negara serta menarik partisipasi swasta, termasuk melibatkan kerja sama dengan lembaga internasional akan mampu mengentaskan problem pendanaan.
Berikutnya, dalam implementasinya, lanjut Yugi, Kadin Indonesia akan menggerakkan nelayan, pembudi daya, pengumpul, dan pedagang ikan untuk memasok bahan baku ke koperasi pengelola 5.000 dapur makan bergizi yang ditargetkan terbentuk pada tahun ini. Sekadar informasi, setiap dapur nantinya akan melayani 3.000–5.000 orang per hari, dan menyediakan makanan bergizi berbasis ikan untuk masyarakat.
Kadin, kata Yugi, juga akan segera membuat pilot project di sektor perikanan untuk menyukseskan program MBG. Salah satu pilot project yang akan digelar oleh Kadin Indonesia adalah pengembangan pupuk cair berbahan dasar rumput laut yang akan dikembangkan di Lampung.
Proyek inovasi ini nantinya akan menggunakan teknologi Jepang untuk mengolah rumput laut menjadi pupuk cair berkualitas tinggi. Rumput laut yang diproses diproyeksikan akan mengalami peningkatan nilai ekonomi hingga 15 kali lipat dibandingkan harga pupuk berbahan baku mentah.
Hasil produksi dari inovasi pupuk cair ini diproyeksikan akan diekspor ke Jepang, yang sekaligus akan menandai keberhasilan proyek dalam memenuhi standar internasional.
“Sejumlah manfaat yang bisa diperoleh dari proyek ini antara lain manfaat ekonomi yang akanmeningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha lokal. Sementara dari sisi keberlanjutan, akan mendukung pertanian ramah lingkungan melalui pupuk cair organik. Berikutnya proyek ini akan membuka peluang ekspor produk pertanian olahan Indonesia,” kata Yugi dalam paparannya.
Dalam kesempatan yang sama Yugi juga menyampaikan pentingnya peralihan industri udang Indonesia ke ke produk bernilai tambah, seperti udang berlapis tepung, marinasi berbalut, popcorn shrimp, dan pasta udang. Langkah ini penting mengingat makin meningkatnya persaingan di pasar udang Amerika Serikat, sehingga Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan produk tradisional.
Yugi juga menyampaikan pentingnya industrialisasi pada produk baramundi dan tuna, yang pada ujungnya akan mendorong investasi baru demi kemajuan teknologi dalam kegiatan operasional sektor perikanan di dua spesies tadi, yang akan membuka peluang produksi dalam skala besar.
Kinerja Sektor Perikanan
Dalam audiensi pada hari itu, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono juga memaparkan sejumlah kinerja serta visi yang dijalankan kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan. Saat ini, kata Trenggono, kementeriannya menerapkan visi ekonomi biru untuk mendorong tercapainya Indonesia Emas di 2045. Visi ini mencakup kebijakan perlindungan laut dan sumber dayanya dengan cara memperluas kawasan konservasi laut; diikuti upaya mengurangi tekanan dan aktivitas perikanan yang tidak ramah lingkungan dengan menerapkan penangkapan ikan secara terukur berbasis kuota serta pengembangan perikanan budi daya di laut, pesisir, dan darat secara berkelanjutan; Kementerian Kelautan dan Perikanan juga menggelar program menjaga kelestarian laut dengan cara pengawasan dan pengendalian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, serta pembersihan sampah plastik di laut mewat gerakan pastisipasi nelayan.
Visi ini diterapkan dengan tujuan memperluas perlindungan, mengurangi tekanan/dampak negatif kegiatan manusia, melestarikan dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut dan layanan ekosistemnya dan pada akhirnya mampu menyerap karbon.
Dengan penerapan kebijakan-kebijakan tadi, maka diharapkan akan muncul dampak positif berupa meningkatnyaindeks kesehatan laut, meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon (CSS), meningkatkan nilai ekonomi karbon melalui carbon trading, serta menjaga kelestarian stok ikan.
Untuk kepentingan industri, pemerintah membagi kuota menjadi 4 zona penangkapan ikan untuk industri. Zona tersebut terdiri atas Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 711 yang mencakup Luat Natuna dan Natuna Utara, WPP 716, 717 yang mencakup Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik, WPP 715,718 yang mencakup Laut Aru, Laut Arafuru dan Laut Timor, serta WPP 572,573 yang mencakup Samudera Hindia.
Lewat pembagian zona penangkapan ini, pemerintah menawarkan total kuota penangkapan ikan untuk industri sebesar 5,126 juta ton per tahun dengan nilai sekira Rp180 triliun. Angka ini diproyeksikan berpotensi menyumbang PNBP sebesar Rp18 triliun per tahun.
Masih menurut Trenggono, saat ini pemerintah lewat Kementerian Kelautan dan Perikanan tengah fokus mengembangkan 5 komoditas champion perikanan budi daya. Kelimanya adalah udang, tilapia, lobster, rumput laut dan kepiting.
Di produk udang, pangsa pasar produk udang indonesia sejauh ini (tahun 2023) mencapai 6,1% dari total market value dunia yang sebesar US$ 64,8 miliar. Porsi penguasaan pasar tilapia di pasar dunia sedikit lebih baik dengan porsi 10,9% dari total pasar dunia yang sebesar US$ 14,4 miliar. Penguasaan pangsa pasar lebih baik lagi terjadi pada produk rumput laut dengan porsi penguasaan pasar sebesar 13,8% dari total pasar dunia sebesar US$ 9 miliar.
Sementara itu untuk lobster hanya mampu menguasai pangsa pasar 0,5% dari total market global sebesar US$ 8,7 miliar. Berikutnya kepiting Indonesia berhasil menguasai pangsa pasar sebesar 7,3% dari total nilai pasar dunia sebesar US$ 12,47 miliar.
Perihal dukungan sektor perikanan pada program makanan bergizi gratis, Trenggono menyebut sejatinya produk perikanan mampu memberikan porsi protein yang jauh lebih besar dibandingkan sumber protein hewani lainnya. Ia pun memaparkan bahwa kandungan protein pada 1 gram ikan dan udang masing-masing mencapai 0,22 gram dan 0,25 gram. Bandingkan dengan daging ayam yang setiap satu gramnya hanya mengandung 0,14 gram protein. Begitu pula daging sapi, telur ayam, dan telur puyuh yang masing-masing hanya mengandung 0,12 gram dan 0,13 gram protein dari setiap gram daging sapi dan telur.
Bicara kinerja sektor perikanan, Trenggono menyampaikan bahwa sektor ini telah menyumbang 2-3% total ekspor nasional pada periode 2019-2024, dengan pertumbuhan volume ekspor nasional pada periode tersebut sebesar 4% per tahun, dan pertumbuhan nilai ekspor ansional pada periode tersebut sebesar 4,05% per tahun.
Sejauh ini, Amerika Serikat merupakan negara dengan tujuan ekspor utama dari 5 besar negara tujuan ekspor. Total nilai ekspor sektor perikanan pada tahun 2024 mencapai angka US$ 5,95 miliar.
Pada tahun 2024, ekspor sektor perikanan ke negeri Paman Sam tercatat sebesar US$ 1,9 miliar, yang didominasi hasil ekspor udang senilai US$ 1,68 miliar. Negara berikutnya yang menjadi tujuan ekspor utama adalah China dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,24 miliar yang didominasi oleh produk tuna-tongkol-cakalang senilai US$ 1,03 miliar.
Negara-negara ASEAN tercatat juga menjadi negara tujuan ekspor utama dengan nilai US$ 874,12 jutayang didominiasi produk cumi-sotong- gurita dengan nilai US$ 854,22 juta. Negara keempat yang menjadi tujuan ekspor utama sektor utama berikutnya adalah Jepang dengan nilai US$ 598,74 juta yang didominasi produk rajungan-kepiting senilai US 511,66 juta. Sementara Uni Eropa mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 414,36 juta yang didominasi produk rumput laut senilai US$ 341,16 juta.
Kontribusi Perikanan terhadap PDB
Pertumbuhan poduk domestik bruto (PDB) tahun 2024 sebesar 2,25 % hingga triwulan III. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir pada periode serupa. Pertumbuhan PDB perikanan hingga triwulan III sejak 2020 sampai tahun ini yakni, 1,50%, -3,25%, 0,19%, -2,68%, dan 2,25%. Sedang kontribusi subsektor perikanan terhadap PDB nasional baru sebesar 2,54%.
Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri membagi konsumsi ikan ke dalam dua kategori yaitu konsumsi protein dari ikan dan konsumsi kalori dari ikan. Pada tahun 2020, konsumsi kalori dan protein per kapita dari ikan berada di angka 49,89 kkal dan 8,43 kilo kalori (kkal).
Memasuki tahun 2021 konsumsi ikan masih mengalami peningkatan, untuk konsumsi kalori per kapita dari ikan meningkat ke angka 51,84 kkal dan konsumsi protein per kapita dari ikan meningkat ke angka 8,74 kkal. Selanjutnya pada tahun 2022, konsumsi kalori dan protein per kapita dari ikan kembali naik menjadi 53,10 kkal dan 9,58 kkal.
Pada tahun 2023, tampaknya ikan masih menjadi salah satu pilihan sumber protein di kalangan masyarakat, konsumsinya menunjukkan tren peningkatan. Konsumsi kalori per kapita dari ikan naik ke angka 55,77 kkal dan konsumsi protein per kapita dari ikan naik ke angka 10,06 kkal.
Pada tahun 2024, konsumsi ikan per kapita di Indonesia mengalami sedikit penurunan, untuk konsumsi kalori per kapita dari ikan turun menjadi 51,90 kkal dan konsumsi protein per kapita dari ikan turun ke angka 9,38 kka.

