Eks Bos Bank Mandiri Agus Martowardojo Ungkap Kunci BMRI Lolos dari Krisis
JAKARTA, investortrust.id - Mantan Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Agus Martowardojo menyatakan bahwa saat krisis melanda Bank Mandiri pada pertengahan 2004 akibat kebocoran laporan keuangan BPK, perusahaan tidak hanya melakukan perbaikan kinerja keuangan, tetapi juga kinerja pelayanan.
Hal itu diungkapkan Agus Martowardojo dalam acara Bedah Buku & Seminar Mega Krisis Bank Mandiri 2005 "Solusi Krisis Kepemimpinan, Strategi Public Relations, Marketing Komunikasi" di Hotel The Westin Jakarta, Rabu (15/1/2025).
"Tadi kita sebelum mulai meeting, kita bicara tentang pelayanan. Itu yang namanya service excellence di Bank Mandiri. Bank yang dibilang bank pemerintah, bank plat merah, bank tidak bisa melayani. Bisa berubah. Service excellence pada saat saya masuk, itu ranking-nya nomor 11," ujar Agus.
Agus menjelaskan, sebelumnya Bank Mandiri tidak pernah masuk 10 terbaik. Namun, dalam waktu satu tahun menjadi nomor tiga, bahkan 20 tahun menjadi nomor satu berkat upaya yang dilakukan tersebut.
"Jadi bank besar tapi bisa luwes untuk memberikan pelayanan sehingga service excellence kita baik. Good corporate governance, kita tingkatkan good corporate governance. Jadi, betul-betul orang hormat sama kita karena kita mempunyai standar kepemimpinan yang kuat, standar tata kelola yang tinggi," ungkap Agus.
"Saya ambil contohnya. Kita belum mengumumkan laporan keuangan bulan Desember tahun 2024. DPR panggil dan DPR bilang, kamu harus datang dan kamu harus laporkan Desember 2024 seperti apa laporannya?. Kita bilang, kita ini perusahaan publik. Kita tidak bisa kasih tahu kepada DPR, karena investor kita ada yang di dalam negeri maupun di luar negeri. Nanti kita dianggap tidak transparan atau memberikan (pemindahan) kepada pihak tertentu, reputasi kita," ujarnya.
Lebih lanjut, Agus menyebut, standar seperti itu membuat reputasi dari institusi itu menjadi kredibel. Menurut Agus, pada saat dirinya masuk di Bank Mandiri, di bagian kredit tidak ada yang mau memproses kredit dan menyetujuinya.
"Padahal bapak/ibu itu tahu ya, kalau diperbankan, hidupnya paling banyak dari penyalurkan kredit. Dan kredit itu kan harus disusun analisanya, rekomendasinya dan harus disetujui. Dan setiap tahun harus dikaji. Ini yang terjadi di Bank Mandiri saat itu, ribuan account tidak diperpanjang karena semua takut menghadapi penegakan hukum," jelas Agus.
Sebagai tambahan informasi, kala itu kondisi non performing loan (NPL) Bank Mandiri lagi-lagi menjadi sorotan ketika berada di level 27% dengan laba yang turun drastis dari Rp 5,2 triliun menjadi Rp 600 miliar.
"Bank itu di tahun 2004, total keuntungan bersihnya Rp 5,2 triliun. Tahun 2005 setelah diaudit, keuntungannya turun sampai tinggal Rp 600 miliar.
Bisa bayangin? Dari Rp 5,2 triliun turun sampai tinggal Rp 600 miliar. Dan kredit bermasalahnya yang tadinya dilaporkan 7%, naik menjadi 27%. Secara neto yang tadinya dilaporkan 1,7%, naik menjadi 15%. Jadi itu adalah situasinya, kondisinya dan pada saat itu semua memanggil. Bukan hanya pemerintah, tapi DPR juga panggil, kita harus menjelaskan ini ada apa dengan Bank Mandiri seperti ini. Nah jadi yang saya ingin sampaikan, kalau disini ada mega krisis Bank Mandiri 2005, ya kurang lebih seperti itu," pungkas Agus.

