CEO Investortrust Ungkap Penyebab Sektor Keuangan Syariah Indonesia Tertinggal
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Sektor keuangan syariah Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain, meski ekosistem industri syariah secara umum telah terbentuk dengan baik. Hal ini diungkapkan CEO Investortrust, Primus Dorimulu, saat menanggapi perkembangan industri syariah nasional.
Primus menilai Indonesia sejatinya memiliki fondasi yang kuat dalam pengembangan ekonomi syariah. Berbagai sektor riil berbasis syariah, mulai dari makanan dan minuman, fesyen, hingga pariwisata, disebut telah berkembang pesat, termasuk ekonomi sosial syariah.
“Saya melihat, hal yang positif yang menjadi kekuatan kita adalah ekosistem syariah dinilai sudah terbentuk. Itu sudah jelas terbentuk itu. Industri syariah kita dari makanan dan minuman, fashion semuanya, pariwisata sudah terbentuk. Kemudian ekonomi sosial syariah juga sudah terbentuk,” ujar Primus dalam Kadin Sharia Economic Outlook 2026 di Menara Kadin Indonesia, Rabu (28/1/2026).
Namun, di tengah kemajuan tersebut, sektor keuangan syariah justru belum mampu mengimbangi perkembangan sektor lainnya. Kondisi ini disebut Primus sebagai sebuah paradoks.
“Nah yang masih tertinggal kita adalah keuangan syariah,” imbuhnya.
Ia mencontohkan keberhasilan Bank Syariah Indonesia (BSI) sebagai satu-satunya bank syariah berskala besar yang saat ini mampu bersaing dengan bank konvensional, bahkan dari sisi laba.
BSI dinilai sebagai bank syariah nomor satu di Indonesia dengan laba terbesar, yang mampu mengalahkan bank konvensional. BSI dengan ekosistem bullion bank nya juga telah menjaring nasabah baru, karena produk emas sebagai investasi tradisional lebih melekat pada masyarakat Indonesia.
Meski demikian, menurutnya keberadaan satu bank syariah besar belum cukup untuk memperkuat industri secara keseluruhan.
“Tetapi baru satu, baru satu bank syariah. Kita butuh beberapa bank syariah mengimbangi bank konvensional,” tegasnya.
Primus kemudian memaparkan posisi Indonesia dalam peta global keuangan syariah. Dari sisi total aset keuangan syariah, Indonesia masih berada di peringkat ketujuh dunia.
“Kalau kita lihat keuangan syariah dari sisi aset keuangan syariah kita itu peringkat ke-7. Aset kita baru US$ 150 miliar,” ujarnya.
Angka tersebut jauh tertinggal dibandingkan negara lain seperti Iran dengan aset US$ 1,67 triliun, Arab Saudi lebih dari US$ 1 triliun, Malaysia US$ 682 miliar, hingga Kuwait dan Qatar. Bahkan, dari sisi aset perbankan syariah, posisi Indonesia lebih rendah lagi.
“Kemudian aset perbankan syariah kita malah peringkat 10, kita baru US$ 53 miliar, ini fakta,” kata Primus.
Baca Juga
OJK Catat Kinerja Industri Keuangan Syariah Nasional Tetap Solid hingga November 2025
Lebih lanjut, dia mengungkapkan dua penyebab utama ketertinggalan sektor keuangan syariah Indonesia. Faktor pertama adalah rendahnya daya saing produk keuangan syariah yang dinilai masih kurang kompetitif. Produk dimaksud, dianggap masih berbiaya mahal dibandingkan produk serupa dari bank konvensional.
Penerapan tata kelola perusahaan (good corporate governance/GCG) di bank konvensional juga dinilai lebih tertib dibandingkan bank syariah.
Penyebab kedua adalah rendahnya tingkat literasi keuangan syariah di masyarakat, tertinggal dari tingkat literasi masyarakat terhadap lembaga keuangan konvensional.
Meski demikian, Primus tetap melihat sisi positif dari perkembangan industri syariah secara keseluruhan. Ia menilai pendekatan terhadap industri syariah kini tidak lagi semata-mata bersifat ideologis, melainkan telah menjadi bagian dari gaya hidup dan nilai tambah.
“Positif, tadi pemaparan dari para narasumber bahwa di industri syariah itu tidak lagi dilihat melewati dinding ideologis. Contohnya makanan syariah (halal) sudah dianggap gaya hidup, sudah menjadi value proposition, memiliki nilai-nilai yang tinggi,” kata Primus.
Menurutnya, apabila paradigma tersebut dapat diikuti oleh sektor keuangan syariah, maka Indonesia berpeluang untuk melaju lebih cepat dalam pengembangan industri keuangan syariah.
Primus sendiri mengaku, mengikuti perkembangan sektor keuangan syariah secara konsisten selama lebih dari dua dekade, baik saat berkiprah di Investor Daily - Beritasatu maupun melalui Investortrust yang rutin memberikan penghargaan kepada pelaku industri syariah, khususnya lembaga keuangan syariah.

