Sektor Asuransi Terimbas Penurunan Penjualan Otomotif, AAUI Minta Regulator Hadirkan Regulasi yang Adaptif
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menyoroti tantangan yang dihadapi industri asuransi akibat penurunan pembiayaan di sektor otomotif, khususnya selama ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025.
Ketua AAUI Budi Herawan mengungkapkan, kondisi ekonomi yang melemah dan turunnya daya beli masyarakat pasca naiknya tingkat garis kemiskinan turut menekan performa industri otomotif. Hal ini tentunya berdampak langsung pada kinerja asuransi umum, mengingat asuransi kendaraan bermotor menjadi salah satu penyumbang terbesar premi di sektor tersebut.
“Kondisi ekonomi saat ini dalam kondisi rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya). Teman-teman di industri khususnya di lini usaha kendaraan bermotor menyuarakan keluhan, khususnya karena penjualan di GIIAS 2025 sangat turun sekali,” ujarnya, saat ditemui media, di Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Baca Juga
Ketum AAUI Dorong Industri Asuransi Cari Terobosan di Tengah Ketidakpastian Global
Menurut Budi, saat ini para pelaku usaha otomotif termasuk perusahaan pembiayaan terpaksa memberikan berbagai diskon tambahan demi menarik minat konsumen, bahkan hingga 15%-20% dari nilai kendaraan. Hal ini turut memengaruhi margin yang tersedia untuk perlindungan asuransi kendaraan.
“Karena pertumbuhan kendaraan bermotor hanya terjadi di kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Kalau teman-teman di perusahaan pembiayaan memberikan tambahan diskon lagi, misalnya belanja gratis Rp 1 juta dalam satu tahun, bagaimana industri asuransi? Persentase bisa lebih dari 30%,” katanya.
Baca Juga
Co-Payment Scheme Could Cut Health Insurance Premiums by Up to 5%, Says AAUI
Budi menyatakan, pendapatan premi asuransi umum di kuartal I 2025 hanya tumbuh 0.3%. Ia memperkirakan bahwa di kuartal II tahun ini pun tidak akan menunjukkan peningkatan signifikan dibanding tahun sebelumnya. Oleh sebab itu, ia menilai perlunya regulasi yang lebih adaptif untuk mendukung keberlangsungan industri.
“Jadi banyak sekali hal-hal memang yang perlu didukung oleh satu regulasi dan pengawasan yang ketat, dan saya yakin OJK juga mempunyai kewenangan dalam hal ini,” ucap dia.
Budi mendorong seluruh pelaku industri, termasuk perbankan dan perusahaan pembiayaan atau multifinance untuk terus memperkuat berbagai kerja sama, salah satunya melalui kanal bancassurance, agar seluruh sektor dapat tumbuh bersama.
“Marilah kita sama-sama memikirkan industri kita supaya sehat, jangan di perbankan sehat di asuransinya tumbang atau sebaliknya. Kondisi ekonomi ini memang menjadi tantangan bagi kita, dan saya sendiri dari AAUI juga sudah memprediksi hari ini tentunya bagaimana kita bisa tetap tumbuh di tahun 2025,” ujarnya.
AAUI, lanjut Budi, optimis bahwa dengan penguatan regulasi, pengawasan yang adaptif, serta dialog yang insentif antara pelaku usaha dan regulator akan menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ekonomi Indonesia.
“Walaupun World Bank sudah mengumumkan bahwa proyeksi pertumbuhan (ekonomi) Indonesia tidak akan lebih dari 4,8%, tapi kita tetap harus optimis bahwa pemerintah tetap optimis dengan angka (pertumbuhan ekonomi) 5%. Tapi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri kita semua,” kata Budi.

