Rupiah Kembali Melemah, Terkoreksi 0,15% di Rp 16.808 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah menunjukkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah terdepresiasi 0,15% ke posisi Rp 16.808 per US$ per pukul 10.01 WIB, Selasa (27/1/2026).
Pelemahan juga terpantau terjadi pada sejumlah mata uang negara mitra dagang Indonesia. Yuan China terdepresiasi 0,05%, rupee India melemah 0,36%, dan yen Jepang yang melemah 0,07%, serta peso Filipina yang melemah 0,16%.
Berkebalikan, ringgit Malaysia menguat terhadap dolar AS. Ringgit menguat 0,19%, euro Uni Eropa menguat 0,07%, dan poundsterling Britania Raya menguat 0,10%, serta dolar Singapura menguat 0,07%.
Baca Juga
Rupiah Menguat ke Posisi Rp 16.779 per US$, Sentimen Thomas Djiwandono Gabung ke BI?,
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro mengatakan imbal hasil US Treasury (UST) tenor 10 tahun turun 1,0 bps ke 4,22% (+4,8 bps sejak awal tahun/ytd), level terendah dalam hampir dua minggu terakhir.
Fokus pasar beralih ke keputusan Federal Reserve pada hari Rabu, di tengah spekulasi bahwa Presiden AS, Donald Trump dapat menunjuk Ketua The Fed yang baru pada pekan ini. Selain itu pasar juga memantau risiko penutupan pemerintahan (government shutdown) setelah Partai Demokrat mengancam akan memblokir RUU pendanaan sebesar US$ 1,2 triliun apabila mencakup belanja untuk Keamanan Dalam Negeri.
Andry melihat ketidakpastian perdagangan masih berlanjut setelah Trump kembali menegaskan ancaman tarif 100% terhadap impor dari Kanada yang dikaitkan dengan potensi kesepakatan dengan China. Meskipun pemerintah Kanada meremehkan risiko tersebut.
Dalam pandangan Andry, aliran dana ke aset safe haven mendorong harga emas ke rekor tertinggi di atas US$ 5.100 per ons, mencerminkan tingginya ketidakpastian geopolitik dan fiskal, meskipun kinerja laba perusahaan secara umum masih mendukung.
Baca Juga
Tak Hanya Manchester United Cicipi Kemenangan, Rupiah Juga “Menang” atas Dolar AS
Pasar melihat Trump mengancam akan menaikkan tarif terhadap produk otomotif, kayu, dan farmasi dari Korea Selatan, dengan tarif untuk barang lainnya meningkat dari 15% menjadi 25%, dengan alasan minimnya kemajuan dalam kesepakatan dagang yang diumumkan tahun lalu.
Sementara itu, investor mulai mencermati pertemuan kebijakan Federal Reserve AS selama dua hari yang dimulai hari ini. Meskipun suku bunga diperkirakan tetap tidak berubah, pasar akan mencermati pernyataan Ketua The Fed, Jerome Powell, terutama di tengah meningkatnya tekanan dari Gedung Putih agar suku bunga diturunkan.
Andry melihat pergerakan nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan berada di kisaran Rp 16.735–16.822 per US$.

