Bedah Buku Mega Krisis Bank Mandiri 2005: Agus Martowardojo Ungkap Pentingnya Transformasi Bisnis dan Budaya
JAKARTA, investortrust.id - Kisah sukses PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membuktikan bahwa krisis bukanlah akhir dari segalanya. Dengan strategi yang tepat, komitmen terhadap perubahan, dan fokus pada inovasi, sebuah institusi dapat bangkit lebih kuat.
Kini, Bank Mandiri tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia, tetapi juga simbol transformasi yang sukses di tingkat regional. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi industri perbankan dan sektor lainnya untuk terus berkembang dan beradaptasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Dari krisis menjadi prestasi, itulah cerita Bank Mandiri yang terus bergerak maju untuk masa depan Indonesia yang lebih cerah. Di mana, kisah ini dituangkan dalam sebuah buku berjudul "Mega Krisis Bank Mandiri 2005".
Buku ini mengungkap salah satu episode paling menantang dalam sejarah Bank Mandiri, ketika krisis besar mengguncang reputasi dan operasional bank terbesar di Indonesia pada tahun 2005. Menghadapi badai krisis, kepemimpinan Agus Martowardojo dan strategi public relations (PR) yang tepat menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan publik dan membangun kembali citra perusahaan.
"Saya pada saat itu sebagai direktur utama bersama dengan direksi, mencanangkan bahwa kita perlu ada sense of crisis. Kita perlu melakukan perbaikan, dan perbaikan ini kita sebut sebagai transformasi. Dan kalau kita mau melakukan transformasi yang lengkap, transformasi itu paling tidak harus transformasi bisnis dan transformasi budaya," ujar mantan Direktur Utama Bank Mandiri Agus Martowardojo dalam acara Bedah Buku & Seminar Mega Krisis Bank Mandiri 2005 "Solusi Krisis Kepemimpinan, Strategi Public Relations, Marketing Komunikasi" di Hotel The Westin Jakarta, Rabu (15/1/2025).
Agus menjelaskan, transformasi bisnis harus didukung juga oleh transformasi budaya. Sehingga, jika transformasi bisnis saja yang dilakukan maka akan terjadi kinerja yang tidak berkesinambungan.
"Karena dulu Bank Mandiri yang kita bentuk adalah untuk menghilangkan isu karyawan yang masih senang kalau dikasih hadiah. Disiplin tidak tinggi, birokrasi, tidak dekat dengan market. Jadi ini yang kita mau ubah supaya benar-benar orang ini punya integritas. Jadi transformasi yang kita lakukan adalah transformasi bisnis dan transformasi budaya," ungkap Agus.
Lebih lanjut, ia menyebut, dengan transformasi yang baik, kepemimpinan yang kuat, dan management corporate communication yang baik, kondisi yang bermasalah tersebut bisa di-turnaround lebih cepat dari yang diperkirakan.
"Kita perkirakan perbaikan ini terjadi dalam lima tahun. Kemudian kita udah bagi periodenya. Periode back on track, jadi tiga tahun pertama back on track, tahun keempat outperform the market, tahun kelima shaping the endgame, melesat. Jadi kita sudah rencanakan. Kita jalankan transformasi budaya. Budaya ini kita sosialisasikan ke seluruh organisasi melalui change agent, change leader, sampai change coordinator," jelas Agus.
Di sisi lain, Agus membeberkan bahwa Bank Mandiri pada saat itu punya strategi yang jelas. Yang pertama adalah harus memperbaiki kredit bermasalah dan menerapkan risk management.
Kedua, harus membangun budaya. Baik itu budaya performance management berdasarkan kinerja, organisasi berdasarkan kinerja, membangun budaya yang baru, dan membangun kepemimpinan yang baru.
"Tetapi kita punya strategi ketiga adalah penemlatan bisnis yang kuat di lima segmen terpilih, didukung oleh inovasi dan teknologi. Yang keempat, aliansi strategis. Nah jadi, kita sudah punya visi, kita punya strategi, ini harus dikomunikasikan karena kita mau berjalan," kata Agus Marto yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, Penulis Buku Mega Krisis Bank Mandiri 2005 Iskandar Tumbuan mengungkapkan, buku ini membicarakan dibelakang layar orang-orang komunikasi. Orang-orang yang memang bertekad untuk membangun komunikasi.
"Ada visi-misi dari Pak Agus, dan seluruh pimpinan di Bank Mandiri menjadi leadership yang cukup kuat. Sehingga kami dibawah sebenarnya mendukung, harus jalan, harus sampai informasi itu. Sumber dari internal, sumber dari eksternal, kami gabung," tutur Iskandar.
Saat krisis melanda Bank Mandiri pada pertengahan 2004 akibat kebocoran laporan keuangan BPK, dan reputasi bank mulai goyah, Iskandar memainkan peran penting dalam upaya pemulihan. Periode 2005 hingga 2013 menjadi masa yang tak terlupakan, dimana ia secara aktif mengumpulkan informasi penting dari dalam dan luar bank untuk mendukung strategi pemulihan reputasi.
"Kalau membaca buku ini, nggak ada teori, nggak ada konsep-konsep yang kalau kita belajar di kampus, nggak dapat. Tapi kita belajarnya di lapangan. Mudah-mudahan dengan bahasa yang sederhana, semua bisa mencoba menyampaikannya ke pimpinan seperti apa dan bagaimana menjalankannya," terang Iskandar.
Sebagai tambahan informasi, buku ini menyoroti transformasi strategis yang dipimpin oleh Agus Martowardojo. Dengan pendekatan kepemimpinan yang tangguh, ia membawa Bank Mandiri melewati krisis dengan fokus pada transparansi, komunikasi strategis, dan pengelolaan risiko.
Menyusul masa krisis, Bank Mandiri terus berkembang di bawah kepemimpinan para penerus Agus Martowardojo. Buku ini mengulas bagaimana para pemimpin berikutnya, seperti Zulkifli Zaini hingga Darmawan Junaidi, menjaga keberlanjutan transformasi dan memperkuat posisi Bank Mandiri sebagai institusi keuangan terkemuka.

