Survei Hitachi Vantara: Infrastruktur Data Belum Siap Dukung Penerapan AI di Industri Perbankan, Jasa Keuangan, dan Asuransi
JAKARTA, investortrust.id - Pesatnya adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor perbankan, jasa keuangan, dan asuransi (BFSI) dihadapkan pada tantangan serius berupa belum siapnya infrastruktur data mendukung penerapan AI. Ketidaksiapan itu terutama dari sisi keamanan dan kualitas data.
Hal tersebut mengacu pada laporan terbaru State of Data Infrastructure 2024 yang dirilis Hitachi Vantara, anak perusahaan Hitachi Ltd, yang bergerak di bidang penyimpanan data dan manajemen cloud hybrid.
Vice President & General Manager Asean Hitachi Vantara, Joe Ong mengungkapkan, meskipun banyak lembaga keuangan melakukan investasi dalam AI, infrastruktur data mereka belum cukup matang untuk mendukung teknologi ini.
Baca Juga
Mengapa Artificial Intelligence Ditakutkan Tokoh-Tokoh Dunia
“Hambatan utama dalam keberhasilan AI bukan pada teknologinya, melainkan pada kemampuan untuk mengelola data secara aman, akurat, dan dalam skala besar,” ujar dia dalam keterangan pers, belum lama ini.
Menurut Joe, survei terhadap 231 pemimpin teknologi informasi (TI) dan bisnis global itu menyimpulkan, meskipun 36% responden mengakui pentingnya kualitas data untuk AI, mayoritas tetap lebih fokus pada keamanan data. Alhasil, terjadi kesenjangan dalam kinerja AI dan return on investment (ROI) jangka pendek.
Joe Ong menyatakan, hampir setengah (48%) responden mengakui keamanan data sebagai perhatian utama dalam penerapan AI. Hal itu mencerminkan pentingnya perlindungan terhadap ancaman, baik dari dalam maupun luar organisasi.
Hasil studi itu juga menunjukkan, sebanyak 36% responden mengkhawatirkan risiko kebocoran data akibat AI internal. Sedangkan 38% lainnya khawatir tidak mampu memulihkan data dari serangan ransomware.
Terakhir, meski serangan ransomware menjadi perhatian utama para pemimpin TI di sektor BFSI, 36% menyatakan bahwa kebocoran data akibat kesalahan AI merupakan tiga kekhawatiran teratas mereka, dan 32% khawatir serangan yang didukung AI dapat menyebabkan pelanggaran data.
Joe Ong menjelaskan, risiko utama dalam adopsi AI di sektor keuangan bukan hanya keamanan, tapi juga terkait akurasi data. Ia mencontohkan, jika sebuah chatbot secara tak sengaja mengungkapkan informasi sensitif yang terdapat dalam data pelatihan, hal tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius.
Baca Juga
Berbicara di WEF Davos, Sekjen PBB Serukan Tindakan Nyata Hadapi Masalah Iklim dan Kecerdasan Buatan
“Selain itu, biaya dari jawaban yang salah dapat menimbulkan risiko besar. Jika seseorang mengambil keputusan berdasarkan data yang salah, akan muncul berbagai pertanyaan terkait tanggung jawab hukum,” tutur dia.
Di lain sisi, laporan Hitachi Vantara menyoroti beberapa strategi utama bagi industri keuangan untuk meningkatkan kesiapan infrastruktur data mereka dalam menghadapi tantangan AI. Strategi itu di antaranya melakukan eksperimen yang bertanggung jawab, menjamin keberlanjutan infrastruktur data, penyederhanaan dan integrasi sistem, serta memperkuat ketahanan data dan AI.

