Satu Persatu Tanda Cinta Prabowo untuk TNI, (dan Indonesia) Ditunaikan
Poin Penting
|
Jakarta, investotrust.id – Pada abad ke empat Masehi, seorang jendral Romawi bernama Publius Flavius Vegetius Renatus atau Jendral Vegetius menuliskan buah pikirannya ke dalam sebuah buku berjudul "Epitoma Rei Militaris". Di dalam buku itu tercantum ungkapan "Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum" atau kerap dikenal sebagai "Si Vis Pacem Parabellum". Ungkapan itu menyatakan "jika menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang".
Vegetius bukanlah jendral yang menonjol di militer Romawi, namun ia prihatin dengan kemunduran kualitas tentara Romawi sebelum jatuhnya Kekaisaran Romawi. Pemikirannya saat itu adalah bahwa tentara menjadi lemah karena tidak aktif selama masa damai yang panjang dan berhenti mengenakan baju zirah pelindungnya.
Hal ini membuat mereka rentan terhadap senjata musuh dan godaan untuk melarikan diri dari pertempuran. Kutipan Vegetius telah ditafsirkan bahwa waktu untuk bersiap perang bukanlah ketika perang sudah di ambang pintu, melainkan ketika masa damai.
Kutipan Vegetius banyak digunakan oleh para pemimpin dunia setelah masa hidupnya termasuk di Amerika Serikat, saat Theodore Roosevelt menciptakan ungkapan "Bicaralah dengan lembut dan bawalah tongkat besar."
Beratus abad kemudian, di Indonesia, seorang pensiunan jendral yang sangat mencintai Indonesia–Prabowo Subianto, kini menjabat sebagai Presiden tahu betul ungkapan itu. Maka ketika Prabowo, menjabat sebagai Menteri Pertahanan, ia berlari kencang mengejar ketertinggalan TNI untuk memodern-kan alat utama sistem senjata (alutsista) TNI.
Sebagai seorang dengan latar belakang militer yang kuat dan pengalaman di berbagai medan tempur, Prabowo paham betul bagaimana kekuatan TNI saat ini dan perkembangan geopolitik di kawasan yang begitu dinamis. Ancaman datang dari dalam dan luar negeri dan TNI dituntut selalu siap dan tidak boleh lengah. Tak hanya profesionalisme dan kemampuan per individu, namun persenjataan juga harus siap siaga dengan tingkat kesiapan tempur (combat readiness) di atas 50%.
Kurun waktu 2019-2024 Menhan Prabowo Subianto meneken kontrak pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) untuk memenuhi Minimum Essential Force (MEF) TNI seperti jet tempur Rafale, pesawat angkut Airbus A400M, sistem peluru kendali balistik KHAN dari Turkiye, kapal perang KRI Brawijaya dan KRI Sultan Iskandar Muda yang dibeli secara 'instant' dan berbagai peralatan perang lainnya.
Prabowo juga memerintahkan PT PAL untuk melakukan perbaikan dan modernisasi 41 unit kapal perang TNI AL. Penyegaran itu meliputi pemasangan radar, sensor, avionik dan senjata baru yang didatangkan dari Turkiye–menyiratkan pergeseran mitra strategis Indonesia dalam pengadaan alutsista sekaligus mencerminkan bahwa Indonesia tidak bisa ditekan. Modernisasi tersebut dilakukan di fasilitas PT PAL dan termasuk paket "transfer of technology" sehingga dipastikan Indonesia tidak hanya berbelanja alutsista namun juga mendapatkan ilmu.
Kekosongan skuadron yang ditinggalkan F-5E/F Tiger II pun tidak berhenti ia pikirkan. Beberapa kali upaya untuk mengadakan jet tempur interim pengganti F-5E/F ia lakukan seperti gagasan pembelian jet second hand–Eurofighter milik AU Austria dan Mirage 2000 AU Qatar, meski menuai kritik dan tidak terwujud, hal itu menyiratkan keinginannya yang kuat untuk memenuhi kebutuhan TNI. Di ujung masa jabatannya sebagai Menhan, pada Agustus 2023, Prabowo bahkan berhasil menegosiasikan pembelian 24 unit jet tempur legendaris dari AS, F-15EX, versi tercanggih jet tempur F-15 Strike Eagle, sebuah jet yang sepertinya mustahil dimiliki oleh Indonesia. Hal ini memperlihatkan kegigihan, kesabaran dan keuletan Prabowo berdiplomasi demi kecintaannya kepada tanah air.
Tak ada proses yang mudah dalam pembelian senjata terlebih sebuah senjata yang sarat teknologi. Lima tahun menjabat sebagai Menteri Pertahanan, hasilnya mulai terlihat saat Prabowo telah melepas jabatan tersebut dan kini menjabat sebagai Panglima Tertinggi TNI di Indonesia sebagai Presiden Republik Indonesia. Satu persatu tanda cinta Prabowo untuk TNI telah dan akan berdatangan.
Rudal Balistik Pertama Indonesia
Rudal balistik taktis KHAN ITBM-600 yang dipesan Indonesia dari Turkiye telah bertengger di Markas Batalyon Artileri Medan ke-18 (Yonarmed 18/Buritkang) di Tenggarong, Kalimantan Timur, sejak 1 Agustus 2025. Rudal KHAN tersebut diproyeksikan untuk melindungi IKN.
Seperti telah banyak diberitakan sebelumnya, pada Indo Defence Expo 2022, Kemhan menandatangani perjanjian jual beli dengan Roketsan Turkiye untuk mendatangkan sistem Rudal KHAN ITBM-600. Rudal yang dibeli TNI ini disebutkan memiliki jangkauan hingga 280km dan sudah tergolong sebagai rudal balistik. Senjata ini menjadi sistem rudal balistik taktis pertama yang dimiliki oleh Angkatan Bersenjata Indonesia alias TNI. Rudal balistik adalah rudal yang didorong tenaga roket dan bergerak melalui atmosfer dan ruang angkasa sebelum menghancurkan sasaran di permukaan. Rudal balistik memiliki lintasan yang lebih tinggi dan tidak dapat diubah setelah diluncurkan. Meski demikian jarak jangkauan yang sesungguhnya dan berapa jumlah yang dimiliki dirahasiakan.
KHAN bahkan ramai diberitakan oleh media negara jiran sebagai "ancaman" namun sekaligus "pelindung". Seperti dikutip dari Chanel News Asia, yang menyoroti bahwa penempatan rudal ballistik jarak pendek buatan Turki di Kalimantan Timur merupakan sebuah langkah yang bisa menggeser keseimbangan kekuatan regional. Dari kawasan di mana tidak ada negara Asia Tenggara yang memiliki kemampuan rudal balistik modern yang beroperasi.
Pada konteks geopolitik, penempatkan rudal KHAN di Kalimantan, secara langsung mengubah peta kekuatan di kawasan yang sedang 'panas' saat ini, Laut China Selatan. Sebagian negara ASEAN memang membutuhkan sosok penyeimbang bagi Tiongkok selain Jepang dan AS.
Video courtesy of Military Weapons Youtube Channel
Fregat Terbesar di Asia Tenggara
'Hadiah' dari Prabowo untuk TNI tidak hanya untuk matra darat saja, namun juga untuk matra laut dan udara. Dua matra terakhir ini pengadaan senjatanya lebih rumit dan lama karena melibatkan begitu banyak persyaratan dan pendidikan, transfer of technology dan biaya yang tidak sedikit karena selain masif secara ukuran dan jumlah, pembelian senjata untuk angkatan laut dan udara sarat dengan teknologi baru.
Contohnya adalah KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi yang dijejali begitu banyak radar, sensor, perangkat peperangan elektronik dan kendali pertempuran dengan software terkini dan harganya juga sangat mahal. KRI Brawijaya saat ini sedang dalam perjalanan menuju tanah air dan diperkirakan akan datang pada bulan September ini.
KRI Brawijaya dan KRI KRI Prabu Siliwangi adalah kapal fregat terbesar di ASEAN, dengan panjang 143m, lebar 16,5 m, draft 5,2 m dan bobot penuh 6.270 ton, dua bersaudara ini akan membuat otot TNI AL semakin kekar. Meski besar, fregat ini mampu melaju kencang pada kecepatan maksimum 32 knots dengan dapur pacu kombinasi diesel, listrik, dan gas turbin (CODAG).
KRI Brawijaya dan KRI Prabu Siliwangi diakuisisi oleh Kemhan RI dari Angkatan Laut Italia. Kapal ini sebelumnya bernama Marcantonio Colonna dengan nomor lambung P433, namun belum sempat bergabung dengan AL Italia, kapal ini dibeli Indonesia dan berganti nama menjadi KRI Brawijaya.
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, yang diwakili oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali, menyebutkan bahwa kapal ini memiliki teknologi dan senjata yang modern. "Di mana kapal-kapal tersebut dilengkapi dengan teknologi terkini dan sistem persenjataan modern, saya yakin kapal-kapal ini akan berhasil menyelesaikan setiap misi yang diberikan kepada mereka," kata Menhan yang dibacakan oleh KSAL, Rabu (29/1/2025) di galangan kapal Fincantieri Muggiano, Italia seperti dikutip dari Antara.
Video: Courtesy of TVOne Youtube Channel
Apakah bisa dibilang pembelian ini adalah pembelian kapal second hand? Tidak juga, AL Italia belum sempat mengoperasikan kapal yang sebelumnya diproyeksikan sebagai Offshore Patrol Vessels/Pattugliatore Polivalente d’Altura (PPA) atau kapal patroli lepas pantai ini. Akan tetapi pada akhirnya, dengan spesifikasi senjata yang disyaratkan oleh Indonesia dan juga karena ukurannya yang cukup besar, KRI Brawijaya masuk sebagai kapal fregat dengan persenjataan yang lengkap.
Kapal kebanggaan TNI AL ini dilengkapi dengan meriam 127mm anti pesawat Oto Melara untuk sasaran udara jarak dekat dan meriam Oto Melara 76mm Strales Sovraponte yang mampu menyemburkan 85 peluru per menit. Jangan khawatir, pesawat atau sasaran udara yang mendekat dari jarak jauh akan dihajar oleh 16 sel peluncur vertikal (VLS) misil Aster 30 Block 1NT atau misil Scalp.
KRI Brawijaya memiliki 8 peluncur misil anti kapal SSM dan 2 peluncur torpedo anti kapal selam. Sementara untuk misi penyelamatan dan anti kapal selam, tiga jenis helikopter bisa mendarat di geladak, yakni SH90, AW101 dan AS565 Panther. Itu baru sebagian kecil, senjata strategis lainnya tentu saja dirahasiakan oleh TNI. Yang bisa diperkirakan tentu saja kapal ini mampu membawa rigid hull inflatable boats(RHIB) dan drone.
Tak hanya dua kapal fregat ini, Kemhan RI juga telah menandatangani kesepakatan untuk membeli dua kapal fregat siluman buatan Turkiye dari Istif Class. Pada IDEF (International Defence Industry Fair) 2025, kontrak telah ditandatangani antara galangan kapal TAIS dan Kementerian Pertahanan RI untuk ekspor dua fregat I-class atau Istif class.
Istif class punya bobot 3.000 ton dan punya panjang 113,2 meter serta lebar 14,4 meter. Kapal tempur ini membawa berbagai persenjatan yang terbilang modern. Sebut saja ada 16 cell VLS dengan total 64 rudal hanud yang belum dijelaskan tipenya. Kemudian terdapat 4×4 rudal anti kapal Atmaca, meriam OTO Melara Super Rapid Gun 76 mm, satu unit Aselsan Gokdeniz CIWS, dua unit 25 mm Aselsan STOP machine gun dan HIZIR Torpedo Countermeasures System. Fregat kebanggaan Turki ini diawaki 123 personel dan dirancang mampu berlayar terus-menerus tanpa bekal ulang selama 15 hari. Selain dua unit rigid hull inflatable boats (RHIB), Istanbul class dapat membawa dua unit helikopter selelas S-70 Seahawk, dengan catatan, satu unit berada di hanggar dan satu unit berada di deck.
Airbus A400M dan Rafale F4
Perhatian Menhan Prabowo kala itu (sekarang Presiden Republik Indonesia) terhadap TNI AU tidak kurang-kurang. Prabowo paham betul konsep pertahanan semesta, terlebih untuk negara kepulauan seperti Indonesia di mana penguasaan dan kedaulatan ruang udara sangatlah penting. Doktrin perang modern saat ini adalah ia yang menguasai udara, akan lebih mudah menguasai darat dan laut.
Pada masa jabatan Prabowo Subianto, ia setidaknya telah menandatangani kesepakatan untuk mendatangkan beragam jenis pesawat untuk TNI AU. Yang sudah pasti akan datang adalah Airbus A400M dan Rafale F4. Tak tanggung-tanggung, Rafale dibeli sebanyak 42 unit, terbesar dalam sejarah TNI AU sejak masa persiapan Dwikora. Belum lama ini Prabowo juga melirik jet tempur generasi 4++ dari Turkiye, KAAN. Belum lagi KF-21 Boramae dari Korea Selatan yang joint development-nya telah dirintis sejak pemerintahan Presiden SBY. Bila dua jenis jet tempur itu telah lengkap memenuhi arsenal TNI AU, maka Indonesia akan memiliki setidaknya 84 jet tempur baru–Rafale dan KF-21 Boramae.
Menjelang kedatangan pesawat angkut berat Airbus A400M, TNI Angkatan Udara (TNI AU) telah mengirim empat penerbang untuk mengikuti pelatihan pengoperasian pesawat angkut berat Airbus A400M di Pusat Pelatihan International Training Centre/ITC) milik Airbus di Sevilla, Spanyol.
“Pelatihan ini bagian dari upaya TNI AU meningkatkan kompetensi awak pesawat dalam mengoperasikan Airbus A400M, sekaligus mendukung prioritas TNI AU dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM),” seperti dikutip dari akun Instagram @militer.udara berdasarkan cuitan akun resmi TNI AU.
Keempat penerbang itu adalah Mayor Pnb Putut Satriya, Mayor Pnb Riki Sihaloho, Kapten Pnb Fathir Muhammad Hadiid, dan Kapten Pnb Indra Kusuma N. Mereka menjalani Type Rating Course yang berlangsung dari 16 Juli hingga 25 Oktober 2025. Materi pelatihan mencakup CBT (Computer-Based Training), FTD (Flight Training Devices), hingga FFS (Full Flight Simulator). Setelah ground training, mereka akan melaksanakan fase latihan terbang langsung menggunakan pesawat Airbus A400M secara bergantian.
Setelah pelatihan di Spanyol dan pesawat Airbus A400M tiba di Indonesia, keempat penerbang tersebut akan melanjutkan tahap pelatihan selanjutnya, yakni Initial Operation Experience (IOE) di Halim training area selama satu bulan.
Video: Courtesy of Viva.co.id Channel
Secara total, Kementerian Pertahanan telah memesan dua unit pesawat Airbus A400M pada tahun 2021. Kedua pesawat itu diharapkan dapat meningkatkan fleksibilitas operasional TNI AU secara signifikan, serta mendukung berbagai misi strategis dan taktis. Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI M. Tonny Harjono mengungkap bahwa unit pertama A400M akan tiba di Indonesia pada November 2025, sementara satu unit lainnya menyusul dikirim ke Indonesia pada 2026. “Sementara, kita alokasikan (pesawat A400M) di Lanud Halim Perdanakusuma, di bawah Skadron Udara 31, karena memang tugas dari Skadron Udara 31 adalah angkut berat,” jelas Tonny seusai membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI AU yang digelar di Mabesau, Cilangkap, Jakarta, pada 3 Februari 2025.
Setelah kunjungan Presiden Prancis Emanuelle Macron ke Jakarta Mei lalu, opsi untuk menambah jumlah jet tempur Rafale mengemuka meski kabar ini belum dikonfirmasi oleh Kemhan RI. Jet tempur Rafale pertama milik Indonesia kini dalam tahap persiapan di fasilitas produksi Dassault di Prancis. Satu Rafale telah ditampilkan dengan livery dan logo TNI AU.
TNI AU telah melaksanakan program Pilot Training Batch 1 dan Organizational Level of Maintenance (OLM) Technical untuk menyambut kedatangan Rafale. Program ini diikuti oleh 16 personel pilihan, terdiri dari 4 penerbang dan 12 teknisi, yang seluruhnya berada dalam kondisi sehat dan siap melaksanakan seluruh tahapan pelatihan. Tim pelatihan batch 1 ini dipimpin oleh Kasiopslat Disops Lanud Supadio Letkol Pnb Binggi Nobel, M.S.S., selaku Ketua Tim.
Para teknisi mempelajari materi umum dan spesialisasi sesuai bidang masing-masing, yaitu Vector, Avionic, dan Armament. Pembelajaran dilakukan di kelas dan hangar, dilanjutkan dengan on the job training di skadron operasional di Prancis.
Jet tempur Rafale Indonesia adalah versi F4, versi paling mutakhir dari keluarga Rafale. Mengutip dari situs resmi produsen jet tempur Rafale, Dassault Aviation, Rafale F4 adalah jet tempur Rafale F3 yang mengalami upgrade pada sistem Infrared Search and Track (IRST) yang memungkinkan pengindraan target pada malam hari baik di darat maupun di udara dengan lebih akurat dan tajam, upgrade radar RBE2AA dengan tambahan mode Synthetic Aperture Radar (SAR) dan Ground Mobile Target Indication and Tracking (GMTI/T) untuk mengendus target darat yang selalu bergerak, mode kolaboratif baru atau berbagi data untuk meningkatkan kemampuan deteksi, situational awareness pelacakan dan penembakan.
Rafale F4 juga akan mengalami peningkatan kemampuan untuk membawa misil MICA NG (new generation) dan perbaikan di area konektivitas dengan penambahan server komunikasi, komunikasi satelit, dan software radio baru untuk sistem CONTACT (Communications numériques tactiques et de théâtre, digital tactical and theater-wide radio communications) dan juga jammer digital baru untuk sistem pertahanan SPECTRA.
Video: Courtesy of Viva.co.id Channel
Namun tidak diketahui apakah Rafale F4 milik TNI AU akan dilengkapi berbagai peningkatan tersebut di atas, yang pasti adalah Rafale F4 TNI AU dilengkapi berbagai senjata mematikan dan lebih dari mumpuni untuk menjawab tantangan di kawasan. Berbagai senjata itu adalah rudal anti pesawat jarak menengah MICA EM and IR yang mampu menggasak sasaran di luar pandangan (beyond visual range), rudal Meteor yang memiliki kemampuan mengejar target berkecepatan tinggi dan juga sasaran kecil seperti drone, lalu ada juga rudal jarak pendek Magic II.
Untuk target permukaan, baik di darat maupun di laut, Rafale dilengkapi, MBDA Storm Shadow/SCALP-EG, AASM-Hammer (SBU-38/54/64), GBU-12 Paveway II, GBU-16 Paveway II, GBU-22 Paveway III, GBU-24 Paveway III, GBU-49 Enhanced Paveway II dan tentu saja misil anti kapal legendarIs MBDA AM 39-Exocet. Rafale F4 juga memiliki kemampuan membawa peluru kendali dengan hulu ledak nuklir seperti ASMP-A dan ASN4G yang memiliki kecepatan hypersonic walau masih dalam tahap pengembangan.
Kini, pada hari ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, Tentara Nasional Indonesia semakin kuat dan diharapkan setidaknya pada masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dapat memenuhi MEF tahap III dan mampu menjawab berbagai tantangan di kawasan. Jayalah TNI, jayalah Indonesia. Merdeka!
Sumber: Kemhan RI, Antara, Dassault Aviation, Teknologi dan Strategi Militer, SIPRI dan Wikipedia

