Setelah Perbankan Lolos dari Berbagai Episode Tantangan Berat
JAKARTA, investortrust.id – Perbankan nasional terbukti tangguh (resilient) menghadapi berbagai episode tantangan yang sulit dan berat. Saat ini pertumbuhan kredit cukup tinggi, apalagi di sektor tertentu, dengan kualitas aset yang terjaga baik. Banyak sektor bisnis yang layak untuk dibiayai, tinggal bank jeli membaca data lebih detail masuk ke daerah-daerah potensial (going deeper).
Tantangan terbesar adalah perebutan likuiditas, terutama dialami olen bank-bank kategori KBMI 1 dan 2. Untuk memperbesar likuiditas, terutama dana murah, akselerasi digitalisasi menjadi keniscayaan, sekaligus sebagai kekuatan untuk mempertebal pendapatan berbasis fee (fee based income). Selain itu, bank harus pandai-pandai memitigasi risiko dan memiliki sensor early warning yang tajam menghadapi tingkat volatilitas yang tinggi ke depan.
Demikian benang merah focus group discussion (FGD) tentang kondisi terkini dan tantangan sektor perbankan ke depan, yang menghadirkan pembicara Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, Senior Consultant PT Kovida Daya Indonesia, Soebowo Musa, dan Direktur Anugerah Megah Investama, Hans Kwee.
FGD ini merupakan rangkaian kegiatan pemberian penghargaan kepada bank terbaik “Investortrust Best Bank 2025” yang digelar Rabu (25/6/2025) di Hotel Sultan Jakarta. Penganugerahan Best Bank 2025 mengusung tema “From Resilience to Relevance, Optimizing Strength to Seize Indonesia’s Next Banking Chapter”.
Andry Asmoro menyatakan, perbankan telah lulus dari berbagai jenis badai. Mitigasi risiko yang dilakukan sangat baik. Sepanjang kariernya di perbankan, badai yang terjadi pada 2024 tergolong yang terberat setelah pandemi Covid-19 dan krisis moneter 1998. Tahun lalu, volatilitasnya sangat besar dan tidak berhenti, bahkan berlanjut ke 2025.
“Perbankan di Indonesia dengan highly regulated sudah mengalami berbagai episode tantangan. Ibarat atlet yang sudah melalui pertandingan berat. Ibarat timnas sepak bola kita udah melalui lawan-lawan yang susah. Jadi, menghadapi lawan yang semakin pintar, bank siap menghadapi situasi ini. Trump pun bukan faktor baru, karena kita pernah mengalaminya di 2017,” kata Andry.
Terpilihnya kembali Presiden Donald Trump memang menimbulkan risiko baru. Volatilitas semakin tinggi. Uncertainty juga sangat tinggi. „Kalau kita sama-sama lihat perbandingan Trump 1.0 ke 2.0, itu terlihat sekali, volatilitasnya sangat tinggi, baik nilai tukar maupun suku bunga, yang istilah anak sekarang sangat galau,” kata Andry.
Ketidakpastian (uncertainty) tidak hanya terjadi di semester I dan II tahun 2025, tapi bakal sampai tahun depan. “Kita menyaksikan bagaimana proyeksi pertumbuhan ekonomi dipangkas di tahun 2025. Tahun 2026 kemungkinan besar masih akan relatif flat,” kata dia.
Tendensinya, pertumbuhan rata-rata global setelah pandemi akan relatif lebih rendah dibandingkan prapandemi. Faktornya adalah karena pertumbuhan ekonomi China yang tidak setinggi prapandemi. Ekonomi negara maju juga sama, relatif landai.
Apa implikasinya bagi Indonesia? Setidaknya Andry Asmoro menyebut ada tiga implikasi. Pertama, alur investasi. Yang paling cepat terlihat adalah aliran dana ke pasar modal. Narasi pertumbuhan sekarang semakin penting, karena persaingan negara-negara untuk memperbutkan aliran modal (capital flows) semakin tinggi.
“Era easy money itu sudah lewat. Sekarang mayoritas investor akan sangat-sangat picky untuk menempatkan instrumennya ke negara mana. Mereka melihat mana yang menjanjikan pertumbuhan relatif baik. Makanya kalau Pak Presiden Prabowo punya target pertumbuhan ekonomi tinggi, memang relevan. Karena semua negara berlomba mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” kata Andry.
Pertumbuhan ekonomi menjadi acuan, karena bakal terefleksi pada ekspektasi pertumbuhan kinerja emiten. Kinerja emiten yang tinggi berpotensi menarik aliran modal masuk.
Implikasi kedua dari sisi perdagangan, terutama terkait harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Perlambatan di China, Amerika Serikat, dan beberapa negara sebagai konsumen komoditas seperti CPO dan batu bara akan membuat harga kedua komoditas itu melandai. Penurunan harga dan permintaan global komoditas akan menurunkan pendapatan korporasi di sektor tersebut.
Implikasi ketiga menyangkut sentimen. Indonesia dibandingkan dengan negara lain bisa dibilang memberikan pertumbuhan yang lebih menarik. Tapi ketika AS kemudian menjadi salah satu sumber crack dalam perekonomian global, aset mana yang dicari? Orang akan lari ke emas, kripto, dan lain-lain. Jadi ada perebutan alokasi aset.
Dampak ke Perbankan
Dari tiga implikasi itu, perbankan menghadapi dua hal, yakni pertumbuhan kredit dan kualitas aset. Segmen mana yang paling terpengaruh dan segmen mana yang relatif resilien. Ternyata, pertumbuhan kredit relatif aman meski tidak setinggi tahun lalu. Kualitas aset, yakni NPL, relatif meningkat, tapi bank sudah sangat baik melakukan litigasi.
Justru yang menjadi masalah besar adalah likuiditas. “Saya selalu sampaikan baik di internal (Bank Mandiri) dan juga ke beberapa teman-teman di regulator bahwa tantangan perbankan bukan dari sisi pertumbuhan kredit. Tapi likuiditas. When we talk about the banking sectors, it's always be liquidity, liquidity, and liquidity,” tegas Andry.
Data Bank Indonesia menunjukkan, terjadi penurunan penempatan dana rumah tangga di perbankan. Yang naik adalah DPK korporasi. Rumah tangga terdampak karena banyak PHK dan meningkatnya kelompok berkantung tipis (smaller size of wallet). “Itu membuat spending turun, apalagi untuk saving. Fenomena “mantab‘ (makan tabungan) itu sudah terjadi sejak 2023,” kata dia.
Saat ini banyak pembelian safe deposit box serta produk-produk investasi yang berbasis emas. Ini sebenarnya kantong kiri kantong kanan. Kalau banyak orang menaruh dana di emas atau kripto, DPK menjadi terbatas. Perubahan alokasi aset itulah yang membuat pertumbuhan DPK menjadi tersendat.
Sementara itu, jumlah korporasi relatif terbatas dan tidak bertambah terlalu banyak dalam dua dekade terakhir. „Jadi, perbankan akan masuk ke nama-nama tersebut hampir semuanya. Di situlah persaingan perebutan dana pihak ketiga sangat tinggi,“ kata dia.
Andry melihat kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab lambannya penurunan suku bunga perbankan. Transmisi kebijakan dari Bank Indonesia ke perbankan lamban. Meski BI sudah menurutan BI rate 25 bps, transmisinya masih lambat.
Segmentasi Perbankan
Soebowo Musa menyebut bahwa kendala likuiditas paling berat dan sangat ketat (very tight) dihadapi bank kategori KBMI 1 (modal inti hingga Rp 6 triliun) dan KBMI 2 (modal inti di atas Rp 6 triliun sampai dengan Rp 14 triliun. Mayoritas bank ada di dua kelompok tersebut.
Di Indonesia, struktur perbankan dikelompokkan dalam modal inti, bukan segmentasi. Bank kelompok ini sejak dulu kan punya segmen tersendiri dan belakangan memang harus bertarung menghadapi bank KBMI 3 dan 4. Sekarang pertarungan itu semakin sengit.
“Akibatnya, cost of fund bank KBMI 1 dan 2 ini pasti naik. Dari sisi kredit pun, bank-bank kecil ini kan segmennya di sektor bawah. Sedangkan untuk masuk ke korporasi, juga sangat terbatas. Sehingga mereka ini akan penuh tantangan hingga 2026,“ tutur Soebowo.
Di sinilah Soebowo menekankan perlunya terobosan dari regulator perbankan, jangan hanya mengelompokkan bank hanya dari sisi modal inti, tapi juga dari sisi segmentasi. Jangan sampai bank kecil dan besar bertarung di area yang sama. „Jadi perlu diatur lagi soal lansekap perbankan dilihat dari sisi segmentasi. Biar bank juga melakukan analisis, kekuatannya ada di segmen mana,“ tegasnya.
Dia sependapat bahwa saat ini terjadi peralihan (shifting) penempatan dana. Banyak yang lari ke emas, kripto, dan aset lain. Apalagi di kota-kota kecil, banyak yang memindahkan dana ke emas.
Di bank kategori ini, potensi kenaikan kredit bermasalah (NPL) dan kredit berisiko (LaR) juga cukup besar. Karena kredit di sektor bawah ini paling terpukul oleh kondisi makro.
Tantangan selanjutnya adalah menciutnya NIM, karena kenaikan biaya dana dan bank pun tidak bisa serta merta menaikkan suku bunga kredit dalam kondisi seperti sekarang ini.
Hans Kwee melihat berbagai faktor global yang kurang kondusif berdampak terhadap sektor perbankan. Inflasi AS dan beberapa negara cenderung meningkat. The Fed tidak akan segera menurunkan suku bunga. Tahun ini kemungkinan FFR hanya turun 50 bps.
„Peta perdagangan dan investasi juga berubah ke depannya. Ekspektasi liberalisasi perdagangan, investasi, dan rantai pasok pudar dan berubah menjadi lebih proteksionisme. Tensi AS dan China menjadi perhatian dunia. Ini semua akan memengaruhi ekonomi Indonesia juga, dan perbankan,” kata Hans.
Di Indonesia terjadi penurunan daya beli dan susutnya jumlah kelas menengah. Ini berpengaruh terhadap sektor UMKM. Sedangkan untuk kelas atas tidak ada masalah. Makanya mal-mal kelas atas selalu tetap ramai. Jadi, perbankan harus bersiap menaikkan pencadangan untuk mengantisipasi NPL dan itu sudah diantisipasi dari sekarang.
Tapi untungnya kinerja perbankan kuartal I-2025 masih bagus. Ini menumbuhkan optimisme, meskipun harga saham perbankan turun, dipicu oleh keluarnya dana asing.
“Jadi, investor pasar modal sekarang tetap fokus di saham big cap, termasuk perbankan. Saat ini ada judul atau jargon baru, yaitu sell America. Artinya, dana2 keluar dari AS dan akan menyebar ke emerging market. Dan yang potensial dibeli adalah saham bank besar, yaitu Mandiri, BRI, BNI, dan BCA,“ kata Hans.
Hal tetap melihat sektor perbankan ke depan sangat bagus. Bank-bank sudah menaikkan cadangan untuk mengantisipasi volatilitas serta kenaikan LaR dan NPL. „Sektor perbank terliaht tangguh, buktinya hingga kini tidak ada bank yang menghadapi masalah,“ ucap Hans.
Prospek Pertumbuhan Kredit
Data yang paling menggembirakan sektor perbankan adalah pertumbuhan kredit. Menurut data OJK, ekspansi kredit masih terjaga baik. Bahkan kredit korporasi tumbuh tinggi di atas 15% per April 2025. Menurut Andry, ada sejumlah sektor yang pertumbuhan kreditnya tinggi, seperti industri manufaktur, karena maraknya hilirisasi.
Sektor lain yang tumbuh tinggi adalah transportasi, listrik, gas, dan air, serta industri makanan minuman yang tumbuh 18,8%. Sektor lain adalah logistis, perhotelan, juga komunikasi. Pada kuartal I-2025, Presiden Prabowo mendorong swasembada pangan, sehingga sektor pertanian tumbuh tinggi.
“Dapat disimpulkan bahwa sektor pertumbuhannya cukup tinggi adalah domestic driven,” kata Andry, seraya menambahkan bahwa kredit yang pertumbuhannya kecil berhubungan dengan kondisi eksternal, terutama ekspor-impor.
Di Indonesia, orang tetap suka belanja, ada kebutuhan transportasi, mobilitas meningkat. Mandiri Spending Index menunjukkan mobilitas orang Indonesia meningkat. Dan itu yang kemudian terefleksi pada pertumbuhan kredit dan ada sektor tertentu yang memiliki performa cukup tinggi.
Jadi, kata Andry, bank harus jeli ekspansi kredit ke sektor-sektor yang terbukti pertumbuhannya melebihi pertumbuhan ekonomi nasional.
Terkait aliran modal masuk, dari pertemuan dengan para fund asing, Andry berpandangan bahwa investor asing memberi perhatian pada tiga hal. Pertama, ekspektasi terhadap prospek pertumbuhan ekonomi bagaimana, karena nanti akan berdampak kepada kualitas aset. Kualitas aset berdampak pada pencadangan. Pencadangan ujungnya profit.
Kedua, arah kebijakan pemerintah. Belakangan memang sudah clear dibanding periode awal, sehingga sudah mulai masuk capital flows-nya ke Indonesia.
Ketiga, terkait likuiditas dan banyak dana dari negara maju yang akan masuk ke emerging market. “Tapi memang ke emerging-nya masih lihat-lihat. Dimana yang kemudian memang memberikan profit yang relatif lebih tinggi. Persaingannya memang akan antara emerging market sendiri,” kata Andry.
Soebowo Musa menilai bahwa terkait aliran modal masuk, Indonesia tertinggal selangkah di belakang dibanding Vietnam dan Thailand. Apalagi menyangkut FDI, di Indonesia lebih ribet dibanding kedua negara tersebut.
Selain itu, terkait juga fisolofi bisnis di Indonesia, yang lebih menekankan pada dagang, bukan produksi. Hal itu berakibat pada lemahnya daya saing Indonesia dibanding beberapa negara tetangga. Itulah salah satu kelemahan struktur ekonomi di Indonesia.
Terkait hal itu, Andry menyebut bahwa hampir separuh kredit (46%) perbankan di Indonesia menyasar ke sektor perdagangan besar (wholesale) dan eceran (ritel), pertanian 18%, dan industri manufaktor 10%. “Ketiga sektor itu menguasai 72% kredit, sehingga kalau rontok ya pertumbuhan kredit ke sektor itu menurun,“ ujar Andry.
Memang ada sedikit kenaikan loan at risk (LaR) secara overall dari 9,28% sekarang ke 9,92%. NPL juga sedikit meningkat di UMKM dan konsumer, di sektor bawah. Sektor korporat cukup resilien sehingga pertumbuhan kredit tinggi.
Andry Asmoro sependapat bahwa yang paling tertekan itu bank KBMI 1 dan 2, karena akses kepada korporat atau wholesale funding-nya relatif terbatas. Akibatnya tertekan dari sisi likuiditas. „Namun perbankan kita sudah memiliki mitigasi risiko yang baik, sehingga profit tetap cukup baik,“ ujar Andry.
Going Deeper
Bank sekarang juga perlu membaca peluang dan data lebih detail. Bank harus melihat juga bagaimana data PDRB-nya, potensi-potensi yang ada di daerah yang spesifik. „Tidak bisa lagi one fit for all. Nah itu kemudian menimbulkan potensi-potensi bisnis, kredit, dan juga transaksi di perbankan,“ kata Andry.
Tantangan terbesarnya memang bagaimana menggenjot pertumbuhan ekonomi lebih tinggi agar ada penyerapan tenaga kerja, agar orang punya duit dan gaji lagi, sehingga kemampuan konsumsi dan menabungnya bisa lebih besar lagi.
Intinya, Andry menekankan bahwa pertanyaan utama bagaimana perbankan tetap resilien di tengah situasi global yang menantang dan sedang dalam kondisi slow down? Bagaimana bank tetap tumbuh sehat dengan kualitas aset yang bisa dijaga.
Jadi, lanjut Andry, perbankan harus menjaga pertumbuhan kredit. Kuncinya adalah semakin detail membaca situasi ekonomi dan global. Forward looking-nya semakin penting. Kita tidak bisa melihat hanya data makro, tapi lihat juga bagaimana regionalnya di Indonesia, karena perbankan di Indonesia mayoritas men-taping market domestik.
“Lihat juga level provinsi hingga kabupaten, mana sektor yang potensial, bagaimana rating industri, dan hal detail lainnya. Itulah yang dilakukan Bank Mandiri, mengapa kita bisa tetap tumbuh sehat dan juga bisa mitigasi risiko, karena kita going deeper, dan bisa baca peluang,” kata Andry.
Bank Mandiri sudah memitigasi dengan early warning, salah satunya melalu Mandiri Spending Index untuk mengetahui, leading indicator, yang digunakan sejak tahun 2020. Indikator early warning itu dikombinasikan dengan membuat stress testing. “Kalau kita berada di situasi yang memburuk, perbankan kita berada di level mana, sehingga manajemen perlu membuat kebijakan yang strategis,” kata dia.
Digitalisasi
Dengan perebutan DPK yang ketat maka perolehan dana murah lebih sulit, sehingga NIM perbankan pasti terkoreksi. “Tinggal bagaimana masing-masing bank membuat strategi supaya penurunannya tidak terlalu cepat. Bisa dengan efisiensi dan memaksimalkan fee based income,” kata Andry.
Transaksi kini menjadi kunci untuk mendapatkan profit yang besar, yang nota bene itu adalah pendapatan non-bunga. Transaksi bisa diakselerasi lewat digitalisasi, yang kini sedang digencarkan oleh bank-bank besar. Bank Mandiri sudah investasi digital besar-besaran sejak 2021, dan menjadi modal besar untuk mengakselerasi transaksi.
Nah, untuk urusan digitalisasi ini, kata Soebowo Musa, lagi-lagi bank KBMI 1 dan 2 makin tertinggal. Sebab, transformasi digital membutuhkan investasi yang tidak sedikit. „Padahal sekarang terjadi pergeseran perilaku konsumen yang membutuhkan convenience. Ini harus didukung dengan layanan digital yang mumpuni. Ini sulit bagi KBMI 1 dan 2, bisa jadi ada perpindahan ke bank besar,” kata Soebowo.
Konsolidasi Sulit?
Terkait tekanan yang dihadapi perbankan dikelompok KBMI 1 dan 2 serta tantangan menghadapi persaingan dengan bank KBMI 3 dan 4, haruskah konsolidasi atau akuisisi didorong?
Untuk saat ini, Soebowo melihat investor atau bank besar berpikir dua kali untuk mengakuisisi bank-bank kecil. Lanskap perbankan juga sudah berubah. Mungkin juga harga untuk akuisisi lebih mahal, terutama untuk bank kecil yang sudah lama dan memiliki historis dan psikologis dengan pemiliknya. „Kecuali untuk bargain sale, dengan bargaining price,“ kata dia.
Andry menambahkan, appetite investors berubah. Era cheap money sudah lewat. Trump membuat pasar sangat volatil, sehingga alokasi aset harus hati-hati dan selektif, termasuk untuk mengakuisisi bank.
„Lihat saja banyak bank asing yang menutup sektor ritelnya di Indonesia. Tapi, I'm happy, kalau misalnya banyak konsolidasi terjadi di perbankan, karena memang itu tujuan regulator juga kan, agar kondisi perbankan semakin sehat. Tapi bisa saja kalau beberapa tahun ke depan kembali jika situasi sudah membaik,” kata Andry.
Hans Kwee melihat akuisisi masih bisa terjadi karena sektor perbankan nasional cukup menarik dengan NIM cukup tebal. Sebelumnya, asing sudah banyak masuk ke bank nasional, termasuk bank menengah. Tapi untuk masuk ke bank-bank kecil ini, sayangnya kelompok itu juga menghadapi persaingan dengan shadow banking, termasuk fintech yang menggerus pasar mereka. ***

