Catat! Lima Saran Warren Buffett untuk Investasi di Tengah Kepanikan
JAKARTA, investortrust.id - Sejak 1965, saham sang legenda investasi Warren Buffett, Berkshire Hathaway (BRK.B), telah menghasilkan laba tahunan gabungan sebesar 19,9% atau hampir dua kali lipat laba dari S&P 500 selama periode yang sama.
Tidak seperti banyak pengelola keuangan terkenal di Wall Street, Buffett telah berkembang pesat selama kejatuhan pasar dengan mengikuti pendekatan langsung yang dapat diikuti oleh investor mana pun. Ia justru membeli bisnis berkualitas dengan harga diskon saat yang lain menjual karena panik.
Dilansir dari Investopedia, Senin (7/4/2025) ada beberapa prinsip-prinsip yang telah membuat Buffett tetap sukses melalui beberapa kejatuhan pasar. Buffett mengubah kejatuhan pasar menjadi peluang dengan mengikuti nasihatnya sendiri untuk "takutlah saat orang lain serakah dan serakahlah saat orang lain takut."
Berfokus pada fundamental bisnis yang kuat daripada pergerakan harga jangka pendek telah menjadi inti kesuksesan Buffett, seperti yang ditunjukkan oleh kepemilikan jangka panjangnya di perusahaan-perusahaan seperti Coca-Cola Co. (KO) dan American Express Company (AXP).
Berikut lima saran dari Warren Buffett untuk investasi di tengah kepanikan pasar saham seperti saat ini:
Prinsip 1: Tetap Tenang dan Hindari Penjualan Panik
Buffett sering menekankan bahwa "pasar saham dirancang untuk mentransfer uang dari yang aktif ke yang sabar. Ia memperingatkan terhadap pengambilan keputusan emosional selama penurunan pasar, dengan mencatat bahwa menjual karena takut sering kali menyebabkan kerugian yang signifikan.
Melihat kinerja jangka panjang Indeks S&P 500 membuktikan pendapatnya meskipun ada banyak aksi jual, resesi, dan krisis geopolitik, US$ 100 yang diinvestasikan pada tahun 1928 akan bernilai lebih dari US$ 982 ribu saat ini.
Baca Juga
Simak! 3 Saran Investasi dari Warren Buffett di Tengah Kejatuhan Pasar Saham
Prinsip 2: Tamaklah Hanya Saat Orang Lain Takut
Di antara kutipan Buffett yang paling terkenal dan paling sering diulang adalah "takutlah saat orang lain tamak dan tamaklah hanya saat orang lain takut." Ini bukan sekadar permainan kata yang cerdik ini adalah tulang punggung strategi membangun kekayaannya.
Sementara sebagian besar investor lari mencari jalan keluar saat pasar anjlok, Buffett meraih buku ceknya. Selama krisis keuangan 2008, ketika saham perbankan jatuh bebas dan banyak yang meramalkan runtuhnya sistem keuangan, Buffett menginvestasikan US$ 5 miliar di Goldman Sachs Group, Inc. (GS). Kesepakatan itu mencakup saham preferen dengan hasil dividen 10% dan waran untuk membeli saham biasa, yang pada akhirnya menghasilkan laba bersih Berkshire Hathaway lebih dari US$ 3 miliar.
Prinsip 3: Fokus pada Fundamental Bisnis
Buffett memiliki uji sederhana untuk kemerosotan pasar. Apakah penurunan harga saham sebesar 30% mengubah berapa banyak orang akan minum Coca-Cola tahun depan. Apakah itu mempengaruhi berapa banyak orang yang akan menggunakan kartu American Express mereka. Jika jawabannya tidak, maka nilai intrinsik tetap utuh meskipun pasar memiliki opini sementara.
Investasi Berkshire Hathaway di Washington Post menggambarkan pendekatan ini. Pada tahun 1973, selama penurunan pasar yang parah, Buffett membeli saham hanya pada 25% dari apa yang ia hitung sebagai nilai intrinsiknya. Harganya turun lebih jauh setelahnya, tetapi Buffett tidak gentar, ia memahami bahwa kekuatan fundamental bisnis tersebut tidak tercermin dalam harga sahamnya. Kesabarannya membuahkan hasil: investasi Berkshire sebesar US$ 10,6 juta membengkak menjadi lebih dari US$ 200 juta pada tahun 1985, dengan laba hampir 1.900%. Ini bukanlah keajaiban investasi, melainkan Buffett menyadari bahwa pasar yang takut sering kali salah menilai bisnis yang hebat.
Baca Juga
Warren Buffett Sarankan Kelas Menengah Stop Beli 5 Barang Ini, Apa Saja?
Prinsip 4: Jangan Mengukur Waktu Pasar
Buffett tidak menganjurkan upaya untuk memprediksi pergerakan pasar, menyebutnya sebagai permainan bodoh, dan sebaliknya bertahan untuk jangka sangat panjang. Sekali lagi membuktikan ucapannya, Buffett telah memegang saham Coca-Cola selama 36 tahun dan telah memegang saham American Express sejak tahun 1960-an.
Prinsip 5: Simpan Cadangan Kas untuk Peluang
Sementara sebagian besar penasihat keuangan merekomendasikan untuk tetap berinvestasi penuh, Buffett memandang kas secara berbeda, bukan sebagai sesuatu yang tidak menghasilkan bunga atau dividen yang disimpan di rekening bank, tetapi sebagai "amunisi keuangan" untuk saat prospek langka muncul.
Posisi kas Berkshire yang besar yang sering dikritik selama pasar bullish ,berubah dari kewajiban menjadi senjata rahasia Buffett selama krisis. Pada tahun 2010, setelah menggelontorkan miliaran dolar selama krisis keuangan, Buffett memformalkan strategi ini dalam surat pemegang sahamnya, berjanji untuk mempertahankan setidaknya US$ 10 miliar dalam cadangan kas (meskipun biasanya menyimpan mendekati US$ 20 miliar). Ini bukan kehati-hatian yang berlebihan tetapi persiapan strategis untuk kepanikan pasar yang tak terelakkan berikutnya.
Alhasil, pada pertengahan tahun 2020-an, dengan pasar yang gelisah, Buffett kembali memegang persediaan kas yang memecahkan rekor.

