Optimisme Pasar Modal di 2025, Seberapa Besar?
JAKARTA, investortrust.id – Meminimalisasi dan memitigasi ketidakpastian yang terus membayangi mesti menjadi mantra bagi setiap otoritas dan pengambil kebijakan agar perekonomian sebuah negara mampu bertumbuh. Di tahun 2025 ini, Indonesia juga dihadapkan tantangan yang tidak mudah, namun optimisme tetap membuncah, termasuk di pasar modal.
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diyakini akan bertumbuh positif, menuju level 8.000, paralel dengan perekonomian yang resilien. Hal itu didukung oleh fundamental ekonomi yang tetap solid, fiskal yang sehat, dan iklim bisnis yang bakal terus dibenahi.
Berbagai pernyataan sejumlah pejabat, otoritas, dan pelaku pasar modal pada pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Gedung BEI di Jakarta, Kamis (2/1/2025), mengonfirmasi ihwal optimisme tersebut.
Sepanjang 2024, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) memang tergerus 2,65% ke level 7.079,91. Meski demikian, pasar modal Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Menurut Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, berbagai indikator kinerja pasar modal tahun lalu menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Hal ini selaras dengan kinerja pertumbuhan ekonomi nasional.
Nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp 12.264 triliun atau tumbuh 5,74%. Jumlah tersebut setara dengan 56% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Sepanjang tahun lalu, penghimpunan dana di pasar modal mencapai Rp 259,24 triliun, yang berasal dari 199 penawaran umum. Jumlah itu termasuk 43 emiten baru dengan nilai IPO Rp 16,68 triliun dan PUPS senilai Rp 41,77 triliun.
Kinerja reksa dana dari sisi Asset Under Management (AUM) tercatat sebesar Rp 840,6 triliun atau meningkat sebesar 1,44 persen (ytd). Penghimpunan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) mencapai Rp 1,35 Triliun, melalui 16 platform penyelenggara SCF yang berhasil dimanfaatkan oleh 708 pelaku UKM.
Capaian besar terjadi dari sisi pertumbuhan jumlah Single Investor Identification (SID) yang berhasil mencapai 14,8 juta SID, atau meningkat 22,21% ytd. Hal itu melebihi target pencapaian SID pada tahun 2024. “Yang menggembirakan, mana mayoritasnya didominasi oleh investor berusia di bawah 40 tahun, yakni sebesar 79% dari total SID,” kata Iman Rachman.
Di Bursa Karbon, per 30 Desember 2024 volume transaksi tercatat sebesar 908 ribu ton CO2 ekuivalen, dengan total nilai transaksi akumulasi mencapai Rp 50,64 miliar sejak diluncurkan pada 26 September 2023 lalu. Hingga saat ini, sebanyak 100 perusahaan telah berpartisipasi sebagai pengguna jasa, dengan total unit karbon tersedia masih tersedia lebih dari 1,35 juta ton CO2 ekuivalen.
Direktur Utama BEI Iman Rachman mengakui tahun 2024 menjadi tahun yang penuh tantangan, sekaligus peluang dari pasar modal Indonesia. “Sepanjang tahun, IHSG mengalami volatilitas signifikan,” ujar Iman.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menambahkan, permohonan pernyataan pendaftaran saham secara umum tidak menurun sepanjang 2024. Hanya saja, beberapa perusahaan mengalami pembatalan pencatatan saham.
“Ada yang menunda, tapi juga ada penolakan dari bursa karena concern kami dari segi kondisi keuangan, operasional dan aspek hukum, termasuk going concern perusahaan,” jelas Nyoman.
Ada penyebab internal maupun kondisi eksternal. Dari internal perusahaan, kesiapan perusahaan disebut jadi salah satu faktor yang sangat krusial, seperti kinerja keuangan dan pemenuhan GCG sesuai ketentuan. Adapun faktor eksternal yang memengaruhi rencana IPO adalah kinerja sektor atau industri, serta kondisi makro ekonomi global dan domestik seperti tingkat suku bunga dan inflasi.
Yetna mengakui aktivitas penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham pada 2024 sepi sehingga tidak tercapai target. Namun, kondisi ini bukan monopoli Indonesia. Hal serupa juga dialami negara-negara di ASEAN, juga secara global. Penurunan terjadi baik dalam jumlah perusahaan tercatat baru maupun dari sisi nilai penggalangan dana.
“Penyebab utamanya, hampir 70 negara di dunia, yang mewakili 60% PDB dunia, menggelar pemilu. Itu membuat para pengusaha mengambil posisi wait and see terhadap pemerintahan baru dengan kebijakan barunya,” kata dia kepada Investortrust.
Nyoman memberikan ilustrasi, penghimpunan dana dari IPO di Indonesia pada 2024 tercatat US$ 0,9 miliar, turun 74% dibandingkan 2023 sebesar US$ 3,6 miliar. Thailand juga turun namun hanya 3,8%, dari US$ 1,3 miliar menjadi US$ 0,8 miliar. Namun Malaysia justru naik, dengan pertumbuhan penghimpunan dana IPO sebesar 105% dari US$ 0,8 miliar pada 2023 menjadi US$ 1,7 miliar pada 2024. Pertumbuhan tertinggi diraih Filipina dengan lonjakan 164% (yoy), namun penghimpunan dana IPO-nya relatif kecil, dari US$ 0,1 miliar menjadi US$ 0,2 miliar.
Namun, dari penambahan emiten baru, Malaysia terbanyak, yakni 49 emiten, Indonesia 43 emiten, Thailand 31 emiten, dan Singapura hanya 4 emiten baru. Secara rata-rata, jumlah IPO di ASEAN turun 20,99% (yoy).
Meski demikian, aktivitas penerbitan obligasi, sukuk, dan instrumen efek lainnya di bursa meningkat. Hal ini menunjukkan perusahaan tetap memanfaatkan pasar modal. Tahun lalu, BEI membukukan pencapaian penerbitan efek sejumlah 680 efek atau 200% dari target, serta meningkat 176% dari pencapaian jumlah penerbitan efek pada 2023.
Kontribusi pasar saham terhadap PDB di Indonesia terhitung rendah bila dibandingkan negara-negara ASEAN lain. Jika kapitalisasi pasar saham Indonesia baru 56% PDB, India tercatat 140%, Thailand 101%, dan Malaysia sebesar 97%.
Selain itu, porsi jumlah investor dari total populasi dewasa Indonesia juga masih sebanyak 7,4%. Singapura dan Malaysia masing-masing mencapai 10,9% dan 7,4% dari total populasi dewasa.
Program 2025
Mahendra Siregar mengakui masih banyak ruang perbaikan yang harus dilakukan di tahun 2025. Potensi pertumbuhan pasar modal juga masih sangat besar. „Hal itu membutuhkan penguatan ekosistem pasar modal kita. Untuk itu, aspek integritas pasar harus menjadi landasan utama,” ujar Mahendra.
Menurut dia, kinerja pasar modal yang positif merupakan modal penting bagi Indonesia dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk itu, pada 2025, OJK bersama seluruh pemangku kepentingan termasuk SRO berkomitmen mengimplementasikan berbagai program strategis pemerintah.
Berbagai program tersebut difokuskan pada penguatan dan pengembangan pasar modal, salah satunya melalui peningkatan pendalaman pasar, antara lain peningkatan kuantitas dan kualitas perusahaan tercatat.
“Program strategis ini dilaksanakan melalui berbagai inisiatif, termasuk meningkatkan porsi saham free float dan mendorong perusahaan dengan kapitalisasi besar untuk melantai di bursa,” ucap Mahendra.
Selain itu, pasar modal juga akan melakukan penguatan regulasi dan sistem dalam proses penawaran umum agar lebih efisien dan transparan.
Program lainnya yang telah disiapkan adalah pengembangan produk, infrastruktur, dan layanan baru. Program ini dilaksanakan melalui peningkatan peran investor institusi pada pasar perdana dan sekunder di pasar modal.
Dalam konteks ini, OJK mendorong optimalisasi penggunaan Efek Beragunan Aset (EBA) untuk mendukung likuiditas pelaksanaan program 3 juta rumah. “Untuk itu, kami siap mendorong sinergi untuk memperkuat skema dan ekosistem EBA,” kata Mahendra.
Pasar modal juga akan mengembangkan produk baru dan optimalisasi pemanfaatan produk pasar modal eksisting termasuk bursa karbon dan produk yang berwawasan ESG, serta pengembangan infrastruktur beserta layanan transaksi efek.
OJK dan otoritas terkait juga menyiapkan program penguatan Anggota Bursa dan Manajer Investasi (MI) sebagai program prioritas melalui peningkatan kapasitas, tata kelola, pengendalian internal, manajemen risiko dan kepatuhan anggota bursa dan MI, termasuk keamanan teknologi informasi dan operasional.
„Melalui program ini, anggota bursa dan MI diharapkan dapat lebih berperan dalam memperluas penetrasi produk pasar modal, tidak terbatas pada saham saja. Hal tersebut diiringi dengan penguatan perlindungan kepada investor guna memastikan kepercayaan investor,“ tegas Mahendra.
Dukungan Kemenkeu dan Literasi
Upaya pengembangan pasar modal juga mendapat dukungan dari Kementerian Keuangan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berkomitmen mendukung pengembangan dan penguatan pasar modal, seperti program pendalaman pasar melalui edukasi dan peningkatan literasi masyarakat.
“Jual beli saham sekarang seharusnya ini sudah mulai diajarkan bukan di tingkat mahasiswa, tapi di tingkat sekolah dasar sehingga mereka menjadi lebih familiar dengan bursa efek,” kata Menkeu.
Sri Mulyani optimistis jika pendidikan pasar modal bisa diterapkan sejak dini dan masuk ke kurikulum sekolah, masyarakat akan mulai terbiasa mendiversifikasi tabungannya ke sejumlah produk pasar modal. Transformasi dari saving society ke investment society yang dicita-citakan selama ini tentunya bisa terwujud.
Gagasan Menkeu disambut baik Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Frederica Widyasari Dewi. Menurut dia, negara anggota Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) seperti Australia, Austria, Belgia, Kanada, Chili, Kolombia, dan Kosta Rika sudah mulai menerapkan edukasi keuangan dan kurikulum pasar modal di sekolah.
"Kita sedang berupaya, kita sudah sering kerja sama dengan Kementerian Pendidikan. Tapi harapan kita masuk ke dalam kurikulum sekolah dari SMP, SMA, dan kuliah juga. Jangan hanya ada fakultas ekonomi bisnis,” kata perempuan yang biasa disapa Kiki ini.
Kiki berharap gagasan ini segera diwujudkan. "Kita siap sih, kurikulum itu kita sudah ada, materi-materi sangat siap, dan kita kemarin ada koordinasi dengan Kementerian Pendidikan untuk menyusun kurikulum. Tapi kapan dimasukkannya secara resmi itu kita belum tahu," tuturnya.
Dukungan lainnya adalah melalui penyempurnaan kerangka pengaturan di sektor keuangan dan penyelesaian produk turunan Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dan implementasi pajak karbon serta regulasi batas emisi sektoral untuk mendorong pengembangan bursa karbon.
“Kami akan bekerja sama dengan para menteri terkait untuk bisa menyelesaikan produk turunan P2SK dan pengaturan sektor keuangan yang makin baik, makin memberikan ruang untuk berinovasi, berkreasi namun juga bertanggung jawab tetap menjaga governance dari prinsip pengelolaan korporasi dan bursa yang baik,” tegas Sri Mulyani.
Sementara itu, kondisi fundamental makro juga dibutuhkan untuk menciptakan suasana yang kondusif, termasuk di dunia investasi protofolio. Dalam konteks itu, Sri Mulyani yang bertugas mengawal APBN berupaya keras agar kondisi fiskal tetap sehat. Alhasil, sepanjang 2024, APBN yang selama semester pertama mendapat tekanan luar biasa, performa di akhir tahun cukup impresif.
Meski tidak mencapai target sesuai skenario awal, kata Menkeu, perolehannya lebih baik dari realisasi APBN 2023. Meski belanja APBN di semua K/L cukup besar dengan pertumbuhan dua digit, defisit APBN 2024 berhasil ditekan hingga hanya sebesar 2,7% PDB. „Artinya, APBN relatif sehat dan aman, sehingga menjadi bekal yang kuat memasuki 2025,“ kata Sri Mulyani.
Prospek 2025
Meski kinerja indeks saham tahun lalu minus, beberapa analis dan manajer investasi tetap optimistis tahun ini indeks bakal menorehkan pertumbuhan signifikan. Presiden Direktur PT Samuel Aset Manajemen Agus B Yanuar menyatakan bahwa seandainya pasar saham Indonesia tak terganggu isu global yang mengakibatkan koreksi di bulan Desember 2024, IHSG bisa saja ditutup di level 7.400 – 7.500.
„Untuk tahun ini, IHSG bisa terkerek mendekati ke level 8.000. Dengan EPS (earning per share) growth tahun ini sekitar 9%, saya rasa ada potensi untuk indeks bisa mendekati 8.000 tahun ini di akhir Desember nanti,“ kata Agus Yanuar.
EPS growth (Earnings Per Share Growth) adalah pertumbuhan laba per saham dari waktu ke waktu yang digunakan sebagai indikator kinerja keuangan perusahaan dan dihitung dengan membagi total laba bersih perusahaan dengan jumlah saham yang beredar.
Keyakinannya berangkat dari sejumlah narasi tentang kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang diprediksi akan lebih soft di masa jabatannya, ketimbang saat ia memerintah di periode sebelumnya. Salah satu narasi positif adalah komitmen untuk mengurangi perannya dalam sejumlah konflik geopolitik dunia. Hal itu akan menekan biaya energi di AS.
Sementara itu, Sinarmas Sekuritas memprediksi IHSG tahun ini bisa tumbuh minimal 8% menuju level 8.100. Sedangkan target IHSG akhir tahun ini bisa mencapai 7.500. “Kami menetapkan target IHSG tahun 2025 menuju level 8.100. Skenario ini mempertimbangkan asumsi PE tahun depan sekitar 12,5 kali,” tulis riset Sinarmas Sekuritas Desember lalu.
Sejumlah saham yang diyakini prospektif berdasarkan sektor adalah saham bank, sektor consumer, ritel, dan sektor telekomunikasi.
Optimisme yang melingkupi para pelaku dan pihak regulator di pasar modal ini membutuhkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan. Agar suasana pasar modal tetap kondusif, OJK berkomitmen terus memantau perkembangan global dan domestik, serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pihak regulator juga berharap dengan usainya pesta demokrasi pada 2024 dan iklim politik yang kondusif pasca-pelantikan presiden dan wakil presiden, semua itu dapat mendorong kepercayaan investor. Alhasil, optimisme meluas dan minat perusahaan untuk menggelar IPO pun meningkat.***

