Aset Keuangan Syariah Tembus Rp 3.100 Triliun, OJK Perkuat Sinergi Dukung Asta Cita dan Pemerataan Ekonomi
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem keuangan syariah di Indonesia. Dalam acara Penutupan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (Gerak Syariah) 2026, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyampaikan bahwa capaian Gerak Syariah nasional menunjukkan tren yang sangat luar biasa berkat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari perbankan syariah hingga pasar modal.
Kiki sapaan karib Friderica menyebutkan bahwa potensi syariah di Indonesia sangat besar dan telah menjadi bagian yang mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Indonesia saat ini berhasil memimpin sektor halal dan menempati peringkat ketiga dalam Global Islamic Economy Indicator.
"Dari aspek keuangan syariah, Indonesia berada di peringkat enam dari posisi sepuluh besar untuk aspek bank syariah, asuransi syariah, sukuk, dan dana sosial," ungkap Kiki di Menara Radius Prawiro, Komplek Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Baca Juga
Gerak Syariah 2026 Sukses Besar: Literasi Melejit 31%, Jangkau 8 Juta Orang
Pertumbuhan sektor ini juga dinilai stabil meski di tengah dinamika geopolitik global. Berdasarkan data per Desember 2025, total aset industri keuangan syariah di Indonesia melonjak 8,61% secara tahunan (year on year) menjadi sebesar Rp 3.100 triliun. Angka tersebut mencakup aset perbankan syariah sebesar Rp 1.067 triliun, pasar modal syariah Rp 1.800 triliun, dan industri keuangan non-bank sebesar Rp 188 triliun.
Selain pertumbuhan aset, indikator resiliensi sektor ini terlihat dari penyaluran pembiayaan perbankan syariah yang tumbuh 9,58% menjadi Rp 705 triliun. Kapitalisasi pasar di pasar modal syariah juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 31,4% menjadi Rp 8.900 triliun.
Kiki menekankan bahwa fondasi yang kuat ini menjadi modal penting bagi stabilitas perekonomian nasional. Lebih lanjut, Kiki menyoroti tantangan besar terkait kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi syariah.
Meski literasi masyarakat telah mencapai angka 43%, tingkat inklusinya baru menyentuh 13%. Ia menilai situasi ini cukup ironis karena banyak masyarakat yang sebenarnya sudah memiliki keyakinan terhadap nilai-nilai syariah, namun belum menggunakan produknya secara nyata.
"Kalau kita bicara tentang syariah, mereka tuh udah paham. Mereka yakin mau beli, tapi ketika ditanya produknya, nggak ngerti. Nama POJK-nya nggak semua ngerti. Jadi itu satu yang harus menjadi target kita bagaimana melakukan sosialisasi yang lebih lagi, karena ketika orang punya keyakinan, kenal produknya, kenal instansinya, institusinya, Insyaallah inklusi kita bisa meningkat," tegasnya.
Baca Juga
Untuk menjawab tantangan tersebut, OJK melakukan langkah strategis dengan membentuk departemen khusus yang menangani UMKM dan syariah agar lebih sejalan dengan kebutuhan para pelaku usaha dan masyarakat. Dukungan ini juga mencakup penguatan regulasi bagi pelaku usaha jasa keuangan syariah guna memajukan industri secara menyeluruh dari sisi modal hingga teknologi informasi.
Dalam kesempatan tersebut, Kiki juga menekankan pentingnya menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat. Ia mengingatkan para pelaku usaha agar tidak ada lagi kasus-kasus hukum yang mencederai prinsip syariah.
"Jangan sampai ada kasus lagi di syariah. Karena sangat sedih, orang itu mau melakukan inklusi karena yakin percaya dengan nilai-nilai syariah tapi kemudian ada kasus yang ini mencederai kepercayaan masyarakat terhadap produk syariah," ujarnya.
Dalam kaitannya dengan kebijakan pemerintah, OJK berkomitmen menyelaraskan program pengembangan keuangan syariah dengan Asta Cita Presiden Prabowo. Fokus utamanya meliputi penciptaan lapangan kerja berkualitas, penguatan SDM termasuk perempuan dan pemuda, serta pembangunan dari desa guna memberantas kemiskinan dan menciptakan pemerataan ekonomi.
Sebagai langkah konkret di lapangan, OJK terus menggalakkan program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) di berbagai daerah, termasuk di lingkungan pesantren. Kiki menjelaskan bahwa program ini tidak hanya menyasar santri dan pengajar, tetapi juga masyarakat di sekitar ekosistem tersebut.
"Jadi kita ini tidak hanya memberikan edukasi literasi, tapi langsung mengajak teman-teman pelaku usaha jasa keuangan untuk langsung memberikan inklusi," pungkasnya.

