Pendapatan Premi Naik, IFG Life Siap Rebut Pasar Asuransi Kesehatan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Asuransi Jiwa IFG (IFG Life) yang merupakan anggota IFG, BUMN holding asuransi, penjaminan, dan investasi menutup Oktober 2025 dengan fundamental bisnis yang semakin sehat.
IFG Life optimistis kinerjanya akan tetap kuat pada tahun-tahun mendatang. “Perusahaan menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari pengelolaan klaim yang lebih efektif hingga percepatan digitalisasi dalam seluruh proses operasional,” ujar Direktur Keuangan IFG Life Ryan Diastana Firman di Jakarta, dikutip Sabtu (15/11/2025).
Performa bisnis yang semakin sehat diperlihatkan dari pendapatan premi konsolidasian yang menunjukkan peningkatan sebesar 8,19% menjadi Rp 5,67 triliun periode Januari–Oktober 2025, dari sebelumnya Rp 5,24 triliun pada periode Januari–Oktober 2024.
Di sisi lain, sejak berdiri pada Oktober 2020, IFG Life telah membayar klaim lebih dari Rp 22,6 triliun kepada lebih dari 450.000 peserta, menegaskan komitmen perusahaan dalam menunaikan kewajiban kepada nasabah secara tepat waktu dan transparan. Selain itu, ekuitas perusahaan menguat 31,43% menjadi Rp 5,04 triliun dibandingkan tahun sebelumnya (Rp 3,84 triliun).
Kinerja positif tersebut turut memperkuat struktur permodalan perusahaan. Risk based capital (RBC) IFG Life tercatat sebesar 217,9%, jauh di atas ketentuan minimum Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 120%. Dengan ekuitas saat ini, IFG Life juga telah memenuhi ambang batas minimum ekuitas industri asuransi jiwa yang ditetapkan oleh OJK, yaitu Rp500 miliar di 2026 dan Rp 1 triliun pada 2028.
Baca Juga
IFG Life Tekankan Pentingnya Punya Proteksi dalam 5 Tahap Kehidupan Berikut
Ryan mengungkapkan bahwa saat ini beberapa perusahaan asuransi mulai menarik diri dari lini asuransi kesehatan. Kondisi tersebut, menurutnya, membuka peluang bagi IFG Life untuk memperbesar pangsa pasar, terutama di tengah tingginya inflasi medis yang berdampak pada meningkatnya beban klaim industri.
“Banyak perusahaan asuransi lain yang mulai keluar dari sektor asuransi kesehatan. Ini menjadi opportunity bagi kami,” katanya.
Ryan menjelaskan bahwa potensi perluasan bisnis di segmen asuransi kesehatan akan dimaksimalkan melalui Mandiri Inhealth. Perusahaan tersebut dinilai memiliki kapasitas dan rekam jejak panjang dalam mengelola produk kesehatan, termasuk memahami berbagai dinamika dan tantangan sektor tersebut.
“Beberapa asuransi, terutama asing, mulai menarik diri karena skala bisnisnya belum tercapai. Sementara Mandiri Inhealth sudah menjadi pemain nomor satu selama bertahun-tahun, sehingga skalanya lebih kuat. Ini peluang yang ingin kami ambil,” katanya.
Sejalan dengan itu, IFG Life juga memperkuat pengelolaan klaim dengan mengutamakan digitalisasi proses bisnis, mengikuti regulasi terbaru dari OJK untuk menjaga stabilitas inflasi medis. Efisiensi biaya kesehatan menjadi fokus utama agar beban klaim dapat lebih terkendali.
“Dari sisi bisnis proses, kami mulai mempercepat digitalisasi. OJK juga tengah menyiapkan regulasi terkait pengendalian inflasi medis. Dari sisi kami, yang terpenting adalah mengelola apa yang bisa dikendalikan, termasuk biaya operasional dan transformasi digital,” pungkas Ryan.
Baca Juga
Bayar Klaim Rp 22,5 Trilun, IFG Life Jaga Kepercayaan Pemegang Polis
Konsolidasi BUMN Asuransi
Di sisi lain, IFG Life menegaskan bahwa perusahaan masih menunggu arahan resmi dari pemegang saham terkait rencana konsolidasi BUMN asuransi yang tengah dikaji Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).
“Kami mengikuti arahan pemegang saham, dalam hal ini IFG. Jadi seperti apa bentuk konsolidasinya nanti dan siapa saja yang akan dikonsolidasikan, kami masih menunggu,” ujar Corporate Secretary IFG Life Gatot Haryadi.
Gatot menjelaskan, hingga kini belum ada gambaran detail mengenai arah konsolidasi maupun entitas mana yang akan digabungkan. Proses konsolidasi lintas perusahaan asuransi, baik jiwa, umum, maupun reasuransi memerlukan waktu panjang serta pertimbangan matang karena melibatkan banyak pemegang saham di setiap perusahaan.
“Terkait bentuk konsolidasinya juga belum ada arahan. Proses ini membutuhkan waktu dan melibatkan banyak pemegang saham,” ujarnya.
Ketika ditanya kemungkinan IFG Life menjadi entitas utama (holding) setelah konsolidasi, Gatot menegaskan pihaknya tidak ingin berspekulasi. “Kita tunggu keputusan pemegang saham,” katanya.
Meski demikian, Gatot memastikan bahwa seluruh arahan yang diberikan Danantara maupun IFG selama ini selalu mengacu pada prinsip tata kelola perusahaan yang sehat dan berorientasi pada penciptaan nilai (value creation). “Intinya, perusahaan harus dikelola secara sehat dan memberikan value creation. Itu yang terus kami jalankan,” ujarnya.
Sebelumnya, Danantara menyampaikan rencana untuk mengkonsolidasikan 15 perusahaan BUMN asuransi menjadi hanya tiga entitas. Rencana konsolidasi ini muncul karena mayoritas BUMN asuransi memiliki kinerja yang kurang optimal.

