Pembiayaan Bank Mega Syariah Tumbuh 10% Jadi Rp 7,7 Triliun di 2024
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Mega Syariah mencatatkan kinerja positif di tahun lalu, hal ini tercermin dari penyaluran pembiayaannya yang tumbuh 10%, dari Rp 6,99 triliun pada 2023 menjadi Rp 7,7 triliun.
Direktur Utama Bank Mega Syariah Yuwono Waluyo mengungkapkan, salah satu katalis dari naiknya total pembiayaan pihaknya ialah pembiayaan di segmen komersial yang juga tumbuh, yakni 12% secara year on year (yoy) pada 2024.
Pada 2025, lanjutnya, potensi di sektor komersial diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur dan dukungan kebijakan pemerintah dalam mendorong investasi.
“Bank Mega Syariah optimis bahwa tren ini akan membuka lebih banyak peluang pembiayaan bagi sektor komersial, sehingga dapat berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” ujarnya, dalam keterangan pers, Kamis (20/2/2025).
Baca Juga
Ia merinci, mayoritas pembiayaan komersial Bank Mega Syariah tersebut disalurkan ke sektor pendidikan, konstruksi, dan industri pengolahan, dengan porsi masing-masing 11%. Sektor pertambangan dan penggalian memiliki pangsa 8%, lalu sektor kesehatan dan kegiatan sosial 7%. Sementara, untuk pembiayaan di sektor transportasi kontribusinya masih di bawah 1%.
“Maka dari itu, kami menyadari masih banyak peluang yang dapat digarap dari segmen transportasi maupun segmen-segmen lainnya,” kata Yuwono.
Baca Juga
Bank Mega Syariah Salurkan Pembiayaan Rp 165 Miliar ke Solder Tin Andalan Indonesia
Untuk menggenjot pembiayaan dari segmen transportasi, salah satu yang dilakukan Bank Mega Syariah ialah menyalurkan pembiayaan untuk proyek LRT (light rail transit) Jakarta. Pembiayaan rencananya akan digunakan untuk proyek LRT Jakarta Fase 1 B (Velodrome-Manggarai) dengan rentang jalur 6,4 km dengan lima stasiun di dalamnya.
“Kemitraan strategis dengan LRT diharapkan dapat menjadi peluang strategis bagi Bank Mega Syariah untuk merambah pasar dan mendukung pertumbuhan pembiayaan di sektor transportasi,” ucap Yuwono.
Sejalan dengan naiknya pembiayaan, total dana pihak ketiga (DPK) Bank Mega Syariah tumbuh 2,82% (yoy), dengan porsi dana murah atau current account and saving account (CASA) 34,5% dari total DPK. Sehingga, rasio net imbalan (NI) terjaga di level 4,05%, sementara financing to deposit ratio (FDR) berada di angka 77%.
Hal tersebut turut mendongkrak aset bank ini hingga Rp 16,04 triliun atau naik 10,15%. Selain tu, di tahun lalu juga total labanya mencapai Rp 332 miliar pada 2024, tumbuh 6,26% (yoy). Di lain sisi, Bank Mega Syariah juga sukses menjaga kualitas aset, dengan non performing financing (NPF) di bawah 1%.
“Bank Mega Syariah terus mendorong pertumbuhan bisnis di 2025 melalui sinergi pembiayaan untuk proyek strategis, pengembangan pembiayaan ritel dengan pengelolaan risiko yang baik, serta penguatan layanan kepada nasabah,” kata Yuwono.

