CEO BMoney Ungkap Kebiasaan Gen-Z dalam Berinvestasi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Generasi Z menjadi salah satu kelompok investor yang semakin aktif memanfaatkan platform digital untuk berinvestasi. Namun, kemudahan akses tersebut juga menghadirkan tantangan ketika investor pemula langsung memilih instrumen dengan tingkat risiko tinggi tanpa memahami dasar-dasar investasi.
CEO BMoney Angganata Sebastian melihat adanya perubahan perilaku dibandingkan pola investasi generasi sebelumnya. Jika sebelumnya investor cenderung memulai dari instrumen berisiko relatif rendah, investor muda saat ini dinilai lebih tertarik mengejar potensi keuntungan tinggi sejak awal.
"Gen-Z ini saya lihat suka lompat. Baru mau mulai investasi, maunya langsung yang return-nya tinggi, jadinya banyak yang langsung main saham sendiri atau nyari reksa dana saham yang deretan return historisnya paling tinggi," ujar Angganata dalam Podcast Konvergensi bersama Investortrust belum lama ini.
Menurut dia, investor pemula perlu memahami hubungan antara risiko dan potensi keuntungan sebelum menentukan instrumen investasi.
Prinsip tersebut tercermin dalam konsep high risk, high return dan low risk, low return. Semakin tinggi potensi keuntungan yang ditawarkan, semakin besar pula risiko yang perlu dipahami investor.
Waspadai Iming-Iming Keuntungan Pasti
Angganata juga mengingatkan investor agar tidak mudah terbawa Fear of Missing Out (FOMO), terutama ketika melihat konten investasi di media sosial.
Menurut dia, perkembangan media sosial membuat informasi mengenai investasi semakin mudah diakses. Di sisi lain, kemudahan tersebut juga dapat membuat investor mengambil keputusan hanya berdasarkan tren atau iming-iming keuntungan.
Baca Juga
BMoney Bidik AUM Rp 6,5 Triliun, Garap Segmen Affluent dan HNWI
Ia menilai janji investasi dengan keuntungan tinggi dalam waktu singkat dan tanpa risiko perlu dipertanyakan.
"Kalau ada yang menawarkan investasi dengan janji return tinggi, jangka waktu pendek, dan 'pasti untung', itu sudah pasti harus dipertanyakan," kata Angganata.
Ia menambahkan, tidak ada instrumen investasi yang dapat memberikan keuntungan secara pasti.
"Kalau ada manajer investasi yang bilang 'pasti untung', itu dia sudah sama kayak Tuhan. Di dunia nyata tidak ada yang pasti seperti itu," ujarnya.
Angganata menyebut tingkat imbal hasil yang wajar juga berbeda-beda berdasarkan instrumen. Untuk reksa dana pasar uang, misalnya, imbal hasil berada di sekitar 5,5-6 persen bersih per tahun. Sementara obligasi atau instrumen pendapatan tetap berada di sekitar 7 persen per tahun.
Adapun untuk saham atau reksa dana saham, ia menyebut kisaran 10-15 persen per tahun sebagai gambaran return jangka panjang yang perlu dilihat secara hati-hati, bukan sebagai jaminan keuntungan.
Di BMoney, investor Gen-Z menjadi kelompok pengguna terbesar. Dari hampir 1 juta nasabah yang telah terdaftar, sekitar 70-80 persen merupakan Gen-Z.
Angganata mengatakan karakter pengguna muda membuat kemudahan teknologi menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan aplikasi investasi.
"Gen-Z kalau registrasi terlalu ribet langsung batal," katanya.
Karena itu, BMoney sejak awal memperhatikan pengalaman pengguna atau user experience. Bahkan, perusahaan sempat mengukur jumlah tahapan yang harus dilalui pengguna sejak mengunduh aplikasi hingga melakukan transaksi pertama.
Namun, kemudahan akses menurut Angganata perlu berjalan beriringan dengan pemahaman mengenai produk investasi.
"Jangan asal klik, pahami dulu uang kita diputar di mana," ujarnya.
Ia menilai peningkatan literasi keuangan tetap menjadi bagian penting seiring semakin mudahnya masyarakat mengakses produk investasi melalui platform digital.
