Pasar Obligasi Prospektif di 2024, Jenis Unitlink Ini Boleh Dilirik
JAKARTA, investortrust.id - Tahun 2024 diprediksi menjadi tahun yang prospektif bagi pasar obligasi, seiring dengan kemungkinan bank sentral Amerika Serikat atau The Fedyang akan menurunkan suku bunga acuannya.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengatakan, dengan kemungkinan tersebut berpotensi besar dalam mendongkrak kenaikan harga obligasi dan reksadana obligasi.
“Secara teori, penurunan suku bunga akan membuat harga obligasi naik. Atas dasar itulah muncul pandangan bahwa 2024 bisa saja menjadi tahun yang bagus untuk obligasi dan reksadana pendapatan tetap,” ujarnya, dikutip, Kamis (4/11/2023).
Setali tiga uang, Tim Analis Bareksa menyatakan, penurunan suku bunga juga berdampak positif pada rencana ekspansi perusahaan publik. Hal ini umumnya sejalan dengan penguatan di pasar obligasi, terutama surat berharga negara (SBN).
Baca Juga
“Reksadana obligasi pemerintah dapat menjadi pendorong (booster) utama imbal hasil untuk portofolio investasi di tahun pemilu 2024,” tulis Tim Analis Bareksa.
Dengan potensi tersebut, pasar reksadana obligasi diperkirakan prospektif tahun ini. Di sisi yang bersamaan, produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unitlink berbasis reksadana obligasi juga bisa menjadi pilihan lain yang cukup menarik. Karena, selain memberikan imbal hasil investasi, juga memberikan perlindungan asuransi.
Beberapa Jenis Unitlink yang Bisa Dilirik Tahun Ini
Sejumlah perusahaan asuransi menyediakan berbagai jenis produk unitlink yang ditempatkan di beberapa macam instrumen investasi, misalnya cash fund unitlink yang menempatkan investasi di pasar uang seperti deposito berjangka, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan surat utang jangka pendek.
Lalu ada fixed income unitlink, yang investasi reksadananya ditempatkan di efek utang atau obligasi baik pemerintah maupun korporasi, dengan komposisi minimal 80%. Selanjutnya, jenis managed unitlink yaitu investasi reksadana campuran yang dialokasikan ke sejumlah instrumen keuangan seperti deposito, obligasi, pasar uang dan saham.
Baca Juga
Dana Kelolaan dan NAB Reksa Dana Menyusut, OJK Sebutkan Penyebabnya
Terakhir, ada equity unitlink. Dana investasi di jenis ini dialokasikan minimal 80% di reksadana saham, sementara 20% sisanya ditempatkan pada pasar uang.
Melihat potensi pasar obligasi ke depan yang prospektif, masyarakat boleh melirik perusahaan-perusahaan asuransi yang memasarkan unitlink berjenis fixed income unitlink dan managed unitlink. Namun disclaimer, prospek tersebut tidak menjamin kinerja sesungguhnya di masa mendatang.
Terlepas dari itu, ada sejumlah hal yang perlu dipahami jika ingin membeli produk unitlink, antara lain pastikan produk terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), waspadai iming-iming besar, pertimbangkan konsekuensi penggunaan data pribadi, pahami hak dan kewajiban dalam polis, sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan, pilih agen pemasar yang bersertifikat khusus, serta evaluasi polis secara berkala.

