Ketika Wartawan di Tengah “Badai”, Literasi Keuangan Jadi Benteng Terakhir
JAKARTA, investortrust.id – “Kala nanti badai 'kan datang, angin akan buat kau goyah, maafkan hidup memang ingin kau lebih kuat”. Demikian sepenggal lirik dari soundtrack film Jumbo berjudul Selalu Ada di Nadimu yang dibawakan Bunga Citra Lestari.
“Angin yang menggoyah” bisa diibaratkan sebagai tantangan ekonomi yang membuat wartawan harus beradaptasi untuk bertahan, termasuk soal kemampuan mengelola keuangan pribadi. Disinilah peran literasi keuangan menjadi alat untuk membentengi wartawan menjadi lebih kuat secara mandiri dan profesional.
Apalagi badai disrupsi digital datang tanpa kompromi, mengguncang dunia pers mulai dari redaksi, bisnis, hingga keuangan pribadi para jurnalisnya. Dalam konteks ekonomi, industri pers di Indonesia menghadapi tekanan dari dua arah. Di satu sisi, pendapatan dari iklan menurun drastis karena migrasi anggaran pemasaran ke platform digital global seperti Google dan Facebook, yang mampu menawarkan target audiens yang lebih spesifik dengan biaya lebih rendah. Di sisi lain, belum banyak media yang berhasil menemukan model bisnis berkelanjutan yang dapat menggantikan ketergantungan pada iklan tradisional.
Hal ini menciptakan ketimpangan, di mana media kecil kesulitan bertahan, sementara hanya segelintir pemain besar yang mampu beradaptasi. Alhasil, sepanjang 2023-2024, Dewan Pers mencatat sekitar 1.200 karyawan media, termasuk jurnalis terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Salah satu yang terkena adalah Gatot Artanto, juru kamera TV One. Namun berkat dukungan sang istri Kartika yang merupakan mantan editor Alinea.id, hal itu bisa diubahnya menjadi berkah tersendiri. Dengan bekal sang istri yang lama meliput ekonomi, keduanya justru membalikkan keadaan dengan menjadi wirausahawan. Pasangan dengan tiga anak itu memutuskan berjualan roti dengan merek Kukistik di kampung halaman mereka di Purwokerto, Jawa Tengah pada 2024.
“Perasaannya antara lega, senang, tenang sekaligus juga waspada karena kami berdua lepas dari korporasi setelah 16 tahun dan akhirnya memutuskan bekerja dengan membangun usaha sendiri. Awalnya memutuskan untuk membuka warung kopi, namun beralih ke usaha bakery,” kata Kartika kepada Investortrust, Rabu (29/10/2025).
Dibantu satu asisten, Gatot dan Kartika memilih sistem penjualan konsinyasi ke lapak-lapak makanan kecil dan membuka stand bazaar saat akhir pekan.
Ia pun berpesan kepada para wartawan dalam kondisi seperti ini sebaiknya hindari berhutang dan bisa memenuhi kebutuhan sesuai kemampuan. “Karena masa depan tidak pasti, perbanyak simpanan dan aset dulu. Buka wawasan untuk bidang lain di luar jurnalistik untuk membuka peluang lain,” ungkap Kartika.
Di tahun ini, badai pers masih membayangi. Di sisi lain, Indonesia masih punya pekerjaan rumah yang menantang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat rata-rata laporan penipuan atau scam dari masyarakat yang masuk ke Indonesia Anti Scam Centre (IASC) mencapai 700-800 per hari, lebih tinggi dibanding Singapura, Hong Kong dan Malaysia. Sejak November 2024 hingga 17 Agustus 2025, IASC menerima 225.281 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 4,6 triliun.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2025 menyebut indeks literasi keuangan Indonesia ada di 66,46%, sedangkan indeks inklusi keuangan 80,51%. Dengan demikian, masih ada gap 14,05% indeks literasi keuangan dengan indeks inklusi keuangan. Artinya, literasi keuangan masyarakat cenderung masih lebih rendah dibandingkan tingkat penggunaan produk keuangannya.
Literasi keuangan merupakan pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan. Sementara inklusi keuangan merupakan ketersediaan akses pada berbagai lembaga negara, produk, dan layanan jasa keuangan.
Sedangkan lewat program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), OJK menargetkan peningkatan indeks inklusi keuangan nasional mencapai 98% pada perayaan Indonesia Emas tahun 2045. Sementara pada 2029, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) ditargetkan literasi keuangan bisa naik mencapai 69,35% dan inklusi keuangan sebesar 93%.
Tak bisa dielak, wartawan punya peran penting karena mereka merupakan "corong berita" alias perpanjangan suara yang dapat menyebarkan berita dan informasi kepada khalayak luas. Oleh karena itu, OJK terus menggenjot berbagai program literasi dan inklusi keuangan yang melibatkan wartawan.
Kegiatan ini biasanya berkolaborasi dengan kantor OJK regional dan media lokal. Meski baru ke wartawan di sektor jasa keuangan, namun mereka bisa menjadi corong informasi ke teman-temannya termasuk ke keluarganya. Sehingga wartawan berperan sebagai agen literasi publik.
Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) dan roadmap literasi keuangan 2025–2029, OJK menargetkan peningkatan cakupan edukasi bagi jurnalis di tingkat provinsi dan kabupaten/kota agar pemahaman media terhadap sektor keuangan lebih merata dan akurat.
Bahkan OJK secara aktif melatih wartawan dari berbagai media. Melalui peran ini, wartawan diharapkan dapat membantu meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat, serta mendukung aspek perlindungan konsumen dari berbagai praktik penipuan jasa keuangan, seperti phishing, skimming, investasi ilegal, atau pinjaman online (pinjol) ilegal.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan, OJK senantiasa membangun sinergi dengan media sebagai mitra strategis dalam menyebarkan informasi yang kredibel, akurat, dan berdampak bagi masyarakat.
Media massa juga berperan penting untuk memerangi aktivitas ilegal di sektor keuangan. Apalagi, saat ini masyarakat dibanjiri informasi dari media sosial yang sering kali tidak disaring dan tidak jelas asal usulnya.
”Kami mendorong peran aktif media massa untuk menjadi agen literasi keuangan masyarakat serta memberikan edukasi keuangan yang informatif dan berimbang,” kata Kiki biasa ia disapa dalam acara Diskusi dan Training of Trainers (ToT) bertajuk ”OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan Indonesia (OJK Peduli)”, belum lama ini.
Tokoh senior Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Marah Sakti Siregar tak menampik kenyataan bahwa disrupsi digital telah mengubah wajah industri media secara total. “Kita sama tahu, disrupsi memukul media, baik di sisi jurnalisme hingga finansial. Akibatnya, model bisnis juga harus berubah,” ujarnya.
Menurut Marah Sakti, tantangan terbesar kini bukan hanya menjaga eksistensi media di tengah arus digital, tetapi juga menemukan formulasi strategi bisnis baru agar media tetap berjalan tanpa kehilangan jati diri jurnalistiknya.
Namun, di balik disrupsi ini, ia mengingatkan satu hal yang sering luput dari perhatian yakni ketahanan finansial para wartawan itu sendiri. “Selain menjaga idealisme, wartawan juga harus terliterasi keuangannya dengan baik. Kalau keuangan pribadi tidak sehat, independensi juga bisa terganggu,” ungkap Marah Sakti.
Baca Juga
Basmi Investasi Ilegal, OJK Gaet Media Massa Genjot Literasi Keuangan Lewat Edukasi
Dukungan Penuh
Kepada Investortrust baru-baru ini, selain Marah Sakti, News Vice Director Tribun Network Domu D Ambarita, Redaktur Pelaksana Katadata Yuliawati, Ketua Forum Wartawan Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) Bulkaino, Kontributor DetikJabar Aldi Nur Fadillah, hingga eks wartawan Kompas yang kini menjadi Certified Financial Planner Joice Tauris Santi, serta Perencana keuangan sekaligus Pendiri Aidil Akbar Madjid & Associates (AAMA) Aidil Akbar Madjid juga mendukung peran media di industri keuangan.
Di tengah kekhawatiran industri media yang semakin terasa akibat disrupsi digital, wartawan kata Domu D Ambarita dituntut tidak hanya menjaga idealisme dan profesionalisme, tetapi juga memiliki kemampuan literasi keuangan yang baik agar dapat bertahan secara ekonomi.
Domu yang juga menjabat sebagai General Manager Newsroom Tribun Network Jakarta, Pemimpin Redaksi Warta Kota Network (Surat Kabar Harian Warta Kota, online Wartakotalive.com, TribunBekasi.com, TribunTangerang.com dan TribunnewsDepok.com) ini menambahkan, literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak bagi wartawan agar mampu menjaga ketahanan ekonomi keluarga di tengah ketidakpastian pekerjaan.
Ia mengungkapkan, kekhawatiran terbesar para wartawan saat ini terkait risiko perusahaan pers yang terancam bangkrut akibat kehilangan pendapatan dan pembaca. Situasi ini membuat posisi wartawan was-was.
Domu mengaku dirinya masih mengandalkan pendapatan bulanan dan bonus tanpa memiliki investasi di sektor lain. Namun, ia tetap memiliki perencanaan keuangan jangka panjang, salah satunya melalui tabungan pendidikan berjangka untuk anak-anaknya.
Ia menilai, pelatihan pengelolaan keuangan bagi wartawan perlu dilakukan secara sistematis dan praktis. Bahkan, program pelatihan sebaiknya mencakup manajemen keuangan pribadi yang efisien, strategi menabung dan berinvestasi aman.
“Pers saat ini bukan hanya soal kecerdasan jurnalistik, tapi juga kecerdasan finansial. Keduanya harus berjalan seimbang agar wartawan bisa tetap independen dan sejahtera,” tegas Domu yang telah 27 tahun berkarier sebagai wartawan.
Sementara itu, bagi Yuliawati yang sudah lebih dari 15 tahun berkecimpung di dunia media, isu literasi keuangan kini bukan hanya bahan liputan, tetapi juga menjadi refleksi pribadi. Ule biasa ia disapa adalah salah satu duta literasi keuangan dari media massa. Ia berkesempatan diajak OJK memberikan sharing di Desa Luari, Maluku mengenai perencanaan keuangan dasar dan kewaspadaan terhadap pinjol illegal, dua bulan lalu.
OJK mampir ke Desa Luari sebagai bagian dari program GENCARKAN yang berjalan sejak Agustus 2024. Program ini berfokus pada 10 kelompok masyarakat, antara lain disabilitas, perempuan, pelajar, pekerja migran, hingga petani dan nelayan. OJK salah satuya memilih Desa Luari yang merupakan kawasan 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) sebagai sasaran literasi keuangan.
“Kita sering memberitakan kasus keuangan, tapi jangan lupa menerapkannya juga untuk diri sendiri. Jadi dari liputan bisa jadi cermin diri,” ujar Redaktur Pelaksana Katadata itu.
Baginya, wartawan harus mulai dari hal paling sederhana yakni disiplin mencatat keuangan pribadi. Setelah itu baru bisa konsisten menyisihkan untuk tabungan, dana darurat, atau investasi.
“Di tengah disrupsi media makin sadar pentingnya perencanaan keuangan yang baik dan bijak. Bukan hanya kalangan media, perencanaan keuangan ini penting buat semua pekerja dari berbagai level,” kata Ule.
Masif Merata
Ketua FWE NTB Bulkaino menilai bahwa di tengah ketidakpastian industri media dan gempuran disrupsi digital, wartawan perlu memperkuat literasi keuangan agar dapat bertahan dan beradaptasi.
“Media di Lombok dan NTB pada umumnya sama seperti media-media di daerah lainnya. Bertempur dengan media sosial yang informasinya juga tidak kalah cepat, dan cenderung masyarakat juga tetap percaya. Kekhawatiran terbesar adalah makin tergerusnya industri media yang bekerja dengan prinsip-prinsip jurnalistik. Kondisi media saat, sebagai industri, sudah dihadapkan oleh tantangan makin tergerusnya pasar untuk iklan,” katanya.
Bulkaino juga mengapresiasi langkah OJK yang aktif menjalin komunikasi dengan kalangan media, terutama media yang fokus pada isu ekonomi dan bisnis. Apalagi literasi keuangan bagi wartawan amat penting. Dampaknya kepada diri wartawan secara pribadi dan secara umum.
Ketika ditanya mengenai program literasi yang paling dibutuhkan kalangan wartawan saat ini, Bulkaino menilai semuanya penting, mulai dari manajemen keuangan pribadi, investasi aman, hingga literasi fintech. “Sebab hal itu sudah menjadi kebutuhan saat ini dan akan datang,” kata pria yang berkarier sebagai wartawan sejak 2010 dan saat ini bekerja di Suarantb.com.
Kepala OJK NTB Rudi Sulistyo mengakui bahwa wartawan memiliki peran penting sebagai mitra strategis OJK dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan di masyarakat. Provinsi NTB terpilih menjadi TPAKD Terbaik Tingkat Provinsi 2025.
“Peran media sangat penting sebagai penyambung literasi keuangan ke masyarakat,” katanya.
Menurutnya, hubungan OJK dan media di NTB terjalin erat, tidak hanya melalui peliputan kegiatan resmi, tetapi juga lewat berbagai forum diskusi dan kegiatan bersama. “Untuk pembekalan literasi kita juga sering selain bertemu juga mengajak mereka melihat langsung bagaimana OJK memerangi scam bersama dengan PPATK,” pungkasnya.
Senada, di tengah perubahan cepat industri media, para jurnalis di daerah dituntut untuk beradaptasi agar tetap bertahan, baik secara profesional maupun finansial. Kontributor Detikjabar Aldi Nur Fadillah mengakui, selektivitas berita yang semakin tinggi turut memengaruhi pendapatan.
“Sekarang ini, pemilihan berita makin ketat. Karena sistem pembayaran bagi kontributor berbasis jumlah berita yang tayang, otomatis ketika berita sedikit, pendapatan bulanan pun ikut turun,” jelasnya.
Aldi menambahkan, beberapa wartawan di Pangandaran yang terdampak PHK dari media nasional atau lokal kini mulai beralih menjadi content creator. Terkait literasi keuangan, Aldi menilai hal itu sangat penting bagi wartawan, terutama di daerah. “Tak sedikit wartawan disini kelabakan tidak punya uang cadangan atau tabungan sendiri,” imbuhnya.
Sebagai upaya menjaga kestabilan finansial, Aldi memilih berinvestasi dalam bentuk emas. “Saya investasi di emas, nilai inflasinya rendah dan kalaupun turun, tidak terlalu jauh. Jadi relatif aman,” katanya.
Aldi yang telah berkarier di dunia jurnalistik selama lima tahun, mulai dari Pikiran Rakyat Group pada 2020 sebelum bergabung dengan DetikJabar pada 2022 juga aktif di dunia kewirausahaan. Bahkan kini ia menjabat sebagai Ketua Bidang II Perbankan, Keuangan dan Perencanaan BPC Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Pangandaran, dengan latar belakang usaha event dan wedding organizer.
Menurutnya, pemahaman literasi keuangan tidak hanya penting bagi pelaku bisnis, tetapi juga bagi wartawan untuk mencapai kebebasan finansial. “Yang paling penting itu manajemen keuangan dalam mewujudkan kebebasan finansial melalui investasi atau tabungan,” ucap Aldi.
Baca Juga
Perencanaan Keuangan
Menurut Certified Financial Planner Joice Tauris Santi, pengelolaan keuangan pribadi bukan hanya penting bagi jurnalis, tetapi semua orang. “Orang yang memiliki literasi keuangan dengan baik cenderung akan lebih berhasil dalam mengelola keuangan pribadinya,” ungkapnya.
“Sayangnya, banyak orang belum paham soal ini karena pelajaran tentang pengelolaan keuangan tidak diajarkan di sekolah. Ketika sudah bekerja, apalagi menjadi tulang punggung keluarga, kita harus siap dengan dana darurat. Banyak yang langsung berinvestasi tanpa menyiapkan dana darurat terlebih dahulu,” ujar Joice yang sebelumnya berkarier selama 27 tahun sebagai wartawan ekonomi di Harian Kompas.
Besaran dana darurat yang ideal, kata Joice, bergantung pada kondisi masing-masing individu. Bagi yang belum menikah dan tidak memiliki tanggungan, cukup menyiapkan dana darurat sebesar tiga kali pengeluaran bulanan. Namun bagi yang sudah berkeluarga, jumlahnya sebaiknya lebih besar, yakni enam hingga 12 kali pengeluaran bulanan.
Joice mengaku, pengalamannya sebagai jurnalis ekonomi justru menjadi titik awal ketertarikannya pada dunia perencanaan keuangan. Ia mengaku awalnya terpaksa mempelajari topik tersebut saat ditugaskan meliput sektor ekonomi dengan modal pengetahuan yang minim.
“Saya jadi wartawan ekonomi dengan modal nol besar. Dari situ belajar soal investasi, lalu tertarik pada perencanaan keuangan. Jadi kalau orang bilang kerja sesuai passion, bagi saya passion itu justru muncul setelah dijalani,” ungkap pengarang buku finansial berjudul "Dunia Saham Tidak Seindah di Media Sosial“, "Manage Your Cash Flow Manage Your Life“, "Selami Asuransi untuk Proteksi Diri“ tersebut.
Sementara itu, Ketua International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia Aidil Akbar Madjid menyampaikan, literasi keuangan menjadi kemampuan penting yang wajib dimiliki setiap wartawan, terutama mereka yang kerap meliput sektor ekonomi dan investasi. Tanpa pemahaman dasar yang kuat, jurnalis berisiko menyajikan informasi keliru kepada publik
Aidil menegaskan bahwa wartawan adalah ujung tombak informasi yang perannya mirip dengan perencana keuangan menjadi corong edukasi bagi masyarakat. Karena itu, jurnalis harus memahami prinsip dasar pengelolaan dan instrumen keuangan agar dapat menyampaikan berita yang akurat dan bermanfaat.
“Wartawan itu ujung tombak, sama seperti financial planner,” ujar penulis buku “Rich Game: Cara Kaya dengan Investasi”, “Easy Planning”, “Rahasia Kaya Raya” tersebut.
Doa dan Harapan
Ada pembuka maka ada penutup dan dalam lagu Selalu Ada di Nadimu, ada bait yang berbunyi: “Doaku agar kau selalu arungi hidup berbalut senyuman di hati…”. Bait itu seolah menjadi doa bagi para jurnalis di tengah gelombang besar perubahan. Di era yang serba cepat dan menekan, wartawan dituntut bukan hanya adaptif secara teknologi, tapi juga tangguh secara finansial dan mental.
“Lelah tak akan tersia,” begitu bunyi liriknya. Dan mungkin, di situlah makna paling dalam bagi dunia pers hari ini bahwa ketangguhan wartawan tak hanya lahir dari pena dan idealismenya, tapi juga dari kemampuan menjaga ketahanan finansial ditemani OJK yang sudah hadir selama 14 tahun terakhir ini.

