Meski Industri Properti Lesu, Pembiayaan KPR Bank Mega Syariah Tumbuh 51% Jadi Rp 344 Miliar per Agustus 2025
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Di tengah lesunya industri properti, Bank Mega Syariah mencatatkan pertumbuhan pembiayaan rumah atau kredit pemilikan rumah (KPR). Per 31 Agustus 2025, pembiayaan rumah lewat produk Flexi Home tumbuh 55,15% secara year on year (yoy) menjadi Rp 344,02 miliar.
Consumer Finance Business Division Head Bank Mega Syariah Raksa Jatnika Budi mengungkapkan, pertumbuhan ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap layanan pembiayaan rumah yang disediakan pihaknya.
“Pertumbuhan positif tersebut tidak lepas dari strategi pengembangan produk yang fleksibel dengan penawaran marjin kompetitif dan tenor panjang hingga 20 tahun,” ujarnya, dalam keterangan pers. Senin (22/9/2025).
Baca Juga
Bank Mega Syariah Dorong Peran Ziswaf untuk Dongkrak Kepercayaan Konsumen
Menurut Raksa, pertumbuhan ini menjadi sinyal positif di tengah lesunya industri properti di Tanah Air. Di mana, data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, penjualan properti residensial di pasar primer pada triwulan II 2025 terkontraksi 3,80% (yoy), setelah pada triwulan I 2025 hanya mampu tumbuh 0,73% (yoy).
Perlambatan juga terlihat dari sisi penyaluran kredit, di mana pertumbuhan kredit properti pada Juli 2025 sebesar 4,3% (yoy), melambat dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 5,5% (yoy).
Dalam mendorong pembiayaan KPR, lanjut Raksa, Bank Mega Syariah mengoptimalkan digitalisasi proses, menerapkan pendekatan berbasis agunan, serta memperkuat kerja sama dengan lebih dari 190 pengembang dan ekosistem CT Corp untuk memperluas jangkauan pasar.
Baca Juga
Selain Flexi Home, pihaknya juga aktif memanfaatkan program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah melalui produk Flexi Sejahtera. Hingga Agustus 2025, outstanding pembiayaan Flexi Sejahtera tercatat lebih dari Rp 50 miliar, tumbuh 18,6% (yoy).
“Kami melihat kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan perumahan berbasis syariah masih sangat besar, sejalan dengan angka backlog perumahan di Indonesia yang mencapai 15 juta unit. Melalui produk Flexi Home dan Flexi Sejahtera, kami berharap nasabah dapat lebih mudah mewujudkan kepemilikan rumah impian,” kata Raksa.
Di tengah kondisi ekonomi yang semakin menantang, ia optimistis Bank Mega Syariah akan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir 2025. “Bank Mega Syariah menargetkan pertumbuhan pembiayaan rumah sebesar 20% pada 2025,” ucap Raksa.

