OJK: Target Kredit dalam RBB Tetap Kontributif Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai target pertumbuhan kredit industri perbankan yang disesuaikan atau direvisi dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) masih tetap kontributif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, berdasarkan revisi laporan RBB yang telah disampaikan, sebagian besar bank memang melakukan revisi sebagai penyesuaian terhadap kondisi perekonomian global dan domestik yang saat ini masih penuh dengan dinamika.
Secara umum terdapat penyesuaian target menjadi lebih konservatif ke bawah target dalam RBB hasil revisi. Namun demikian, terdapat beberapa bank yang meningkatkan target pertumbuhan kreditnya.
"OJK menilai bahwa sasaran yang ditetapkan sesuai hasil revisi tersebut masih tetap kontributif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Dian dalam jawaban tertulis Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Agustus 2025, Rabu (10/9/2025).
Kinerja penyaluran kredit nasional tetap tumbuh pada Juli 2025 sebesar 7,03% yoy menjadi Rp 8.043,2 triliun. Di sisi lain, undisbursed loan tumbuh meningkat sebesar 9,52%, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang meningkat sebesar 6,89%. Hal ini mencerminkan adanya kelonggaran tarik kredit di masa depan yang dapat dimanfaatkan oleh debitur dalam melakukan ekspansi usaha.
Selain itu, risiko kredit perbankan tetap terjaga dengan baik, tecermin dari rasio NPL di bawah 3% serta tren coverage pencadangan CKPN yang relatif stabil. Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan masih cukup terjaga dan relatif stabil, dengan AL/DPK dan AL/NCD di atas threshold (10% dan 50%), juga dengan LDR yang baik (melebihi batas bawah 78% namun tidak melampaui batas atas 92%).
"Kondisi demikian mengindikasikan bahwa pada dasarnya perbankan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penyaluran kredit. Namun, kondisi ketidakpastian global dan dinamika domestik menjadi salah satu pendorong utama pendorong pertumbuhan kredit," ungkap Dian.
Lebih lanjut, Dian menyebut, optimisme proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih cukup baik serta percepatan belanja pemerintah diharapkan dapat menarik minat investasi ke domestik dan meningkatkan permintaan kredit. OJK menilai bahwa perlambatan pertumbuhan kredit ini bersifat siklikal dan merupakan pergerakan normal dalam siklus ekonomi dan bukan tanda pelemahan struktural jangka panjang.
Berdasarkan Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) TW III-2025, optimisme terhadap ekspektasi kinerja perbankan ditunjukkan dengan Indeks Ekspektasi Kinerja (IEK) sebesar 83. Optimisme tersebut didorong oleh ekspektasi bahwa kredit masih akan tumbuh seiring dengan meningkatnya permintaan kredit serta didukung dengan usaha bank dalam melakukan ekspansi kredit pada pipeline yang tersedia. Hal ini juga tercermin dari PMI Manufaktur Indonesia yang naik menjadi 51,5 di Agustus 2025 yang menandakan pemulihan aktivitas produksi.
"Dengan demikian, OJK melihat bahwa penyaluran kredit ke depan dengan memantau perkembangan pencapaian penyaluran kredit Triwulan III 2025 akan kembali meningkat dan sesuai dengan target untuk tahun 2025," pungkas Dian.

