OJK Soroti Kebiasaan Menabung Gen Z, Godaan Belanja Online Jadi Tantangan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, kebiasaan menabung di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z, perlu terus diperkuat seiring semakin besarnya tantangan konsumsi di era digital.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan, edukasi keuangan kepada generasi muda tidak cukup hanya mendorong mereka untuk menyimpan uang. Lebih dari itu, generasi muda perlu memahami bahwa menabung harus diarahkan untuk mencapai tujuan finansial tertentu.
“Bagaimana kita membekali generasi muda ini untuk punya pengetahuan tentang manfaat menabung, punya habit menabung, mau menabung, dan tahu nanti dia punya cita-cita apa yang bisa didukung dengan dia menabung,” ujarnya, dalam Puncak Hari Indonesia Menabung (HIM) 2026, di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (28/8/2026).
Menurut Friderica, pola kehidupan generasi muda saat ini berbeda dengan generasi muda. Kemudahan teknologi dan berkembangnya layanan belanja online membuat anak muda menghadapi lebih banyak godaan untuk melakukan konsumsi secara spontan.
“Kalau kita dulu tidak banyak distraksi, paling-paling kalau kita terdistraksi sama es di sekolah. Tapi sekarang ini luar biasa dengan adanya program belanja online dan juga semuanya serba mudah, cepat, juga godaannya itu luar biasa anak sekarang,” katanya.
Friderica menilai, kebiasaan scrolling di media sosial juga dapat mendorong perilaku konsumtif. Kemudahan melakukan transaksi hanya melalui beberapa kali klik membuat generasi muda lebih mudah terdorong untuk membeli barang tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan kemampuan keuangannya.
Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu menjadi perhatian adalah ketika seseorang belum memiliki penghasilan tetapi sudah memiliki kebiasaan berbelanja secara online dan menggunakan fasilitas pembayaran yang belum tetntu sesuai dengan kemampuan finansialnya.
“Kita banyak melihat bagaimana mereka melakukan buy now, tanpa tahu paylater-nya bagaimana,” ucap Friderica.
Baca Juga
Gali Ide Inovatif Gen-Z, Pegadaian Semarang Luncurkan Business Case Competition 2026 di UNNES
Ia mengatakan, produk keuangan seperti buy now paylater (BNPL) pada dasarnya bukan merupakan produk yang buruk. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi finansial konsumen.
“Produk seperti itu (BNPL) sebenarnya bukan produk yang jelek, tapi akan jelek kalau yang menggunakan itu memang belum pantas untuk menggunakan, tidak bijaksana dalam menggunakan. Itu yang tidak bagus,” ujar Friderica.
Oleh karena itu, ia mendorong pelaku usaha jasa keuangan (PUJK) tidak hanya mengejar penggunaan produk keuangan, tapi juga memperhatikan kesiapan dan kemampuan calon konsumennya.
Edukasi dan literasi keuangan, kata Friderica, harus menjadi bagian penting sebelum masyarakat menggunakan produk keuangan tertentu.
Di lain sisi, OJK juga mendorong perubahan pola pikir generasi muda agar menabung menjadi prioritas sebelum membelanjakan uang. Menurutnya, anak muda perlu memiliki kebiasaan untuk menetapkan target tabungan terlebih dahulu sebelum menggunakan sebagian pendapatannya untuk konsumsi.
“Kalau mereka punya uang, yang top of mind-nya mereka nabung dulu, baru sekian persen kalau mau dijajanin atau belanja sesuatu boleh. Tapi sudah sesuai target nabung sekian dulu,” kata Friderica.
Ia menekankan, kemampuan mengelola keuangan sama pentingnya dengan kemampuan akademik. Sebab, pendapatan yang besar sekalipun tidak akan menjamin kondisi finansial yang sehat jika tak diiringi kemampuan mengatur uang.
“Percuma pintar, percuma uangnya banyak, kalau tidak bisa mengelola keuangan. Nanti akhirnya tidak bisa menabung malah end up dengan dengan banyak utang,” ucap Friderica.
