Minat Investasi Emas Melonjak, BSI Dorong Kepemilikan Lewat Program Cicil Emas
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Minat masyarakat terhadap investasi emas terus meroket seiring harganya yang hari ini menembus Rp 2,16 juta per gram. Melihat tren tersebut, PT Bank Syariah Indonesia Tbk atau BSI (BRIS) menghadirkan solusi kepemilikan emas batangan bersertifikasi SNI dengan karatase 99,99% melalui program BSI Cicilan Emas.
Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengungkapkan, tren investasi emas semakin digandrungi karena sifatnya yang intrinsik dan memiliki nilai jangka panjang.
“Saat ini instrumen emas memang digandrungi masyarakat, karena sifatnya yang intrinsik dan memiliki tren yang terus naik dengan lonjakan harga yang meningkat 100% dalam tiga tahun terakhir,” ujarnya, dalam keterangan pers, Rabu (24/9/2025).
Baca Juga
BSI, lanjut Anton, menggandeng produsen emas yang telah berdiri hampir dua dekade yaitu PT Hartadinata Abadi Tbk atau Hartadinata (HRTA) untuk menghadirkan emas batangan eksklusif berlogo BSI melalui seri Emasku BSI. Produk ini telah memiliki sertifikasi SNI, kadar kemurnian 99,99%, serta kesesuaian syariah dari Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI).
“Harga BSI Gold kompetitif dan dapat dilakukan buyback di outlet BSI,” kata Anton.
Ia menjelaskan, harga emas batangan BSI Gold yang ditawarkan hari ini antara lain 1 gram Rp 2.154.600 (Rp 2,15 juta), 2 gram Rp 4.258.600 (Rp 4,26 juta), 5 gram Rp 10.590.700 (Rp 10,59 juta), 10 gram Rp 21.090.400 (Rp 21,09 juta), 25 gram Rp 52.523.700 (Rp 52,52 juta), 50 gram Rp 104.946.300 (Rp 104,95 juta), dan 100 gram Rp 209.740.900 (Rp 209,74 juta).
Baca Juga
Emas Cetak Rekor Baru, Didukung Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Fed
Di lain sisi, pertumbuhan bisnis emas turut berkontribusi positif terhadap kinerja keuangan BSI di kuartal II 2025. Pembiayaan bisnis emas BSI melonjak 88,25% secara year on year (yoy) menjadi Rp 16,88 triliun, terdiri dari pembiayaan cicil emas Rp 9,09 triliun (tumbuh 155,41% yoy) dan gadai emas Rp 7,79 triliun (tumbuh 44,08% yoy).
“Melesatnya pembiayaan emas mendorong pembiayaan konsumer BSI sebesar 16,20% dengan outstanding Rp 162,19 triliun,” ucap Anton.
Kualitas pembiayaan juga terjaga dengan baik, tercermin dari rasio non performing financing (NPF) gross 1,87%. Membaik dibanding periode sebelumnya dan lebih rendah dari rata-rata industri sebesar 2,22%.
“Hal ini membuktikan bahwa investasi emas secara umum aman, mudah namun memberikan investasi yang tinggi kepada nasabah. Untuk itu, BSI terus mengedukasi masyarakat memiliki emas tanpa memberatkan tiap bulan sesuai cashflow pendapatan”, kata Anton.

