Konferensi Backbase Asia Pacific 2025 Digelar di Bali, Penerapan AI Perbankan Jadi Sorotan
Poin Penting
|
NUSA DUA, investortrust.id – Puluhan pelaku perbankan digital berkumpul di Bali dalam konferensi Backbase Asia Pacific 2025. Forum ini menjadi arena strategis bagi para bankir membahas masa depan layanan keuangan berbasis teknologi, dengan sorotan utama pada pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).
Baca Juga
DeFi vs Bank Digital: Jepang Jadi Arena Pertarungan Masa Depan Keuangan
Konferensi ini berlangsung di tengah lonjakan signifikan transaksi digital banking di Indonesia, yang menembus Rp 88.000 triliun pada 2024, naik 51% dibanding tahun sebelumnya. Pada paruh pertama 2025, angkanya sudah mencapai Rp47.000 triliun—dua kali lipat dari PDB nasional 2024. Didukung penetrasi smartphone di atas 75% dan keberhasilan infrastruktur pembayaran seperti BI Fast dan QRIS lintas negara, perbankan digital di Indonesia berada di jalur percepatan eksponensial.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, menurut Bayu Prawira Hie, konsultan transformasi digital perbankan, AI kini bukan lagi jargon masa depan. “AI sudah menjadi kebutuhan nyata bagi bank di Indonesia. Tantangannya adalah bagaimana menjembatani ambisi digital dengan realitas operasional agar AI memberi manfaat nyata,” ujarnya kepada investortrust.id di sela konferensi, Kamis (11/9/2025).
Baca Juga
DeFi vs Bank Digital: Jepang Jadi Arena Pertarungan Masa Depan Keuangan
Namun, industri juga dihadapkan pada sejumlah tantangan. Mulai dari keamanan siber, rendahnya literasi digital. Data tahun 2021 menunjukkan, inklusi keuangan masih menyisakan 97 juta orang dewasa tanpa akses perbankan. Saat ini, diperkirakan sekitar 50 juta. Kasus penipuan daring yang merusak kepercayaan publik juga menambah urgensi tata kelola yang lebih kokoh.
“Ke depan, keberhasilan digital banking akan ditentukan oleh enam dimensi utama: data, teknologi, manajemen risiko, kolaborasi, tatanan institusi, dan customer experience,” beber Bayu, yang merupakan lulusan S-3 dalam Manajemen Transformasi Digital dan menyandang gelar dokter itu. Selain sebagai dokter medis, ia juga dikenal sebagai konsultan transformasi digital.
Peluncuran Buku
Menurut Bayu, kehadirannya di konferensi ini menjadi rangkaian penting menjelang acara peluncuran buku terbarunya, AI for Bankers: Panduan Wajib Semua Pemimpin Bank di Indonesia, yang akan diikuti dengan diskusi roundtable eksklusif bersama 32 banker Indonesia 12 September 2025 di Sofitel Nusa Dua, Bali.
Sebagai pemerhati digital risk governance, Bayu menekankan bahwa AI harus diimplementasikan dengan disiplin yang kuat: pemilihan use case yang tepat, data governance yang matang, MLOps (Machine Learning Operations) yang terstandar, serta tata kelola dan etika yang sesuai regulasi. Pendekatan inilah yang menjadi inti dalam bukunya, yang disebut sebagai “panduan wajib” untuk para pemimpin bank di Indonesia.
Konferensi Backbase Asia Pacific 2025 menjadi momentum yang tepat, karena memperlihatkan bagaimana solusi digital banking global dapat dipadukan dengan konteks lokal Indonesia. Diskusi roundtable yang dipimpin Dr. Bayu pada Jumat (12/9/2025) diharapkan menjadi ajang berbagi pengalaman antarbank, sekaligus merumuskan langkah kolektif industri dalam memanfaatkan AI secara aman, efisien, dan bernilai bisnis nyata.
Acara Konferensi dan Peluncuran Buku ini didukung oleh Backbase, Indonesia Economic Forum, dan Investortrust, dan menghadirkan pembahas AI internasional dari Backbase.
Berdasarkan keterangan dari penyelenggara, sedikitnya 32 orang pelaku perbankan digital hadir dalam konferensi itu. Berasal dari sejumlah bank, seperti Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Danamon, Bank CIMB Niaga, Bank BTN, Bank Mega, Bank Sinarmas, Bank Raya, Bank Neo Commerce. Ada kelompok bank syariah, yaitu Bank Syariah Indonesia, Bank BCA Syariah, Bank Nano Syariah. Selain itu, ada juga peserta bank BPD, yaitu Bank Kaltim, Bank Jateng, BPD Bali, Bank Kaltimtara,

