'Fit and Proper Test' OJK, Adi Budiarso Targetkan Sektor Keuangan Sokong Pertumbuhan Ekonomi 8%
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Komisi XI DPR RI menggelar uji kelayakan atau fit and proper test seleksi calon Anggota Dewan Komisioner (ADK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada hari ini, Rabu (11/3/2026). Salah satu kandidat yang memaparkan visinya adalah Direktur Pengembangan Perbankan Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Adi Budiarso, yang membawa makalah berjudul "Kredibilitas, Kinerja, dan Reputasi OJK Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Inklusif dan Sustainable".
Dalam kesempatan tersebut, Adi menekankan pentingnya peran sektor keuangan sebagai motor penggerak menuju Indonesia Emas 2045. Ia menyoroti bahwa meski regulasi stabilitas telah teruji melalui berbagai krisis, tantangan besar masih ada pada sisi sinergi pengembangan.
"A better Indonesian financial sector is yet to come. Oleh karena itu, untuk men-support pertumbuhan ekonomi 6% sampai 8%, dibutuhkan pengembangan dan penguatan peran sektor jasa keuangan, Pak, khususnya terkait dengan penyediaan dana pembangunan jangka panjang, investasi, dan tabungan masyarakat menuju Indonesia yang lebih sejahtera," ujar Adi.
Baca Juga
Komisi XI Akan Gelar 'Fit and Proper Test' DK OJK, Diputuskan Rabu 11 Maret 2026
Adi menjelaskan bahwa tantangan utama sektor keuangan saat ini terbagi menjadi dua aspek besar, yakni pengembangan dan stabilitas. Ia memberikan penekanan khusus pada inklusi dan efisiensi intermediasi di berbagai lini, mulai dari perbankan hingga pasar kripto.
"Khusus untuk terkait pengembangan, kami akan menekankan pentingnya inklusi keuangan dan efisiensi intermediasi perbankan dan sektor jasa keuangan lainnya seperti pasar uang, pasar modal, pasar kripto, dan pembiayaan lainnya," kata Adi.
Selain infrastruktur pasar, Adi juga menyoroti pentingnya pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di sektor jasa keuangan. Sebagai sosok yang pernah menjabat di CPA Australia, ia melihat kebutuhan mendesak akan peningkatan jumlah tenaga profesional.
"Misalnya, saya pernah menjadi Chairman Advisory Committee CPA Australia selama dua periode, jumlah akuntan Indonesia perlu ditingkatkan. Demikian juga dengan jumlah profesi keuangan yang bekerja di profesional dan juga di dalam perusahaan," tambahnya.
Baca Juga
Dalam hal potensi ekonomi, Adi memaparkan data mengenai bonus demografi Indonesia yang sangat besar. Dengan 211 juta penduduk produktif dan status sebagai anggota G20 dengan GDP US$ 1,42 triliun, potensi pertumbuhan sektor keuangan masih terbuka lebar namun perlu dioptimalkan.
"Namun demikian, perkembangan perbankan, pasar modal, dan asuransi pensiun masih sangat-sangat perlu ditingkatkan. Hal ini terlihat dari saat ini tabungan masyarakat kurang lebih di bawah 40%, Investment per GDP 38%, sementara potensi terbaik kita Bapak-Ibu, tabungan bahkan dana pensiun ini mestinya bisa 60%," jelasnya.
Adi melihat peluang besar pada pendalaman dana pensiun yang saat ini baru berkontribusi sekitar 6-7% terhadap GDP. Ia berambisi membawa angka tersebut setara dengan negara tetangga dalam beberapa dekade mendatang.
"Tadi saya sudah sampaikan untuk dana pensiun dalam 20 tahun ke depan kita bisa saja berpotensi seperti Malaysia saat ini sudah 60% per GDP, berarti akan ada tambahan 10% dari GDP untuk kita kelola dengan lebih baik lagi," tutur Adi.
Terkait literasi keuangan, Adi mengungkapkan adanya kesenjangan yang lebar antara tingkat inklusi dan tingkat pemahaman masyarakat. Ia menargetkan angka inklusi keuangan Indonesia bisa mencapai level tertinggi di regional.
"Kita inklusi keuangan 80,51%, ini angka tahun 2025, peluang kita adalah ke angka 98% sebagaimana ASEAN-5 Bapak Ibu. Nah oleh karena itu kita perlu mendorong peningkatan literasi financial freedom, financial well-being sebagaimana dicanangkan oleh Bapak Presiden dan Queen Maxima dalam pertemuan terakhir," tegasnya.
Menariknya, Adi mengusulkan pendekatan berbasis kearifan lokal untuk memperkuat budaya menabung dan melek finansial di masyarakat Indonesia. Ia memberikan contoh berbagai tradisi nusantara yang memiliki filosofi keuangan yang kuat.
"Saya ingin mendorong bagaimana Indonesia melakukan campaign program literasi dengan berbasis budaya nusantara Bapak Ibu. Di suku Jawa juga ada budaya Lumbung ya, asuransi dana pensiun yang mendukung kesejahteraan hingga sampai usia tua. Di suku Bugis itu ada tradisi Masolo, suku Tolaki ada tradisi Monahu Ndau dan seterusnya," ungkap Adi.
Lebih lanjut, ia menyoroti perlunya perbaikan dalam efisiensi penyaluran kredit domestik yang masih tertinggal dibandingkan negara lain. "Penyaluran kredit dalam negeri ini menunjukkan angka yang masih perlu kita tingkatkan Bapak-Ibu. Di ASEAN-5 bahkan dikomparasi dengan India, angka kita baru sekitar 31,76%, saat ini kurang lebih di 2026 sekitar 37%. Dan ini pertumbuhannya tertahan sejak adanya taper tantrum dan pandemi Covid-19," paparnya.
Lebih jauh, Adi Budiarso menekankan bahwa pasar modal Indonesia harus segera direformasi agar mampu mencapai potensi optimalnya. Ia membandingkan kondisi pasar modal Tanah Air dengan negara lain yang jauh lebih dalam.
"Pasar modal Indonesia saat ini masih di bawah potensi optimalnya. Pasar modal kita ini baru 55,7% per GDP Bapak-Ibu, padahal sudah Rp 15.000 triliun uang yang berputar di sini dan sudah terbaik di Asia Pasifik atau Asia Tenggara maksud kami, dan ini potensinya bisa di atas 100% dari GDP," pungkasnya.

