Rupiah Ditutup Menguat di Awal Pekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS sebesar Rp 16.255 per Senin (25/8/2025). Menurut data Bloomberg, nilai tukar mata uang garuda di akhir perdagangan tercatat menguat 92 poin atau 0,56% menjadi Rp 16.259 per US$.
Kondisi rupiah di akhir perdagangan Senin (25/8/2025) ini muncul karena beberapa faktor sejak masa pembukaan perdagangan pagi ini. Salah satunya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 0,95% ke level 7.933 pada sesi perdagangan pagi.
Selain itu, imbal hasil SBN tenor 10 tahun turun 2,20 basis poin (bps) ke level 6,34%. Di lain sisi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 1,56 bps ke level 4,27%.
Data Kantor Kepala Ekonom Bank Mandiri mencatat indeks US$ atau DXY naik 0,24% ke level 97,9 dan rupiah menguat ke level Rp 16.248 atau 0,59% per US$. Dari sisi sentimen, sinyal penurunan suku bunga AS sesuai pidato Gubernur the Fed Jerome Powell di Simposium Jackson Hole.
Baca Juga
Bank Indonesia Cuts SRBI Outstanding to Rp720 Trillion to Bolster Market Liquidity
Powell menekankan bahwa keseimbangan risiko kini mulai fokus ke sisi penurunan lapangan kerja, dengan tanda-tanda perlambatan baik dari sisi permintaan maupun penawaran tenaga kerja. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa risiko kenaikan pengangguran dapat muncul secara tiba-tiba melalui gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai perhatian utama saat ini tertuju pada rilis data inflasi, yaitu indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) yang akan dirilis pada hari Jumat. Data ini sangat penting karena merupakan ukuran inflasi yang paling disukai oleh The Fed.
“Jika data PCE menunjukkan angka yang lebih tinggi dari perkiraan, sentimen pasar bisa berubah dan dolar AS berpotensi kembali menguat, menekan rupiah,” ujar Sutopo kepada investortrust.id, Senin (25/8/2025).
Sutopo mengatakan perkiraan rentang perdagangan rupiah memiliki beberapa faktor kunci. Pertama, sentimen pasar terhadap kebijakan The Fed.
Baca Juga
Rupiah Stablecoin Seen as Key to Reducing $7.5 Billion Remittance Costs
“Pasar saat ini memperkirakan probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 bps pada September. Jika sentimen ini tetap positif (yaitu ekspektasi penurunan suku bunga tetap tinggi), dolar AS bisa kembali melemah, memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Sebaliknya, jika ada keraguan, dolar bisa menguat,” kata dia.
Kedua, perhatian akan tertuju pada data-data yang dirilis menjelang rilis data PCE. Ketiga, kebijakan domestik. Kebijakan moneter dan fiskal dari Bank Indonesia dan pemerintah juga akan memengaruhi pergerakan rupiah.
“Berdasarkan pergerakan saat ini dan sentimen yang ada, rentang perdagangan rupiah terhadap dolar AS pada Selasa, 26 Agustus 2025, diperkirakan akan berada di kisaran Rp 16.200 - Rp 16.300 per dolar AS,” jelas dia.

