Optimalkan Pertumbuhan Kredit dan Aset, Bank Mandiri Masuk Nominasi Investortrust Best Bank
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat kinerja keuangan yang solid pada tahun buku 2024 dengan pertumbuhan kredit dan aset signifikan, meski tekanan pada marjin bunga dan rasio efisiensi mulai terasa.
Dilansir dari laporan keuangan 2024 BCA dikutip Investortrust.id, Senin (9/6/2025), total aset Bank Mandiri menanjak 11,2% menjadi Rp 1.877 triliun per 31 Desember 2024, dibanding Rp 1.688 triliun di akhir 2023. Pendorong utama adalah ekspansi penyaluran kredit yang naik 20,7%, dari Rp 1.085 triliun menjadi Rp 1.310 triliun.
“Akselerasi dengan strategi yang tepat telah mendorong pertumbuhan Bank Mandiri yang kuat, sehat dan berkualitas di tahun 2024, sekaligus menjadi modal yang sangat berharga bagi Bank Mandiri untuk mempertahankan dan melanjutkan performa yang baik tersebut di 2025,” kata Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi belum lama ini.
Sumber dana juga menguat, di mana Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,8%, dari Rp 1.242 triliun menjadi Rp 1.326 triliun. Perbankan perseroan memanfaatkan likuiditas tersebut untuk meningkatkan capaian penyaluran kredit, sehingga rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) melonjak dari 86,75% menjadi 98,04%, mendekati batas atas prudent banking.
Baca Juga
Akselerasi Transformasi Hijau, MSCI Naikkan ESG Rating Bank Mandiri Menjadi Skor AA
Di sisi pendapatan, Net Interest Income (NII) Bank Mandiri tumbuh 6,5%, mencapai Rp 75,82 triliun pada 2024, dari Rp 71,22 triliun setahun sebelumnya. Namun, marjin bunga bersih (NIM) sedikit tertekan, turun dari 5,25% menjadi 4,93%, seiring tren penurunan suku bunga acuan global.
Sementara itu, laba bersih perusahaan nyaris flat, bergerak tipis dari Rp 51,09 triliun menjadi Rp 51,13 triliun. Posisi laba operasional juga tetap stabil di angka Rp 62,68 triliun. Rasio biaya terhadap pendapatan operasi (BOPO) melebar dari 51,88% menjadi 56,46%, mengindikasikan efisiensi operasional mulai menurun.
Meski demikian, kualitas aset terus membaik. Rasio NPL Gross terpangkas dari 1,02% menjadi 0,97%, dan Capital Adequacy Ratio (CAR) masih aman di level 20,1% (meski turun dari 21,48%). Return On Assets (ROA) tertekan ke 3,59% dan Return On Equity (ROE) turun dari 27,31%, mencerminkan beban modal dan biaya dana yang meningkat.
Baca Juga
Adapun PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi salah satu nominator Besk Bank untuk kategori Bank Umum - KBMI IV (Modal inti lebih dari Rp 70 triliun) pada ajang Investortrust Bank Award 2025 di Hotel Sultan Jakarta, 25 Juni 2025 mendatang.
Dengan total aset yang mendekati Rp 2.000 triliun serta modal inti jauh di atas Rp 30 triliun, Bank Mandiri resmi berada dalam Kategori Bank Umum Buku IV menurut klasifikasi OJK. Kinerja kuartal I–IV 2024 menunjukkan upaya perseroan untuk memperkuat pangsa pasar kredit korporasi dan ritel, di tengah tantangan suku bunga global dan kompetisi perbankan digital.
Manajemen Bank Mandiri menyatakan akan terus menggenjot efisiensi biaya, memperbaiki margin bunga, serta mendorong pendapatan non-bunga untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.
Data ini juga menunjukkan konsistensi Bank Mandiri dalam menjaga kinerja yang berkualitas, didukung oleh manajemen risiko yang pruden dan strategi ekspansi yang terukur. Kinerja yang positif ini membuat bank tersebut masuk dalam nominasi Best Bank 2025 untuk kategori Bank Umum KBMI IV.
Ajang penghargaan Best Bank 2025 tersebut diselenggarakan oleh Investortrust.id sebagai bentuk apresiasi kepada bank yang memiliki kinerja luar biasa. Penghargaan ini merupakan bagian dari komitmen Investortrust untuk mendorong peningkatan standar kinerja sektor perbankan serta memperkuat peran strategis bank dalam pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Bank Mandiri didirikan pada tanggal 2 Oktober 1998, sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank milik negara - Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Exim dan Bapindo yang digabung menjadi Bank Mandiri. Sejarah keempat bank ini dapat ditelusuri kembali hingga lebih dari 140 tahun, dan bersama-sama mereka telah berkontribusi pada awal sektor perbankan Indonesia.

