Kripto: Magnet Cuan Baru yang Membius Anak Muda
Poin Penting
| ● | Minat anak muda terhadap kripto melonjak tajam, didorong cerita cuan cepat dan akses mudah; jumlah konsumen mencapai 18,08 juta dan transaksi Rp 360,3 triliun, namun OJK mengingatkan risiko FOMO/FOPO, volatilitas tinggi, dan maraknya penipuan. |
| ● | Edukasi menjadi kunci, karena kripto berisiko tinggi–return tinggi; investor muda diminta memahami blockchain, tokenomics, analisis, serta memakai platform resmi OJK; bahkan aksi jual global dan likuidasi besar menunjukkan ekstremnya risiko pasar. |
| ● | Industri kripto makin mapan di Indonesia, dengan pengawasan dialihkan ke OJK, anggota Bursa CFX bertambah, pajak kripto meningkat, dan Indonesia masuk peringkat ke-7 global adoption, menandakan kripto menjadi alternatif investasi yang berkembang meski penuh risiko. |
Oleh Lona Olavia
INVESTORTRUST.ID - Beberapa tahun terakhir, aset kripto seperti Bitcoin, Ethereum, dan alternative coin (altcoin) menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan anak muda. Media sosial penuh dengan cerita orang yang mengaku cuan ratusan persen hanya dalam semalam. Influencer dan trader muda tampil pamer portofolio, mobil sport, dan gaya hidup mewah, seolah semua itu hasil dari kripto.
Tidak heran kalau banyak anak muda ikut-ikutan. Sayangnya, tak sedikit yang masuk tanpa pengetahuan, lalu keluar dengan kerugian. Apalagi volatilitas kripto bikin emosi naik turun.
Untuk itu, pentingnya literasi keuangan digital sebelum terjun ke pasar kripto. Generasi muda disarankan memahami mekanisme blockchain, profil risiko investasi, dan memastikan transaksi hanya dilakukan melalui platform resmi yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Minat generasi muda terhadap aset kripto memang terus meningkat pesat di Indonesia. Data hingga Agustus 2025 mencatat lebih dari 40% investor kripto di Tanah Air berasal dari kelompok usia 18–35 tahun. Angka ini menegaskan dominasi Gen Z dan milenial dalam ekosistem aset digital.
OJK mencatat, per Agustus 2025, jumlah konsumen kripto mencapai angka 18,08 juta konsumen atau meningkat 9,57% jika dibandingkan posisi bulan Juli 2025. Sementara akumulasi volume transaksi kripto hingga kuartal III 2025 sudah mencapai Rp 360,3 triliun.
Penempatan portofolio investasi kalangan pemodal mengalami pergeseran besar. Dari hanya sekadar emas, properti, hingga saham, kini mulai melirik aset digital bernama kripto sebagai alternatif investasi. Meski sempat dianggap hanya tren sesaat, eksistensinya kini semakin nyata, terutama di kalangan anak muda dan investor digital savvy.
Kripto adalah aset digital yang diatur oleh OJK, namun tidak legal untuk digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia. Kripto menggunakan teknologi blockchain untuk menjamin keamanan dan transparansi setiap transaksi. Bitcoin menjadi pelopornya sejak diluncurkan pada 2009, dan kini sudah ada ribuan jenis kripto lain seperti Ethereum, Solana, hingga Dogecoin.
Berbeda dengan uang konvensional, kripto tidak dikendalikan oleh bank sentral atau pemerintah. Inilah yang menjadikannya aset terdesentralisasi dan bagi sebagian orang dianggap lebih bebas dan inklusif.
Meski tren konsumen kripto di Indonesia terus naik, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK Hasan Fawzi, mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak pada Fear of Public Opinion (FOPO) atau sekadar ikut-ikutan pendapat orang lain dalam berinvestasi.
“Jadi kalau sudah ahli di saham jangan kemudian setelah itu di kriptonya gak belajar dulu. Tetap juga pelajari dengan baik, seperti waktu kita mempelajari instrumen tertentu sampai kita cukup paham dan wise atau dewasa dalam melakukan itu,” imbuh Hasan.
Source: Source
Ia pun mengimbau anak muda untuk tidak terburu-buru berinvestasi karena Fear of Missing Out (FOMO) dengan cara ikut-ikutan teman atau tren semata, melainkan harus memahami asetnya terlebih dahulu. Penting bagi anak muda untuk memastikan aplikasi dan platform yang digunakan terdaftar di OJK agar lebih aman.
Aset kripto pertama kali ditetapkan sebagai komoditas yang dapat diperdagangkan di bursa berjangka pada tahun 2018 dibawah regulasi dan pengawasan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Mulai Januari 2025 pengawasan sektor jasa keuangan terkait kripto dialihkan ke OJK.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai fenomena konsumen kripto di Tanah Air ini sebagai tren positif. Namun, ia mengingatkan pentingnya edukasi sebelum terjun lebih dalam.
“Untuk berani investasi, bagus saya pikir. Cuma pelajari betul teorinya kripto itu apa. Yang paling penting kripto itu jangka pendek. Kalau (ingin investasi) jangka panjangnya, anda mesti lihat makroekonomi-nya seperti apa. Karena pada dasarnya (kripto) dipengaruhi pergerakan ekonomi, utamanya Amerika,” ujar Purbaya.
Purbaya memang tidak berinvestasi di kripto. Tetapi Yudo Achilles Sadewa, anak sulungnya adalah seorang trader kripto sejak usia SMP dengan modal awal dari uang jajannya. Yudo mulai berinvestasi pada aset digital setelah merasa tertarik dengan dunia trading dan berhasil meraih keuntungan signifikan hingga belasan miliar, meskipun sempat mengalami kerugian besar di awal.
Source: DataTrust
Jalan Alternatif
Popularitas aset kripto di kalangan anak muda kian meningkat, terutama karena kemudahan akses, potensi cuan cepat, dan fleksibilitas pasar yang beroperasi 24 jam tanpa batas wilayah.
Founder Triv Gabriel Rey menyampaikan, minat terhadap aset kripto di Indonesia terus meningkat terutama di kalangan anak muda. Berdasarkan data terbaru, mayoritas investor aset digital kini berasal dari generasi muda usia produktif dengan rentang usia 25 hingga 30 tahun. Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran perilaku generasi muda dalam mengelola keuangan dan mencari alternatif investasi.
Ia pun memberi pesan bagi yang ingin terjun ke dunia kripto adalah menghindari mindset ingin cepat kaya. Sebab, menurutnya ini adalah penyebab utama banyak orang mengalami kerugian finansial. “Kripto bukanlah jalan pintas menuju kekayaan instan,” katanya.
Source: Source
Namun, pengamat kripto Vinsensius Sitepu mengingatkan bahwa tren ini tidak serta-merta mencerminkan peningkatan literasi keuangan di kalangan investor muda.
“Kripto mudah diakses kapan dan di mana saja, pasarnya global dan tersedia 24 jam penuh. Tapi, kemudahan ini sering membuat banyak investor muda terlena dan menganggap kripto sebagai jalan pintas untuk cepat kaya,” ujarnya.
Menurut Vinsensius, keuntungan cepat di kripto sejatinya tidak berbeda jauh dengan saham. “Di kripto bisa saja ada yang naik lebih dari 10% dalam 24 jam, tapi di saham juga bisa begitu. Bedanya, settlement di pasar kripto itu instan, sementara saham butuh waktu,” jelasnya.
Ia menegaskan, kripto seharusnya dipahami sebagai jalan alternatif untuk menciptakan pendapatan tambahan, bukan sebagai sarana spekulasi tanpa dasar. “Kripto itu berisiko tinggi, bahkan trader dan investor berpengalaman pun bisa merugi. Karena itu, belajar tak boleh berhenti, membaca berita, memahami whitepaper, tokenomics, hingga analisis teknikal dan makroekonomi itu wajib,” tambahnya.
Meski demikian, Vinsensius tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang industri kripto. Ia menyebut teknologi blockchain dan smart contract sebagai fondasi utama yang membuat kripto tetap relevan.
“Teknologi ini sudah mulai diakui banyak negara dan perusahaan besar. Pemerintah Amerika Serikat bahkan mulai menerbitkan data ekonomi di beberapa blockchain sejak 2025, sementara El Salvador sudah membuktikan bahwa investasi Bitcoin mereka mampu mengalahkan inflasi,” ungkapnya.
Source: Source
Lebih lanjut, ia menilai sektor Real World Assets (RWA) akan menjadi magnet baru dalam dunia kripto karena kemampuannya meningkatkan likuiditas di berbagai aset seperti saham, properti, hingga komoditas.
Namun, Vinsensius mengingatkan bahwa tidak semua aset digital akan bertahan. “Dalam beberapa tahun ke depan, bisa jadi banyak blockchain dan kripto yang hanya tinggal nama akibat seleksi alam dan persaingan industri. Karena itu, investor muda perlu cerdas dan selektif dalam memilih aset,” pesannya.
“Cara terbaik bagi pemula untuk mendapatkan cuan di kripto adalah dengan berlangganan sinyal trading berbayar dari pakar trading. Ini sangat disarankan untuk menekan potensi kerugian besar. Anggaplah si pakar itu sebagai mitra atau asisten dalam aktivitas trading. Dan pemula sangat disarankan menghindari leverage trading,” tambahnya.
Pengguna Tertinggi
Indonesia menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna aplikasi kripto tertinggi secara global pada 2024. Sesi aplikasi kripto di Indonesia naik 54% dibanding tahun sebelumnya, menjadi yang kedua tertinggi di dunia.
Informasi tersebut berdasarkan pada laporan State of Mobile 2025 dari Sensor Tower. Peringkat pertama ditempati oleh Jerman dengan lonjakan 91%, disusul Brasil dan Perancis yang masing-masing mencatatkan pertumbuhan 47%.
Source: Source
CEO Tokocrypto Calvin Kizana, melihat peluang besar untuk memperluas edukasi dan adopsi kripto. Indonesia dinilai memiliki potensi besar karena populasi digital yang berkembang dan antusiasme anak muda terhadap aset kripto.
“Kami melihat banyak pengguna muda yang mampu mengubah hidupnya lewat investasi kripto. Ada yang bisa membantu orang tua, membayar biaya pendidikan, hingga menjadikan trading sebagai pekerjaan utama. Bagi sebagian, kripto bahkan menjadi passive income yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Lebih jauh, aset kripto tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada kontribusi negara. Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu) mencatat penerimaan pajak kripto hingga 31 Agustus 2025 mencapai Rp 1,61 triliun, menyumbang hampir 4% dari total penerimaan pajak ekonomi digital sebesar Rp 41,09 triliun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investasi kripto bukan sekadar tren gaya hidup generasi muda, tetapi juga berperan dalam mendukung pembangunan nasional. Dengan literasi keuangan yang tepat dan inovasi layanan dari pelaku industri, aset kripto dapat menjadi sarana investasi yang aman, berkelanjutan, dan berdampak positif bagi masa depan generasi muda Indonesia.
High Risk High Return
Aset kripto kembali menjadi sorotan setelah mencatatkan lonjakan harga signifikan sepanjang 2025. Fenomena ini kian menarik perhatian generasi muda Indonesia, yang melihat kripto bukan sekadar instrumen investasi, tetapi juga peluang cepat meraih keuntungan di tengah derasnya arus ekonomi digital.
Memang Bitcoin (BTC) hanyalah koin digital yang diibaratkan sebagai seorang "remaja" karena diluncurkan pada tahun 2009 oleh Satoshi Nakamoto yang penuh teka-teki. Namun Bitcoin telah mengalami peningkatan yang pesat “to the moon”, meningkat dari sepersekian sen ke level tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di US$ 125.700 atau sekitar Rp 2,11 miliar (US$ 1=16.850) pada awal Oktober 2025.
Pergerakan terbaru tersebut pernah membuat total nilai pasar Bitcoin mencapai sekitar US$ 2,45 triliun atau sekitar Rp 40.554 triliun, menurut CoinMarketCap, dan nilai total kripto mencapai sekitar US$ 4,21 triliun Rp 69.696 triliun.
Bitcoin mengalami tahun yang dramatis, melonjak dari harga di bawah US$ 80.000 atau sekitar Rp 1,32 miliar yang tercatat pada bulan April 2025. Bitcoin memiliki sejarah mencetak rekor baru dalam periode 1.064 hari setelah mencapai titik terendah pasar bearish, yang terakhir terjadi pada 21 November 2022.
Penguatan juga terjadi pada aset kripto lain seperti Ethereum (ETH) yang naik ke US$ 4.946 atau sekitar Rp 81,89 juta, Solana (SOL) di US$ 260 atau Rp 4,30 juta, dan BNB di kisaran US$ 1.300 atau Rp 21,52 juta per koin.
Kenaikan harga aset digital ini turut mendorong minat besar dari kalangan Gen Z dan milenial di Indonesia. Laporan Chainalysis mencatat aktivitas on chain di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, meningkat 69% secara tahunan hingga pertengahan 2025.
Dari Juli 2022 hingga Juni 2025, Asia Pasifik menunjukkan pertumbuhan yang kuat dalam aktivitas mata uang kripto, dengan perkiraan nilai transaksi on chain menunjukkan tren peningkatan yang jelas.
Pada 2025, posisi Indonesia dalam Global Crypto Adoption Index berada di peringkat ke-7. Pada tahun 2025, Asia Pasifik memperkuat statusnya sebagai pusat global aktivitas kripto akar rumput, dipimpin oleh India, Pakistan, dan Vietnam, yang populasinya mendorong adopsi yang meluas di seluruh layanan terpusat maupun terdesentralisasi.
Namun di balik potensi keuntungan besar, investasi kripto juga menyimpan risiko tinggi. Volatilitas harga menjadi tantangan utama. Pada pertengahan Oktober 2025, harga seluruh kripto ambruk akibat gejolak geopolitik dan tekanan dari kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat terhadap China.
Pasar kripto mengalami guncangan hebat setelah ancaman tarif 100% dari mantan Presiden AS, Donald Trump, terhadap impor dari Tiongkok. Kebijakan tersebut langsung memicu aksi jual besar-besaran dan membuat kapitalisasi pasar kripto anjlok hampir 10% dalam sehari, turun menjadi US$ 3,73 triliun atau Rp 61.770 triliun.
Data dari CoinGlass menunjukkan bahwa lebih dari 1,6 juta trader mengalami likuidasi dalam waktu 24 jam, dengan total nilai yang dilikuidasi mencapai US$ 19,13 miliar, menjadikannya likuidasi terbesar dalam sejarah kripto. Menurut analis Ash Crypto, dampaknya bahkan 20 kali lebih besar dibanding crash akibat Covid-19 pada Maret 2020 dan 10 kali lipat lebih besar dari kehancuran bursa FTX pada 2022.
Selain itu, regulasi dan risiko penipuan juga menjadi perhatian serius. Pemerintah Indonesia bahkan telah menaikkan tarif pajak transaksi kripto pada Agustus 2025 untuk memperkuat pengawasan dan perlindungan investor.
Hingga 20 Oktober 2025 terdapat 25 anggota Bursa CFX yang telah mendapatkan status sebagai PAKD. Berikut ini adalah daftar lengkapnya:
1. PT Pintu Kemana Saja (Pintu)
2. PT Bumi Santosa Cemerlang (Pluang)
3. PT Aset Digital Berkat (Tokocrypto)
4. PT Kagum Teknologi Indonesia (Ajaib)
5. PT Tiga Inti Utama (Triv)
6. PT Sentra Bitwewe Indonesia (Bitwewe)
7. PT CTXG Indonesia Berkarya (Mobee)
8. PT Rekeningku Dotcom Indonesia (Reku)
9. PT Enkripsi Teknologi Handal (Nobi)
10. PT Tumbuh Bersama Nano (Nanovest)
11. PT Indodax Nasional Indonesia (Indodax)
12. PT Kripto Maksima Koin (Floq)
13. PT Teknologi Struktur Berantai (Bitwyre)
14. PT Aset Kripto Internasional (BTSE)
15. PT Mitra Kripto Sukses (MAKS)
16. PT Cipta Koin Digital (Naga Exchange)
17. PT Upbit Exchange Indonesia (Upbit)
18. PT Multikripto Exchange Indonesia (Koin Sayang)
19. PT Samuel Kripto Indonesia (Samuel)
20. PT Utama Aset Digital Indonesia (Bittime)
21. PT Aset Instrumen Digital (Astal)
22. PT Cyrameta Exchange Indonesia (Cyra)
23. PT Kripto Inovasi Nusantara (COINX)
24. PT Coinbit Digital Indonesia (Stockbit Crypto)
25. PT Pedagang Aset Kripto (Coinvest)
Melansir laman CFX, berikut 10 koin utama yakni yang digemari di Indonesia pada periode perdagangan 12 Oktober 2025. Yakni USDT, Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Solana (SOL), dan BNB, XRP, USDC, Fartcoin, Synthetix (SNX), lalu Dogecoin (DOGE).

