AI, Big Data, dan Resiliensi Digital Industri Jasa Keuangan
JAKARTA, investortrust.id – Bank sebagai pilar utama dan benchmark institusi keuangan memiliki peran besar dalam pembentukan ekosistem ekonomi baru yang diciptakan oleh transformasi digital. Untuk mengakselerasi pertumbuhan, bank membutuhkan inovasi layanan dengan dukungan big data dan artificial intelligence (AI), agar potensi ekosistem yang dimiliki bisa digarap optimal menjadi kekuatan.
Penerapan AI di industri perbankan menjadi keniscayaan, sebagai bagian dari transformasi digital. Bahkan bukan hanya di perbankan, jasa keuangan nonbank pun kian tergantung AI, karena kompleksitas bisnis dan telanjur terikat dalam sebuah ekosistem keuangan yang lebih besar.
Apalagi, saat ini terjadi ledakan data (data explosion) yang luar biasa. Hanya kedigdayaan AI lah yang mampu mengolah data dalam magnitude bertera-tera byte tersebut. Sejauh ini, industri keuangan sudah memanfaatkan AI karena sangat membantu dalam berbagai otomasi pekerjaan seperti chatbot/voice assistant, pemrosesan data dan dokumen, pemantauan transaksi, pendeteksian kejahatan (fraud) termasuk money laundering, dan proses credit scoring.
Demikian mengemuka dalam Investortrust Power Talk Financial Series bertajuk "Big Data & AI: Era Baru Membangun Ekosistem Perbankan Digital" di Financial Hall, Graha Niaga, Jakarta, Kamis (25/7/2024). Acara ini menampilkan pembicara Deputi Direktur Digitalisasi, Financial Center dan Transformasi Perbankan DPNP Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Zulkifli Salim, Chairman Indonesia Business Community (IBC) Bayu Prawira Hie, Direktur Astra Financial Handoko Liem, Direktur Utama PT Bank Jasa Jakarta Leo Koesmanto, dan Ketua Umum Asoiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia Enjik S. Djafar. Seminar dimoderatori CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu.
AI memang menawarkan potensi besar untuk mendorong inovasi dan efisiensi sehingga menjadi salah satu kekuatan di berbagai area bisnis, termasuk perbankan. Implementasi AI dapat meningkatkan produktivitas melalui proses kerja yang lebih efisien dan dapat mendongkrak torehan laba perbankan. Menurut Bayu Prawira, AI juga berfungsi untuk meningkatkan customer experience yang lebih bagus dengan standar baru, mendorong operational excellence, serta mengoptimalkan ekosistem lewat desain model bisnis baru.
Berdasarkan laporan Citi Global Perspectives & Solutions (Citi GPS) bertajuk “AI in Finance: Bot, Bank & Beyond”, industri perbankan dunia yang menggunakan AI dapat meningkatkan profitnya sebesar US$ 170 miliar, setara Rp 2.775,25 triliun atau tumbuh 9% pada tahun 2028. Total laba perbankan global diprediksi mencapai US$ 2 triliun pada tahun 2028, dari perkiraan US$ 1,8 triliun jika tanpa menggunakan AI.
Sesuai slogan “man behind the gun”, AI dengan manfaat positif yang dahsyat, bisa juga dimanipulasi untuk kejahatan. Potensi penyalahgunaan AI pun kian marak, yang dapat merugikan konsumen di industri jasa keuangan. Selama ini, OJK pun sudah mengendus bahwa pemanfaatan AI dalam industri jasa keuangan berpotensi besar menimbulkan ketidakadilan.
Berbagai potensi risiko fraud dan kejahatan itu juga hanya dapat dicegah dan dilawan dengan AI. “Manusia tidak bisa melawan AI, melainkan harus dilawan dengan AI juga, tapi dengan campur tangan manusia. It takes AI to combat AI,” tutur Bayu Prawira.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku regulator dan pengawas sektor jasa keuangan berkepentingan agar penerapan berbagai teknologi baru, termasuk AI, dapat menjaga keseimbangan antara upaya untuk memperbaiki performa pelaku industri, menjaga keamanan, dan mencegah penyalahgunaan yang merugikan konsumen.
Untuk tujuan tersebut, kata Zulkifli Salim, OJK akan meluncurkan panduan Digital Resilience dan AI Governance (tata kelola AI).
Panduan resiliensi digital (digital resilience) ditargetkan meluncur paling lambat September 2024, sebagai acuan untuk menghadapi keamanan siber dan dinamika bisnis. Panduan ini akan menjadi acuan implementasi dalam menghadapi serangan siber atau disrupsi (gangguan) serta menghadapi dinamika bisnis. Resiliensi digital merupakan kerangka kerja yang lebih luas dari keamanan siber.
Panduan ini harus disusun mengingat kian maraknya kasus serangan siber. Kasus yang paling aktual adalah serangan ransom ware terhadap Pusat Data Nasional (PDN) Sementara beberapa waktu lalu. Ketika data PDN diserang, pemerintah khususnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bingung dalam mengatasinya dan tidak ada yang bersedia bertanggung jawab.
Zulkifli menjelaskan, digital resilience mencakup quickly adopt to news tech (mampu mengadopsi teknologi terkini dengan cepat), organizational change dan business competitiveness (memiliki keunggulan kompetitif sehingga mampu bersaing dengan kompetitor di bisnis serupa). Kemudian, risk management (mitigasi risiko dan analisis dampak dengan menggunakan model tradisional sudah lagi tidak relevan), operational resilience (sistem mampu mempertahankan fungsi operasi kritikal saat terjadi disrupsi dan pulih kembali), dan business continuity management (organisasi mampu secara cepat beradaptasi terhadap disrupsi dan mempertahankan kelangsungan bisnis).
Adapun AI Governance merupakan panduan bagi perbankan untuk memastikan bahwa penerapan AI dilakukan secara bertanggung jawab, adil, transparan, dan mematuhi nilai-nilai etika. Panduan tata kelola AI penting lantaran model bisnis bank berbeda-beda. Panduan AI perbankan merupakan bagian dari aturan teknis Blueprint Transformasi Digital yang disusun OJK.
OJK mengingatkan agar industri keuangan perlu memahami mekanisme kinerja AI dan tetap mengantisipasi risiko yang akan timbul. Potensi penyalahgunaan AI dapat merugikan konsumen karena memiliki sejumlah risiko seperti bias algoritma, deepfakes, dan kemampuan membuat keputusan sendiri.
Zulkifli Salim mencontohkan ketidakadilan AI pada salah satu aplikasi riding (ojek atau taksi online) yang digunakan oleh masyarakat sehari-hari. Hal itu cukup ‘merugikan’ para driver menyangkut bonus yang diperoleh karena sistemnya kurang transparan.
Di sektor perbankan, ketidakadilan pemanfaatan AI terjadi di salah satu bank di Amerika Serikat. Di bank itu, kata Zulkifli, peluang etnis-etnis tertentu mendapatkan kredit akan lebih kecil, jika penilaian kelayakannya dilakukan dengan menggunakan AI dan mesin learning. "Warga kulit hitam dan hispanik lebih kecil peluang mendapat kredit dibanding bule asli. Nah ada unsur rasis di situ," ungkap Zulkifli.
Peningkatan kebutuhan terhadap AI di banyak sektor bisnis membuat nilai pasar (market size) AI terus meningkat. Berdasarkan sata Statista Market Insights, tahun ini nilai pasar AI diproyeksikan tembus US$ 184 milliar dan akan terus melonjak dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) 28,46% hingga tahun 2030. Riset McKinsey & Co menunjukkan bahwa pemanfaatan AI generative memberikan kenaikan pendapatan 2,8% hingga 4,7%.
Sementara itu, CEO PT Investortrust Indonesia Sejahtera, Primus Dorimulu menyebut bahwa perbankan digital sedang mengalami transformasi besar dengan penerapan teknologi big data dan kecerdasan buatan (AI). Investasi pada teknologi ini memungkinkan bank untuk menganalisis data secara mendalam, memberikan layanan yang lebih personal, dan meningkatkan efisiensi operasional. Dengan dukungan Big Data dan AI, perbankan digital bisa mengakselerasi pertumbuhan untuk memperkuat basis nasabah lebih signifikan.
AI di Industri Nonbank
Industri jasa keuangan di Indonesia telah memanfaatkan big data, AI, machine learning, dan teknologi terkini dalam proses bisnis dan transformasi digital yang dijalankan. Di antaranya adalah Astra Financial, lini bisnis sektor keuangan di bawah grup Astra Internationl, Bank Jasa Jakarta yang juga menjadi afiliasi Astra Financial, dan peer to peer lending (P2P) yang bernaung di bawah Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI).
Direktur Astra Financial (AF) Handoko Liem menjelaskan, AF yang memiliki delapan lini bisnis sektor keuangan kini memiliki aset Rp 185 triliun, melayani lebih dari 31,2 juta pelanggan, didukung lebih dari 22 ribu karyawan, dan 912 jaringan di seluruh Nusantara.
Transformasi digital Astra Financial dibangun dengan fondasi yang solid sehingga tercipta ekosistem yang kuat. Astra telah membangun Astra Financial Digitalization Framework di tahun 2019. Tahun 2021, Astra membangun well-tech platform untuk mengintegrasikan seluruh produk Astra Financial dan beberapa mitra kerja sama dalam satu aplikasi, untuk mewujudkan slogan one interconnected. Seluruh unit bisnis di Astra Financial telah mengadopsi ISO 27001.
Dalam hal keamanan siber, Astra mengadopsi National Institute of Standard and Technology for Cyber Security.Sistem ini memberikan panduan bagaimana mengidentifikasi, mendeteksi, dan merespons hingga memulihkan jika terjadi ancaman kebocoran data atau breaching.
Setiap membangun inisiatif digital, Astra Financial berprinsip bahwa teknologi tersebut harus dapat beroperasi secara excellent. Astra juga selalu mengadopsi teknologi yang sudah teruji (proven). “Merangkul digitalisasi harus menjadi perubahan yang berkesinambungan (sustainable). Tidak mungkin membuat inisiatif digital tapi bakar-bakar uang sehingga tidak sustain,” kata Handoko.Adapun Bank Jasa Jakarta (BJJ) atau Bank Saqu kini fokus bertransformasi menjadi bank digital, sejak resmi diakuisisi oleh Astra Financial dan WeLab pada medio 2022.
Menurut Presiden Direktur BJJ, Leo Koesmanto, transformasi itu membuat jumlah nasabah melonjak signifikan, dari 17.000 nasabah sebelum diakuisisi, menjadi lebih dari satu juta setelah akuisisi, hanya dalam tempo enam bulan. Berkah lainnya juga muncul dari sisi lapangan kerja. Sebelum diakuisisi oleh Astra Financial dan WeLab, jumlah karyawan Bank Saqu hanya 200 orang, kini mencapai 400 karyawan.
Bank Saqu dikembangkan dengan model start up. Selama dua tahun, bank ini membangun kapabilitas digital, sumber daya digital, dan infrastruktur digital. Bank Saqu memiliki visi ke depan adalah transformasi untuk menjadi bank terbaik (the best bank) dengan layanan digital yang kuat di Indonesia.
Bank Saqu fokus di dua pilar, yakni retail personal bank dan SME (small, medium, and enterprise) lewat relationship banking dengan memanfaatkan kekuatan dua pemegang saham utama. Bank ini juga mengukuhkan diri sebagai scalable banking (siap ekspansi), personalized banking (tahu kebutuhan konsumen), dan technology banking.
Sementara itu, 98 perusahaan fintech P2P lending yang tergabung dalam AFPI memanfaatkan big data yang disimpan di Fintech Data Center (FDC). Menurut Entjik Dja’far, FDC berfungsi menyerupai SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) di OJK, dengan tujuan untuk mencegah pendanaan berlebih, memantau kualitas kredit, dan mencegah fraud.
FDC sangat dibutuhkan karena ada 2-4 juta hit per hari konsumen yang mengajukan aplikasi pinjaman secara daring ke perusahaan fintech, serta ada 30 juta sampai 100 juta pelaporan per hari. Semua dikerjakan oleh mesin, mulai dari apply, disburse, sampai transfer ke rekening. Enjtik berkesimpulan bahwa analisis pinjaman dengan menggunakan mesin jauh lebih akurat dibanding manusia.
Seperti yang terjadi di Dana Rupiah, fintech P2P yang dinakhodai Entjik,setiap hari ada 8 ribu hingga 27 ribu aplikasi pengajuan pinjaman. Semua diseleksi oleh mesin, mulai dari apply, disburse, sampai transfer ke rekening. Satu detik, mesin yang dimiliki bisa memproses 300 ribu aplikasi. Saat ini, total peminjam yang aktif di Dana Rupiah mencapai 4-6 juta, dengan pegawai hanya 47 orang.
Sejauh ini, akumulasi pinjaman yang disalurkan industri fintech mencapai Rp 913,8 triliun (April 2024), dengan outstanding pinjaman Rp 82,73 triliun, 1.440.000 lender, dan 127 juta agregat peminjam. Tingkat keberhasilan bayar (TKB) di atas 90 hari (alias pinjaman bermasalah) hanya di bawah 3%.
Tantangan ke Depan
AI dan big data memang merupakan sumber daya baru yang menawarkan manfaat luar biasa bagi industri jasa keuangan. Justru di sinilah tantangan besar pelaku industri jasa keuangan, khususnya perbankan, untuk meningkatkan kapasitas, keandalan, dan keamanan sejalan dengan pertumbuhan transaksi digitalnya.
Di lain sisi, dalam persaingan ketat digitalisasi layanan saat ini, bank maupun perusahaan keuangan nonbank tidak bisa berdiri sendiri, tapi harus berkolaborasi dalam ekosistem keuangan digital agar bisa berkembang. Kolaborasi harus dijalin dengan financial technology (fintech), e-commerce, dan lain-lain agar integrasi dalam ekosistem digital tersebut memberikan keunggulan.
Zulkifli membeberkan sejumlah tantangan dalam transformasi digital perbankan. Di antaranya adalah insiden operasional, risiko strategis seperti investasi IT yang tidak sesuai strategi bisnis, talenta dan leader digital yang belum memadai, dan peningkatan risiko baru. Tantangan lain adalah rendahnya literasi keuangan dan literasi digital, peningkatan ancaman fraud, regulasi yang harus up to date, serangan siber, serta infrastruktur jaringan komunikasi yang belum tersedia.
Risiko kebocoran data nasabah merupakan risiko yang selalu disorot dan sudah lazim terjadi. Karena kurang bagusnya dalam menjaga data itulah, Indonesia masuk dalam daftar top five most breaching country dalam hal pelindungan data pribadi.
Ke depan, seiring dengan kian canggihnya pengembangan AI dan ledakan trafik data, baik pelaku industri maupun regulator harus sama-sama mampu beradaptasi dan mengantisipasi segala risiko yang muncul. Sebab, di lintasan pertarungan yang sama, kecanggihan pelaku kejahatan sektor keuangan pun cenderung a thousands step ahead.

